KETIKA diskursus bisnis hijau di Indonesia masih didominasi narasi pembangkit listrik dan transisi sektor berat, satu ruang intervensi justru tumbuh dari level paling mikro, rumah tangga. PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (AHI) melalui merek AZKO menjadikan pencahayaan hemat energi sebagai kanal value creation, memadukan model bisnis, penghematan energi, dan mitigasi iklim berbasis konsumsi.
Program AZKO Berbagi Cahaya menjadi wadahnya. Diluncurkan sejak 2017, inisiatif ini menargetkan distribusi 150.000 lampu LED hemat energi kepada 30.000 rumah, 300 sekolah, dan 300 fasilitas publik hingga 2030. Target jangka panjangnya sejajar dengan sustainability roadmap perusahaan dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).
Efisiensi sebagai Produk dan Instrumen Dampak
Direktur AHI Teresa Wibowo menegaskan, narasinya sederhana. Mengganti lampu biasa menjadi LED bisa menurunkan konsumsi listrik hingga 30–40%. “Ini bukan hanya bentuk donasi, tapi cara membangun kebiasaan hemat energi di rumah tangga,” ujarnya.
Baca juga: Alfamidi dan Energi Surya, Retails Mulai Masuk Babak Baru Pengelolaan Emisi
Hingga 2025, AZKO telah menjangkau 30 kota dan 50 fasilitas publik dengan lebih dari 10.000 lampu tersalurkan. Skalanya terus diperluas. Distribusi terakhir menargetkan 450 rumah di sekitar kantor pusat AZKO.
Program ini bukan sekadar aksi sosial. Aksi ini menjadi bagian dari Sustainability Ambitions 2030 perusahaan, tiga pilar People, Environment, Business, yang dikemas dalam kerangka tata kelola ESG.
Bisnis Hijau dan Perubahan Perilaku Konsumen
Model ini memperlihatkan pergeseran paradigma. Bisnis tidak hanya menjual produk, melainkan memengaruhi pola konsumsi. AZKO kini mengalokasikan lebih dari 10% portofolio produknya untuk kategori hemat energi, reduksi limbah, dan material ramah lingkungan. Pada 2030, porsi ini ditargetkan melampaui 20%.
Baca juga: Bank Mandiri Perkuat Ekosistem Energi Terbarukan Indonesia
Diskon 10% untuk seluruh produk lampu pada 2–7 Desember 2025 menjadi instrumen market nudging, strategi mendorong konsumen beralih ke pilihan energi lebih efisien. Lampu LED AZKO telah berlabel hemat energi Kementerian ESDM, memiliki mata pakai 15.000 jam, fitur kenyamanan mata, dan garansi penggantian.
Bagi korporasi, model seperti ini memperkuat loyalitas pelanggan sekaligus membuka jalur reputasi merek di ranah ESG.

Kontribusi Nasional, dari Lampu ke Inventaris Karbon
Dari perspektif kebijakan, program ini memberikan kontribusi terhadap TPB 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) dan TPB 13 (Aksi Iklim). Perusahaan menghitung potensi efisiensi energi hingga 73,8 juta kWh dan penghindaran emisi sekitar 64.206 ton CO₂ sepanjang masa pakai lampu yang didistribusikan.
Dengan kata lain, dukungan kebijakan konsumsi energi rumah tangga menjadi ruang mitigasi yang masih undervalued.
Analisis SustainReview
Sejumlah kebijakan energi nasional cenderung fokus pada sisi suplai. Model AZKO justru memperlihatkan demand-side efficiency sebagai aset bisnis sekaligus alat mitigasi iklim. Untuk investor ESG, model ini relevan karena:
- membangun customer stickiness,
- mengurangi jejak karbon secara terukur, dan
- membuka peluang integrasi ke pasar carbon accounting.
Baca juga: CEO Indonesia Kini Menempatkan ESG sebagai Strategi Inti Bisnis
Namun, keberhasilan model akan bergantung pada dua hal. Transparansi dampak dan penyelarasan dengan skema insentif nasional seperti carbon credit, subsidi efisiensi energi, atau disclosure energi rumah tangga.
Jika intervensi konsumsi energi menjadi bagian kerangka transisi Indonesia, rumah tangga berpotensi menjadi aktor mitigasi baru, dan perusahaan seperti AHI dapat menempati posisi strategis sebagai enablers.
Dalam lanskap bisnis yang makin diukur berdasarkan dampak, AZKO menunjukkan bahwa value creation dapat datang dari hal sekecil lampu, jika dibungkus strategi yang tepat. ***
- Foto: Dok. AZKO – PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk meluncurkan AZKO sebagai mitra peningkatan kualitas hidup rumah tangga di Indonesia. Tonggak komitmen perusahaan membangun solusi berkelanjutan.


