Dari Belem, Diplomasi Hijau Dunia Mencari Arah Baru

Dari jantung Amazon, Brasil mengirim pesan bagi dunia. Saatnya mengubah arah diplomasi iklim dari janji menjadi kolaborasi nyata, demi planet yang mulai kelelahan.

PRESIDEN Brasil Luiz Inacio Lula da Silva kembali menempatkan negaranya di pusat diplomasi iklim dunia. Dalam sebuah seruan global terbaru, Lula meminta seluruh negara untuk mempercepat langkah konkret menghadapi perubahan iklim, bukan sekadar janji politik.

Seruan ini, yang menjadi bagian dari persiapan menuju COP30 di Belem, 10-21 Nobvember 2025, menegaskan urgensi membangun kembali kepercayaan global dan semangat multilateralisme yang kian rapuh.

Seruan dari Selatan Global

Bagi Lula, isu iklim bukan sekadar urusan lingkungan, tetapi juga keadilan sosial. Dalam dokumen yang dirilis oleh pemerintah Brasil, ia menegaskan bahwa perjuangan iklim harus berjalan beriringan dengan pengentasan kemiskinan, pengurangan ketimpangan, dan penghapusan rasisme lingkungan.

“Perubahan iklim adalah masalah manusia,” tegas Lula dalam pesannya, “dan kita tidak akan menyelesaikannya tanpa mengatasi akar ketidakadilan yang membelah dunia.”

Baca juga: Curupira dan Diplomasi Hijau Brasil di COP30

Seruan ini mencerminkan suara Selatan Global yang selama ini merasa tertinggal dalam arsitektur pendanaan dan kebijakan iklim internasional. Lula menyerukan agar negara-negara maju tidak hanya memperbarui komitmen Nationally Determined Contributions (NDC), tetapi juga memastikan ketersediaan pendanaan, alih teknologi, dan penguatan kapasitas bagi negara berkembang.

Adaptasi di Pusat Kebijakan

Brasil menilai agenda adaptasi harus ditempatkan setara dengan mitigasi. Negara-negara rentan, kata Lula, tidak bisa terus menunggu. Pendanaan untuk membangun ketahanan masyarakat, ekosistem, dan ekonomi terhadap dampak iklim harus segera ditingkatkan secara signifikan.

Para pemimpin dunia berfoto bersama di Belem Climate Summit, Brasil, menjelang penyelenggaraan COP30 Amazonia 2025, forum yang diharapkan menjadi titik balik diplomasi hijau dan keadilan iklim global. Foto: COP30.

Poin ini sejalan dengan posisi banyak negara di Global South yang menganggap adaptasi sering kali menjadi “anak tiri” dalam pembiayaan iklim dunia, meski dampak krisis paling berat justru mereka yang menanggung.

Baca juga: COP30 di Belem, Brasil, Menjadi Momen Kritis Aksi Iklim Global

Mekanisme Baru, dari Utang hingga Pasar Karbon

Dalam seruannya, Brasil menawarkan beberapa langkah konkret. Di antaranya peningkatan pembiayaan bagi negara berkembang, pembentukan mekanisme debt swap untuk iklim, dan jadwal terukur untuk penghentian bertahap bahan bakar fosil.

Lula juga mengusulkan pembentukan Climate Change Council yang dapat memperkuat koordinasi global dan transparansi kebijakan, serta perluasan dana khusus untuk pelestarian hutan tropis seperti Tropical Forests Forever Fund, inisiatif yang menegaskan peran Amazon sebagai paru-paru dunia.

Brasil menolak kebijakan perdagangan sepihak yang diklaim “hijau” namun justru menambah beban negara berkembang, serta mendorong kerja sama lebih luas dalam pasar karbon agar benar-benar berdampak terhadap pengurangan emisi global.

Baca juga: Investasi Hijau dan Solidaritas Selatan, Arah Baru Diplomasi Iklim Indonesia di COP30

Inti dari pesan Lula adalah memulihkan kepercayaan antarnegara. Menurutnya, hanya melalui semangat kolektif dan mekanisme multilateral yang kuat, dunia bisa keluar dari kebuntuan iklim yang sudah terlalu lama berlangsung.

Brasil, dengan pengalaman mengelola hutan tropis terbesar di dunia dan ambisi menjadikan COP30 sebagai tonggak baru, tampak ingin mengembalikan energi politik global ke arah kolaborasi.

Di bawah kepemimpinan Lula, diplomasi iklim kembali bukan hanya soal angka dan target, tetapi tentang mengembalikan ruh solidaritas untuk planet yang tengah kelelahan. ***

  • Foto: COP30 – Para pemimpin dunia berpose di Belem Climate Summit, Brasil, setelah menyepakati Deklarasi Belem, langkah awal menuju diplomasi hijau yang lebih inklusif menjelang COP30 Amazonia 2025.
Bagikan