Tesso Nilo di Titik Kritis

View from Tesso Nilo national park.

TAMAN Nasional Tesso Nilo (TNTN) kembali menjadi sorotan publik. Bukan hanya karena luasnya yang kini hanya tersisa 12.561 hektare sebagai hutan alami, sekitar 15% dari total kawasan, tetapi juga karena konflik lapangan yang kian terbuka. Perusakan pos pengamanan, pengusiran petugas, hingga penjarahan ribuan bibit rehabilitasi memperlihatkan bagaimana upaya konservasi berada dalam tekanan yang nyata.

Fenomena ini menjadi alarm keras bagi masa depan TNTN, salah satu kantong biodiversitas terkaya di dunia. Para ahli menyebut kawasan ini sebagai “jantung koridor gajah Sumatra.” Jika jantung ini berhenti berdetak, seluruh sistem ekologis di sekitarnya akan kolaps.

Krisis Ekologi yang Berakar pada Konflik Ruang Hidup

Tesso Nilo awalnya ditetapkan untuk melindungi satwa endemik dan hutan dataran rendah tropis yang langka. Namun dalam dua dekade terakhir, kawasan ini tergerus oleh perambahan dan perluasan kebun sawit ilegal. Fragmentasi habitat terjadi cepat. Ruang jelajah gajah Sumatra, harimau, tapir, hingga ratusan spesies burung menyempit drastis.

Pada titik inilah konflik manusia–satwa meningkat. Gajah masuk kebun. Warga merasa terancam. Sementara pemerintah berupaya mempertahankan kawasan konservasi yang fungsinya terus terpotong.

Baca juga: Sawit Ilegal di Kawasan Konservasi, Korporasi Berlindung di Balik Nama Rakyat

“Warga yang tinggal di dalam taman sebenarnya hidup dalam risiko tinggi. Ada gajah, harimau, dan beruang. Keselamatan mereka terancam setiap saat,” kata Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro.

Upaya relokasi pun menjadi opsi yang didorong pemerintah. Tapi program ini menghadapi resistensi, terutama dari kelompok yang sudah terlanjur terikat secara ekonomi dengan lahan di dalam kawasan.

Negara Bergerak, Pemulihan Belum Tuntas

Setelah eskalasi massa pada 21 November 2025, pemerintah mengerahkan 331 personel gabungan. Empat pos pengamanan ditargetkan direbut kembali. Dua pos sudah berhasil diamankan, sementara dua lainnya masih dalam proses.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Relokasi warga, rehabilitasi hulu Sungai Nilo, dan penegakan hukum menjadi tiga pilar utama pemulihan TNTN. Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan lembaga peradilan kini berada dalam satu kerangka koordinasi melalui Tim Percepatan Penanganan Tesso Nilo.

“Peran penegakan hukum sangat krusial. Tanpa itu, hutan sulit dipulihkan, dan konflik akan berulang,” tegas Heru.

Kebijakan ini mendapat dukungan publik. Tagar #SaveTNTN, #SaveTessoNilo, dan #SaveGajahSumatera viral di media sosial. WWF Indonesia menegaskan bahwa jika kawasan pusat koridor gajah hilang, seluruh populasi gajah Sumatra dapat kehilangan jalur migrasi turun-temurun.

Relokasi, Mengatur Ulang Masa Depan

Relokasi tidak hanya ditujukan untuk menjauhkan warga dari kawasan konservasi, tetapi juga memulihkan fungsi ekologis TNTN. Ruang jelajah satwa liar harus dipulihkan. Sungai Nilo harus kembali berfungsi untuk mencegah banjir di hilir. Vegetasi endemik perlu ditanam kembali.

Namun kunci keberhasilan relokasi terletak pada tata kelola sosial, bukan sekadar teknis.

Baca juga: Pesut Mahakam dan Ironi Penyelamatan oleh Orang Asing

Sosialisasi menjadi vital. Pemerintah mengimbau warga hati-hati menerima informasi provokatif. Transparansi dan konsistensi dibutuhkan agar proses berjalan persuasif, bukan koersif.

Induk gajah Sumatra bersama anaknya melintas di jalur alami Tesso Nilo, salah satu kantong habitat utama yang terus tertekan oleh perambahan dan penyempitan ruang jelajah. Foto: WWF.

Tesso Nilo Memerlukan Koalisi Besar

Upaya penyelamatan TNTN tak bisa ditopang satu lembaga. Dibutuhkan sinergi lintas sektor, mulai pemerintah daerah, penegak hukum, organisasi konservasi, akademisi, hingga warga.

Baca juga: Darurat Ekologi, Satwa Liar Sumatera dan Sulawesi Terdesak Perkebunan dan Tambang

Komitmen ini sering disebut namun jarang dijalankan secara konsisten.

Jika Tesso Nilo gagal dipulihkan, Indonesia kehilangan salah satu pusat biodiversitasnya. Jika berhasil, TNTN dapat menjadi contoh bagaimana negeri ini menyelamatkan ekosistem kritis melalui kolaborasi dan tata kelola yang kuat.

Tesso Nilo berada pada titik balik. Pilihannya hanya dua, pulih atau hilang. ***

  • Foto: WWF – Aliran Sungai Nilo membelah hutan hujan dataran rendah Tesso Nilo, salah satu kawasan biodiversitas terpenting di Sumatra yang kini menghadapi tekanan perambahan.
Bagikan