COP30 Dibuka di Jantung Amazon, Diplomasi Hijau Dunia Masuki Fase Baru

KONFERENSI Perubahan Iklim PBB COP30 resmi dibuka hari ini di Belém, Brasil, menandai fase baru diplomasi hijau global. Selama dua minggu ke depan, dunia akan menyoroti Amazon, paru-paru bumi yang kian tertekan, sebagai simbol dari harapan dan kegagalan kolektif dalam menghadapi krisis iklim.

Belém, Simbol dan Ujian

Bagi Brasil, COP30 bukan sekadar konferensi. Ini panggung untuk membuktikan bahwa negara dengan hutan terbesar di dunia mampu menyeimbangkan pembangunan dan konservasi. Namun, di balik gegap gempita pembukaan, tantangan riil tak kecil. Deforestasi di Amazon masih meningkat, dan kota Belém sendiri berkejaran dengan waktu menyelesaikan infrastruktur dasar menjelang puncak pertemuan.

Simbolisme ini mencerminkan dilema global. Janji hijau yang sering kali lebih cepat diucapkan daripada dijalankan. Dunia datang ke Amazon bukan hanya untuk bernegosiasi, tapi juga untuk menatap cermin. Melihat sejauh mana kita sudah gagal menepati komitmen Paris Agreement.

Baca juga: Dari Belem, Diplomasi Hijau Dunia Mencari Arah Baru

“Terlalu banyak perusahaan yang meraup keuntungan besar dari kehancuran iklim, menghabiskan miliaran untuk lobi, menipu publik, dan menghambat kemajuan,” ungkap Sekjen PBB António Guterres dalam pidato pembukaan Climate Summit COP30 di Belém.

Ia menegaskan perlunya keberanian moral untuk mengakhiri era penyangkalan dan kompromi kosong.

Agenda Berat: Energi, Hutan, dan Uang

Agenda COP30 tahun ini berputar di tiga poros. Transisi energi berkeadilan (just energy transition), pendanaan iklim, dan perlindungan hutan tropis. Di tengah tekanan ekonomi global, perdebatan soal tanggung jawab dan pembiayaan akan menjadi sorotan utama.

Baca juga: Curupira dan Diplomasi Hijau Brasil di COP30

PBB menargetkan tercapainya kesepakatan tentang Belém Roadmap, peta jalan pembiayaan iklim jangka panjang hingga 2035, dengan nilai ambisius mencapai USD 1,3 triliun per tahun. Dana ini diharapkan mengalir untuk mendukung proyek transisi energi, adaptasi, dan konservasi di negara berkembang.

Peran dan Harapan Indonesia

Bagi Indonesia, COP30 bukan panggung asing. Isu yang diangkat Brasil, deforestasi, transisi energi, dan mekanisme keuangan karbon, adalah refleksi dari perjuangan serupa di Nusantara. Indonesia datang dengan bendera FOLU Net Sink 2030, strategi energi hijau, dan regulasi terbaru tentang nilai ekonomi karbon.

Baca juga: Jun Arima: Gas, Hidrogen, dan CCS Adalah Jalan Rasional Dekarbonisasi Asia Tenggara

Kehadiran Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra konstruktif. Indonesia dan Brasil sama-sama berada di garis depan Selatan Global, menuntut akses yang lebih adil terhadap pendanaan iklim dan transfer teknologi hijau.

Dari Janji ke Aksi

Setelah tiga dekade konferensi iklim, dunia kini dituntut bergeser dari deklarasi ke implementasi. COP30 menjadi ujian kredibilitas bagi seluruh pihak, apakah diplomasi bisa berubah menjadi tindakan nyata, atau kembali terjebak dalam “lingkaran janji” yang dikritik Presiden Lula da Silva.

Baca juga: Target 90 Persen Emisi Uni Eropa, Kompromi Hijau di Tengah Tekanan Ekonomi

Ia mengingatkan bahwa COP30 tidak boleh berakhir sebagai seremoni diplomatik. “Dunia harus berhenti berputar dalam lingkaran janji dan mulai menempuh jalan konkret menuju ekonomi hijau yang berkeadilan,” ujarnya di hadapan delegasi dari lebih 190 negara.

COP30 juga menjadi momen refleksi, masihkah dunia memiliki keberanian politik untuk bertindak sebesar retorika yang diucapkan di podium? ***

  • Foto: Ricardo Stuckert/Kantor Kepresidenan Brasil – Para pemimpin dunia menghadiri sesi tematik pertama Belém Climate Summit di Brasil, rangkaian menuju pembukaan resmi COP30, yang mengangkat tema “Climate and Nature: Forests and Oceans.” Forum ini menyoroti peran hutan dan laut dalam agenda aksi iklim global.
Bagikan