Kelas Kaya Indonesia Membesar, Kebijakan Hijau Diuji

PETA kekayaan dunia sedang bergeser. Pusat gravitasi lama di Amerika Utara dan Eropa Barat mulai berbagi ruang dengan pasar negara berkembang. Indonesia muncul sebagai salah satu episentrum baru.

Laporan Global Wealth Report Knight Frank menunjukkan jumlah individu dengan kekayaan bersih di atas US$10 juta di Indonesia mencapai 8.120 orang. Angka ini setara 0,3 persen dari populasi individu kaya dunia. Secara global terlihat kecil, tetapi secara struktural signifikan.

Pertumbuhan ini terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik, suku bunga tinggi, dan volatilitas pasar global. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar cerita soal “crazy rich”, melainkan sinyal daya tahan ekonomi domestik.

Membaca Posisi Indonesia di Asia

Di Asia Tenggara, Indonesia berada di papan atas. Singapura tetap memimpin sebagai hub finansial dengan 9.674 HNWI, disusul Thailand (9.192) dan Malaysia (7.490). Indonesia berada di atas Filipina dan Vietnam, dua ekonomi yang juga tengah tumbuh agresif.

Namun kekuatan Indonesia berbeda. Singapura unggul dari stabilitas finansial dan status pusat global. Indonesia bertumpu pada skala ekonomi, pasar domestik besar, dan ekspansi sektor riil.

Baca juga: Jejak Karbon Orang Kaya, 10% Picu 65% Pemanasan Global

Pada level Asia, dominasi masih dipegang China (471.634 HNWI) dan Jepang (122.119). India (85.698) menjadi penantang serius dengan mesin start-up dan teknologi digital. Amerika Serikat tetap penguasa global dengan 905.413 individu kaya, hampir 39 persen populasi HNWI dunia.

Asia diprediksi melampaui Amerika Utara dalam laju penciptaan kekayaan beberapa tahun ke depan. Namun dominasi AS di pasar saham dan inovasi AI belum benar-benar tergoyahkan.

Mesin Pencipta Kekayaan Baru

Ada tiga katalis utama di balik pertumbuhan elite ekonomi Indonesia.

Pertama, resiliensi pasar keuangan dan perdagangan. Kinerja pasar ekuitas dan kenaikan nilai aset alternatif ikut mendorong akumulasi kekayaan.

Baca juga: Ironi Private Jet, Emisi Besar dari Segelintir Orang Kaya

Kedua, ekosistem wirausaha dan start-up. Model bisnis digital memungkinkan ekspansi lintas negara lebih cepat dibanding generasi sebelumnya.

Ketiga, investasi infrastruktur dan arus FDI. Jalan, pelabuhan, kawasan industri, dan energi menjadi fondasi pertumbuhan konsumsi kelas menengah dan peluang bisnis bernilai tinggi.

Faktor-faktor ini menciptakan lapisan kekayaan baru, tidak hanya berbasis warisan, tetapi juga produktivitas ekonomi.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Arah Investasi, Properti hingga ESG

Preferensi investasi elite global juga berubah. Properti tetap menjadi jangkar utama. Sekitar 44 persen family office global berencana menambah alokasi ke sektor ini dalam 18 bulan ke depan. Hunian mewah, logistik, dan sektor living menjadi favorit.

Namun generasi baru membawa orientasi berbeda. Milenial dan Gen Z semakin menempatkan ESG sebagai pertimbangan utama. Sekitar 75 persen dari mereka bersedia membayar lebih untuk produk dan aset ramah lingkungan.

Baca juga: Portofolio Hijau Jadi Primadona Investor Muda dan Kaya

Investasi pada energi terbarukan, mulai dari PLTS hingga penyimpanan baterai, tumbuh pesat. Ini menandai pergeseran dari sekadar perlindungan nilai menuju investasi berkelanjutan jangka panjang.

Head of Research Knight Frank Asia-Pacific, Christine Li, menilai Asia Pasifik tetap adaptif meski menghadapi tekanan suku bunga. “Pertumbuhan ditopang oleh penciptaan kekayaan lokal yang kuat,” ujarnya.

Sementara Head of Global Research Knight Frank, Liam Bailey, menegaskan volatilitas bukan penghalang. “Prospek tetap menarik bagi mereka yang mampu melihat melampaui risiko.”

Implikasi Kebijakan

Bagi Indonesia, tren ini membawa pesan jelas. Transformasi menuju ekonomi digital dan hijau bukan pilihan gaya hidup elite, melainkan prasyarat menjaga keberlanjutan pertumbuhan.

Jika diarahkan dengan kebijakan yang tepat, akumulasi kekayaan bisa menjadi sumber pembiayaan transisi energi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan. Tanpa itu, ia berisiko memperlebar ketimpangan.

Baca juga: Membaca Arah Global Taxonomy, Saat Jakarta dan Brasil Bicara Bahasa yang Sama

Peta kekayaan global sedang berubah. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia ikut di dalamnya, melainkan bagaimana memastikan perubahan ini memberi dampak luas bagi ekonomi nasional. ***

  • Foto: Afif Ramdhasuma/ Pexels – Pusat bisnis Jakarta pada malam hari mencerminkan pertumbuhan kelas kaya Indonesia sekaligus tantangan kebijakan hijau di kawasan urban.
Bagikan