SUHU global terus merangkak naik. Di balik angka-angka statistik pemanasan ini, ada satu kelompok yang jarang disorot dengan cukup tegas: 10% orang terkaya di dunia. Bukan hanya konsumsi mereka yang tinggi, tetapi juga pola investasinya yang mendorong emisi gas rumah kaca dalam skala besar.
Studi terbaru yang dimuat dalam Nature Climate Change menyingkap fakta mencengangkan: sejak 1990, dua pertiga pemanasan global ditelusuri berasal dari emisi kelompok ini. Bahkan, 0,1% terkaya — sekitar 800.000 orang — menyumbang 8% dari pemanasan global. Ini adalah bentuk ketimpangan iklim yang nyata.
Ketika Kaya dan Panas Bertemu
Berdasarkan studi tersebut, jika seluruh populasi dunia menghasilkan emisi seperti 10% orang terkaya, suhu global akan meningkat 2,9°C. Jika mengikuti jejak 1% dan 0,1% teratas, kenaikan bisa mencapai 6,7°C dan 12,2°C — angka yang membahayakan keberlangsungan hidup manusia.
Baca juga: Krisis Iklim, Mengapa Kenaikan 2 Derajat Celsius Bisa Mengubah Dunia?
Sebaliknya, jika seluruh dunia beremisi seperti 50% populasi termiskin, pemanasan nyaris tak bertambah sejak 1990. Ironisnya, justru kelompok termiskin itulah yang paling terdampak: kekeringan ekstrem, gelombang panas, dan bencana iklim melanda negara-negara di sekitar khatulistiwa yang rentan dan minim sumber daya.
Dari Gaya Hidup ke Krisis Iklim
Krisis iklim bukan hanya akibat dari emisi kolektif global, tapi juga dari gaya hidup dan keputusan investasi. Sarah Schöngart, peneliti utama studi ini, menyebutkan bahwa kita bisa langsung menghubungkan cuaca ekstrem dengan kebiasaan konsumsi masyarakat kelas atas.
Baca juga: Jejak Karbon Farmasi, Efek Samping yang Jarang Disadari

Dengan memasukkan data emisi berbasis kekayaan ke dalam model iklim, para peneliti mampu memetakan kontribusi ketimpangan terhadap suhu dan kejadian cuaca ekstrem. Hasilnya jelas: ketidakadilan iklim bukan sekadar narasi moral, tapi fakta ilmiah yang bisa dikuantifikasi.
Arah Kebijakan, Pajak Kekayaan, dan Keadilan Iklim
Penelitian ini mendorong wacana yang semakin menguat dalam agenda global: perlunya pajak kekayaan berbasis emisi dan keuangan iklim yang berpihak pada negara-negara berkembang. Jika tidak, dunia akan terus berjalan menuju jurang ketidaksetaraan yang lebih dalam dan pemanasan yang tak terkendali.
Carl-Friedrich Schleussner, rekan penulis studi, menegaskan bahwa intervensi kebijakan iklim yang tidak menyasar kelompok pengemisi tinggi akan gagal. “Kita butuh keberanian politik untuk bertindak adil dalam krisis ini,” ujarnya.
Baca juga: Ironi Private Jet, Emisi Besar dari Segelintir Orang Kaya
Namun, dunia masih jauh dari kata kompak. Beberapa negara maju justru mengurangi kontribusi pendanaan iklim mereka. Padahal, inilah saatnya untuk memastikan transisi berkeadilan, di mana yang paling bertanggung jawab juga menjadi yang paling wajib berkontribusi dalam solusi.
Dampak Nyata, Tanggung Jawab Nyata
Krisis iklim bukan sekadar cerita masa depan — ia terjadi hari ini, dan membunuh secara perlahan. Membiarkan ketimpangan emisi terus terjadi sama saja dengan membiarkan dunia terbakar demi gaya hidup segelintir orang.
Saatnya menggeser sorotan dari “apa yang harus dilakukan” ke “siapa yang harus melakukannya.” Sebab keadilan iklim bukan hanya tentang menyelamatkan planet, tetapi tentang siapa yang layak hidup lebih baik di dalamnya. ***
- Foto: Ilustrasi/ Johannes Plenio/ Pexels.