PLASTIK sekali pakai tidak lagi sekadar persoalan sampah. Tapi, telah bergeser menjadi isu kesehatan publik dan tata kelola lingkungan. Air minum dalam kemasan (AMDK), yang selama ini dipersepsikan aman dan praktis, kini berada di pusat perdebatan baru, paparan mikroplastik dalam tubuh manusia.
Dalam satu dekade terakhir, konsumsi AMDK meningkat pesat, terutama di negara berkembang dengan akses air minum layak yang belum merata. Indonesia termasuk di dalamnya. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kenyamanan ini datang dengan harga yang tidak murah.
Risiko yang Tak Terlihat
Sebuah tinjauan ilmiah yang mengompilasi lebih dari 140 publikasi internasional mengungkap temuan yang mengkhawatirkan. Individu yang mengandalkan air minum dalam botol plastik tercatat dapat menelan lebih dari 90.000 partikel mikroplastik per tahun. Angka ini melonjak tajam dibandingkan mereka yang mengonsumsi air keran, dengan paparan sekitar 4.000 partikel per tahun.
Baca juga: Panas dan Mikroplastik, Perang Kecil di Dalam Tubuh Manusia
Sebagai pembanding, rata-rata paparan mikroplastik global berada di kisaran 39.000–52.000 partikel per orang per tahun. Data ini memperlihatkan bahwa sumber air minum memainkan peran krusial dalam menentukan tingkat paparan mikroplastik pada manusia.
Mikroplastik sendiri merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil, mulai dari sepersejuta meter hingga lima milimeter. Partikel ini semakin mudah masuk ke rantai konsumsi manusia melalui air, makanan, dan udara.
Paparan dalam Skala Harian
Peneliti dari Universitas Concordia, Kanada, menjelaskan bahwa botol plastik dapat melepaskan mikroplastik sepanjang siklus hidupnya. Proses produksi, penyimpanan, distribusi, hingga paparan panas dan sinar matahari mempercepat degradasi material plastik. Akibatnya, partikel-partikel halus terlepas dan bercampur dengan air yang dikonsumsi.

Sarah Sajedi, penulis utama tinjauan yang dipublikasikan dalam Journal of Hazardous Materials pada November 2025, menegaskan bahwa air kemasan seharusnya diposisikan sebagai pilihan darurat. Konsumsi sesekali dinilai relatif aman. Namun, penggunaan harian meningkatkan risiko paparan jangka panjang yang belum sepenuhnya dipahami.
Baca juga: Studi Greenpeace-UI: Mikroplastik Mengancam Fungsi Otak
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik tidak berhenti di saluran pencernaan. Partikel ini berpotensi menembus aliran darah dan mencapai organ vital, memicu peradangan kronis, gangguan hormon, stres sel, hingga risiko penyakit degeneratif.
Kekosongan Standar Global
Meski bukti ilmiah kian menguat, respons kebijakan global berjalan tertatih. Para peneliti menyoroti keterbatasan metode deteksi mikro dan nanoplastik. Instrumen yang ada belum mampu secara konsisten mengidentifikasi partikel terkecil, sehingga data paparan sulit dibandingkan lintas negara.
Baca juga: BPA dalam Kemasan Plastik, Ancaman Global yang Mulai Ditekan
Karena itu, komunitas ilmiah mendesak pengembangan standar pengujian global untuk mikroplastik dalam air minum. Tanpa standar ini, regulasi cenderung reaktif dan tidak berbasis risiko yang terukur.
Transisi di Luar Plastik
Solusi jangka panjang tidak cukup berhenti pada pembatasan produk plastik. Investasi pada infrastruktur air bersih, sistem filtrasi publik, dan peningkatan kepercayaan terhadap air minum non-kemasan menjadi strategi kunci. Beberapa wilayah wisata di Indonesia bahkan mulai membatasi penggunaan botol plastik sekali pakai sebagai bagian dari kebijakan lingkungan lokal.
Baca juga: Hujan Mikroplastik di Jakarta, Bukti Gagalnya Transisi Sampah Kota
Isu mikroplastik dalam air minum pada akhirnya mengajukan pertanyaan strategis bagi pembuat kebijakan, apakah sistem konsumsi air saat ini sejalan dengan tujuan kesehatan publik dan keberlanjutan? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan air dan plastik dalam dekade mendatang. ***
- Foto: Ilustrasi/ Junchen Zhou/ Pexels – Distribusi air minum kemasan dalam skala besar mencerminkan ketergantungan sistemik pada plastik sekali pakai.


