Dekarbonisasi Masuk Fase Realistis, Indonesia Hadapi Ujian Profitabilitas Transisi Energi

Transisi energi global tidak berhenti, tetapi berubah arah. Dari ambisi menuju seleksi berbasis biaya, risiko, dan daya tahan ekonomi.

DUNIA tidak sedang mundur dari dekarbonisasi. Dunia sedang mengubah cara melakukannya.

Sejak 2024, dorongan global untuk menekan emisi memasuki fase baru. Bukan lagi ekspansi berbasis idealisme, melainkan seleksi berbasis realitas ekonomi. Biaya modal naik. Risiko geopolitik meningkat. Dan proyek energi bersih kini diuji dengan satu pertanyaan utama, apakah menguntungkan?

Laporan terbaru dari Japan Research Institute menyebut fase ini sebagai adjustment phase, periode penyesuaian yang akan menentukan proyek mana yang bertahan dan mana yang tertunda.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar tren global. Ini adalah ujian arah kebijakan.

Dari Ambisi ke Profitabilitas

Selama satu dekade terakhir, transisi energi didorong oleh target ambisius, terutama net zero 2050. Namun, realitas baru mengubah dinamika.

Proyek padat modal seperti energi terbarukan skala besar dan hidrogen hijau mulai menghadapi tekanan. Suku bunga tinggi dan inflasi membuat biaya pembiayaan melonjak. Banyak proyek kini ditunda atau direvisi.

Dekarbonisasi tidak berhenti, tetapi beralih ke proyek yang lebih murah, cepat balik modal, dan minim risiko kebijakan.

Baca juga: Dekarbonisasi Fashion Global akan Menguji Industri Tekstil Indonesia

Investasi pun menjadi lebih selektif. Teknologi seperti efisiensi energi, carbon capture and storage (CCS), dan biofuel mulai diprioritaskan. Sementara opsi mahal seperti direct air capture dan bahan bakar sintetis semakin dikritisi.

Modal Bergeser, Risiko Bertambah

Tekanan tidak hanya datang dari sisi biaya. Arah aliran modal global juga berubah.

Investasi kini mengalir lebih deras ke sektor kecerdasan buatan dan pertahanan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Ini memperlambat momentum investasi berbasis ESG yang sebelumnya menjadi tulang punggung pembiayaan transisi energi.

Baca juga: Bangunan Kini Menentukan Arah Dekarbonisasi

Di sisi lain, kebijakan di negara maju semakin tidak pasti. Di Eropa dan Amerika Serikat, muncul gejala green backlash, pengurangan subsidi, perubahan regulasi, hingga proses perizinan yang lebih kompleks.

Instrumen seperti carbon pricing tetap diperketat, termasuk skema seperti Carbon Border Adjustment Mechanism di Uni Eropa. Namun, implementasi yang tidak merata berisiko memicu ketegangan dagang dan carbon leakage.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Adaptasi Naik Kelas

Ketika pengurangan emisi semakin sulit, fokus global mulai bergeser.

Adaptasi iklim, yang selama ini menjadi isu sekunder, kini naik ke garis depan. Investasi mengalir ke infrastruktur tahan bencana, penguatan rantai pasok, hingga produk keuangan berbasis risiko iklim.

Baca juga: Jun Arima: Gas, Hidrogen, dan CCS Adalah Jalan Rasional Dekarbonisasi Asia Tenggara

Perusahaan asuransi di Eropa dan Amerika mulai mengembangkan skema seperti parametric insurance. Di Jepang, kolaborasi antara sektor teknologi dan asuransi mempercepat pengembangan bisnis berbasis adaptasi.

Perubahan ini menandai pergeseran penting. Ketika target emisi semakin sulit dicapai, investasi global mulai bergerak ke adaptasi, terutama di negara berkembang dengan risiko iklim tinggi.

Indonesia di Persimpangan

Bagi Indonesia, fase realistis ini datang di waktu yang krusial.

Di satu sisi, Indonesia memiliki ambisi besar dalam transisi energi. Di sisi lain, banyak proyek masih bergantung pada insentif, pembiayaan campuran, atau dukungan kebijakan yang belum sepenuhnya stabil.

Dalam lanskap baru ini, hanya proyek yang bankable yang akan bertahan.

Baca juga: Northern Lights, Tonggak Baru Dekarbonisasi Industri Berat di Eropa

Tekanan juga datang dari sisi eksternal. Mekanisme seperti CBAM berpotensi memengaruhi daya saing ekspor Indonesia, terutama di sektor berbasis karbon tinggi. Sementara dominasi China dalam rantai pasok energi bersih memperketat kompetisi global.

Kebijakan tidak lagi cukup hanya ambisius. Kebijakan harus presisi, adaptif, dan berbasis realitas pasar.

Mengunci Arah Transisi

Fase ini bukan akhir dari dekarbonisasi. Ini adalah fase penyaringan.

Negara dan perusahaan kini dipaksa memilih, mempertahankan ambisi tanpa dasar ekonomi, atau menyesuaikan strategi agar tetap relevan dan berkelanjutan.

Baca juga: Transisi Energi Indonesia dalam Bayang-bayang Kepentingan Batu Bara

Bagi Indonesia, keseimbangan menjadi kunci. Ambisi tetap penting. Namun tanpa profitabilitas, transisi energi berisiko berhenti di tengah jalan.

Arah transisi ke depan akan ditentukan oleh kemampuan menyatukan tiga hal sekaligus, yakni target iklim, ketahanan energi, dan daya saing ekonomi. ***

  • Foto: Quang Nguyen Vinh/ PexelsPembangkit energi terbarukan skala besar menjadi simbol transisi energi global yang kini memasuki fase lebih selektif, dengan tekanan biaya dan risiko investasi yang meningkat.
Bagikan