SELAMA puluhan tahun, Gurun Taklamakan identik dengan lanskap tandus. Luasnya sekitar 337.000 kilometer persegi. Lebih dari 95 persen wilayahnya tertutup pasir bergerak. Gurun ini kerap disebut sebagai “kekosongan biologis”.
Kini narasinya berubah.
Penelitian terbaru menunjukkan tepi gurun tersebut mulai berfungsi sebagai penyerap karbon atau carbon sink. Perubahan ini bukan terjadi secara alami. Ini lahir dari intervensi kebijakan yang dirancang hampir lima dekade lalu.
Dari Sabuk Hijau ke Strategi Iklim
Pada 1978, pemerintah China meluncurkan Program Sabuk Perlindungan Tiga Utara, atau yang populer disebut “Tembok Hijau Besar”. Targetnya ambisius, menanam miliaran pohon di wilayah utara hingga 2050.
Program ini dirancang untuk menahan badai pasir, memperlambat penggurunan, dan memulihkan fungsi ekologis lanskap kering. Hingga kini, lebih dari 66 miliar pohon telah ditanam. Pada 2024, sabuk vegetasi yang mengelilingi Taklamakan dinyatakan selesai.
Baca juga: China Bangun ‘Tembok Raksasa’ Energi Surya di Gurun Kubuqi
Dampaknya terlihat pada skala nasional. Tutupan hutan China meningkat dari sekitar 10 persen pada 1949 menjadi lebih dari 25 persen saat ini. Namun temuan terbaru menambah dimensi baru, fungsi karbon.
Data 25 Tahun dan Sinyal Penyerapan CO2
Studi yang mengamati 25 tahun data lapangan dan satelit menemukan peningkatan vegetasi signifikan di sepanjang tepi gurun. Parameter yang dianalisis mencakup curah hujan, fotosintesis, tutupan lahan, hingga aliran CO2.
Peneliti juga memanfaatkan model Carbon Tracker milik NOAA untuk memetakan sumber dan penyerap karbon secara global.
Baca juga: China Bangun Ladang Surya Lepas Pantai 1 GW, Terbesar di Dunia
Hasilnya konsisten. Pada musim basah Juli–September, curah hujan tercatat 2,5 kali lebih tinggi dibanding musim kering. Vegetasi tumbuh. Fotosintesis meningkat. Konsentrasi CO2 di atas gurun turun dari 416 ppm pada musim kering menjadi 413 ppm saat musim basah.
Artinya jelas. Tepi Taklamakan menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskan.

Salah satu penulis studi, Yuk Yung, menyebut temuan ini sebagai bukti bahwa intervensi manusia mampu meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering ekstrem. Ia menekankan potensi transformasi gurun menjadi penyerap karbon, sebagaimana dikutip oleh Live Science.
Pelajaran Kebijakan untuk Negara Tropis
Temuan ini membuka ruang refleksi kebijakan.
Pertama, intervensi lanskap skala besar membutuhkan konsistensi lintas dekade. Program dimulai 1978, tetapi hasil karbon baru terukur signifikan setelah seperempat abad observasi.
Kedua, fungsi ekologis tidak berdiri sendiri. Reforestasi di tepi gurun meningkatkan kelembapan mikro, memperbaiki siklus air, dan menekan penggurunan. Dampaknya sistemik.
Ketiga, desain kebijakan harus berbasis data jangka panjang. Penggunaan citra satelit, pemodelan karbon, dan pemantauan musiman menjadi fondasi validasi.
Baca juga: Ekosistem Rebound di Sungai Yangtze, Cermin Kebijakan bagi Sungai-sungai Indonesia
Bagi Indonesia, pelajaran ini relevan. Kita menghadapi degradasi lahan kering, deforestasi, dan tekanan iklim. Program rehabilitasi hutan dan lahan sering dinilai dari luas tanam, bukan dari kinerja karbon dan fungsi ekosistem jangka panjang.
Kasus Taklamakan menunjukkan bahwa lanskap ekstrem pun dapat direkayasa ulang secara ekologis. Namun syaratnya jelas, konsistensi politik, pembiayaan stabil, dan sistem monitoring kredibel.
Transformasi gurun China belum sepenuhnya menutup debat soal efektivitas pengurangan badai pasir. Namun, sebagai model carbon sink di wilayah kering, ini memberi preseden baru. ***
- Foto: NASA Earth Observatory / USGS Landsat – Citra satelit memperlihatkan aliran Black Jade River dan White Jade River di tepi Gurun Taklamakan. Vegetasi riparian berkembang mengikuti pola hidrologi dan membentuk zona hijau yang berpotensi meningkatkan penyerapan karbon di lanskap kering ekstrem.
SustainReview.ID – Data untuk kebijakan. Narasi untuk perubahan.


