PADA akhir November 2025, Aceh kembali terendam banjir besar. Dari Gayo Lues hingga pesisir Bireuen dan Pidie, air meluap, rumah tergenang, dan jalan-jalan terputus. Di banyak tempat, warga menyebut situasi ini sebagai “banjir tahunan”. Namun gambaran itu semakin tidak relevan. Yang terjadi bukan sekadar banjir musiman. Aceh sedang memasuki fase baru krisis tata air, di mana sistem hidrologinya kehilangan kemampuan alami untuk mengatur air.
Air kini mengalir lebih cepat, lebih kotor, lebih besar volumenya, dan sungai-sungai di Aceh tidak lagi siap menerimanya.
Air Datang Lebih Cepat dari Kapasitas Sungai
Hujan lima hari beruntun yang memicu banjir pekan ini bukan kejadian luar biasa. Pola ini muncul hampir setiap tahun. Yang berubah adalah respons lingkungannya. Curah hujan yang dulunya dapat ditampung tanah dan sungai, kini langsung berubah menjadi limpasan besar.
Dalam konteks hidrologi Aceh, ini berarti satu hal bahwa kemampuan serapan air turun drastis.
Pada banyak DAS, infiltrasi tidak lagi menjadi mekanisme utama. Air tidak meresap, tetapi meluncur.
Baca juga: Perubahan Iklim Makin Parah, Siklus Banjir di Indonesia Kian Cepat
Kondisi tersebut paling terlihat pada DAS Keureuto dan Jambo Aye. Perubahan tata guna lahan dalam tiga dekade terakhir, ekspansi permukiman, lahan terbuka, dan perkebunan, mengubah pola air secara fundamental. Curah hujan yang dulu masih memberi waktu bagi tanah untuk menyerap, kini langsung mendorong debit sungai naik dalam hitungan jam.
Dulu Sungai Menyimpan Air, Sekarang Hanya Mengalirkannya
Banjir di hilir Aceh Utara dan Aceh Timur memperlihatkan lemahnya fungsi penyimpanan air. Sungai-sungai yang dulunya memiliki bantaran lebar, tanah jenuh yang stabil, dan kanal alami untuk meredam debit, kini menghadapi tiga tekanan sekaligus:
- Sedimentasi dari hulu
Erosi di sekitar Danau Laut Tawar dan lereng-lereng Aceh Tengah membuat Sungai Peusangan dan sejumlah sungai lain semakin dangkal. Sungai dangkal berarti sungai yang tidak punya ruang. - Hilangnya rawa dan lahan basah di pesisir
Daerah retensi alami yang dulunya berfungsi sebagai “ruang parkir air” kini tergusur oleh permukiman dan infrastruktur. - Kapasitas tampung sungai menurun
Debit puncak tiba lebih cepat, sementara sungai tidak lagi mampu menyebarkan air ke zona banjir alami.
Baca juga: Banjir Jabodetabek: Rp 1,69 Triliun Melayang, akankah Terulang Lagi?
Akibatnya, ketika hujan turun berturut-turut, air tidak punya tempat untuk menunggu. Air langsung menuju permukiman.

DAS Tamiang: Satu Hujan, Satu Banjir
Wilayah hulu Aceh Tamiang memperlihatkan gejala yang paling ekstrem. Deforestasi membuat tanah kehilangan struktur penahan air. Kajian hidrologi di wilayah ini menunjukkan bahwa hujan harian 100–150 mm, yang secara meteorologis tergolong moderat, sudah cukup memicu banjir besar.
Ini menjelaskan mengapa Aceh Tamiang hampir selalu masuk daftar daerah dengan banjir berulang. Bukan karena hujannya berbeda, tetapi karena sistem yang menyerap air sudah hilang.
Krisis Tata Kelola Sama Besarnya dengan Krisis Lahan
Masalah Aceh bukan hanya biofisik. Tata kelola lingkungan gagal beradaptasi dengan percepatan risiko. Drainase perkotaan tidak terpelihara. Parit desa tersumbat sampah. Pintu air tertutup sedimen. Infrastruktur kecil yang seharusnya menjadi garda pertama mitigasi justru kondisinya paling buruk.
Baca juga: Ada Racun Kimia di Balik Setiap Banjir
Namun Aceh juga punya contoh yang memberi harapan. Beberapa desa hulu, seperti Damaran Baru, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah mengembangkan mekanisme patroli sungai, membersihkan aliran dari longsoran, dan menjaga jalur air tetap bebas hambatan. Langkah kecil, biaya murah, tetapi dampaknya signifikan.
Pendekatan berbasis komunitas ini sejalan dengan praktik pengelolaan DAS modern. Adaptasi tidak harus dimulai dari proyek besar, tapi bisa dimulai dari kelompok warga yang mengenali risiko lebih awal.
Aceh Butuh Restorasi Tata Air, Bukan Sekadar Normalisasi
Banjir adalah gejala, bukan inti persoalan. Intinya ada pada kapasitas tata air Aceh yang terus menurun. Restorasi lahan, perbaikan daerah tangkapan air, rehabilitasi rawa, dan tata kelola drainase harus menjadi prioritas. Jika tidak, setiap musim hujan akan memulai ulang siklus yang sama dan setiap tahun volume air akan datang dengan intensitas yang lebih besar.
Aceh tidak kekurangan data. Yang dibutuhkan adalah transformasi cara kita membaca data itu. Banjir adalah tanda bahwa sistem air kita sedang meminta ditata ulang. ***
- Foto: Dok. BPBA – Banjir melanda kawasan permukiman di Aceh, merendam rumah dan lahan warga setelah hujan berturut-turut memicu luapan sungai.


