Bunker Nuklir Inggris Tergerus Erosi, Alarm Dini bagi Kebijakan Pesisir Indonesia

SEBUAH bunker nuklir era Perang Dingin di pesisir East Yorkshire, Inggris, kini berada di ambang kehancuran. Bangunan bata merah yang berdiri di tepi tebing itu diperkirakan hanya tinggal menunggu hari sebelum runtuh ke Laut Utara. Penyebabnya bukan konflik geopolitik, melainkan erosi pesisir yang berlangsung cepat dan konsisten.

Ironinya kuat. Struktur yang dirancang untuk bertahan dari ancaman nuklir global justru tak mampu melawan dinamika alam. Garis pantai bergerak. Fondasi terkikis. Negara hanya bisa memberi peringatan. Bagi negara dengan garis pantai panjang seperti Indonesia, peristiwa ini lebih dari sekadar kabar luar negeri.

Otoritas setempat di East Riding of Yorkshire meminta publik menjauhi area tebing yang tererosi, baik dari atas tebing maupun garis pantai, karena risiko longsoran, sebagaimana dilaporkan BBC.

Warisan Perang Dingin yang Tak Pernah Dipakai

Bunker tersebut dikenal sebagai Tunstall ROC Post, bagian dari jaringan Royal Observer Corps yang dibangun pada akhir 1950-an. Fungsinya spesifik, memantau dan mencatat ledakan nuklir jika perang pecah, lalu mengirimkan data ke pusat nasional.

Baca juga: Indonesia Rencanakan Tanggul Laut 700 Km untuk Pertahankan Pesisir Utara Jawa

Fasilitas di dalamnya sangat dasar. Ruang tidur sempit. Sistem hidup minimal. Penghuninya dirancang untuk bertahan dan menunggu. Namun, bunker itu tak pernah digunakan. Ancaman nuklir tak pernah datang. Yang datang justru erosi.

Garis Pantai yang Bergerak Terlalu Cepat

East Yorkshire merupakan salah satu kawasan dengan laju erosi tercepat di Inggris. Badan Lingkungan Hidup Inggris mencatat abrasi rata-rata mencapai sekitar dua meter per tahun. Dalam rentang sejarah panjang, wilayah ini telah kehilangan kilometer daratan dan puluhan permukiman sejak era Romawi.

Bunker nuklir era Perang Dingin di East Yorkshire, Inggris, terancam runtuh akibat erosi pesisir yang terus berlangsung.
Foto: The Mirror
.

Erosi di kawasan Holderness bukan anomali. Tapi, merupakan kombinasi struktur tanah lempung yang rapuh, paparan gelombang Laut Utara, serta perubahan pola cuaca ekstrem. Dalam konteks perubahan iklim, tekanan terhadap pesisir diproyeksikan terus meningkat.

Dilema Kebijakan Pesisir

Kasus bunker Tunstall menyingkap dilema klasik kebijakan adaptasi pesisir. Melindungi seluruh garis pantai tidak realistis secara fiskal. Menyelamatkan satu bangunan di tengah erosi struktural dianggap tidak efisien.

Baca juga: Alarm Kenaikan Air Laut, Kota-kota Pesisir di Ambang Bencana?

Pendekatan yang dipilih otoritas lokal bersifat mitigasi pasif. Tidak ada relokasi. Tidak ada penguatan tebing. Bangunan dibiarkan hilang bersama daratan. Keputusan ini rasional dari sudut pandang anggaran, namun memunculkan pertanyaan tentang nilai warisan, memori kolektif, dan prioritas adaptasi iklim.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Alarm Dini bagi Kebijakan Pesisir Indonesia

Lebih dari sekadar bangunan, bunker ini kini menjadi simbol pergeseran makna ketahanan. Dulu, ketahanan diukur dari kekuatan militer. Kini, ketahanan diuji oleh iklim, geologi, dan tata kelola ruang.

Bagi Indonesia, pelajaran ini relevan dan mendesak. Ribuan kilometer garis pantai menghadapi abrasi, rob, dan kenaikan muka laut. Banyak aset publik, infrastruktur vital, dan situs budaya berada di zona risiko serupa.

Baca juga: Garis Pantai Masa Depan, 0,6 Meter yang Bisa Diselamatkan

Kasus di Inggris menunjukkan bahwa tanpa kebijakan adaptasi pesisir berbasis data dan prioritas yang jelas, pilihan “membiarkan hilang” dapat menjadi pola kebijakan, bukan pengecualian. Ketika bunker Tunstall akhirnya jatuh ke laut, yang tenggelam bukan hanya bata dan beton, tetapi juga peringatan tentang biaya penundaan kebijakan iklim. ***

  • Foto: Ilustrasi/ Septian Dwicahya/ PexelsWilayah pesisir Indonesia dengan aktivitas ekonomi laut yang padat, berada di garis depan risiko abrasi dan kenaikan muka laut akibat perubahan iklim.
Bagikan