Target 90 Persen Emisi Uni Eropa, Kompromi Hijau di Tengah Tekanan Ekonomi

Jelang COP30 di Brasil, Uni Eropa mengumumkan target ambisius untuk menurunkan emisi hingga 90 persen pada 2040. Tapi di balik angka besar itu, tersimpan ruang kompromi politik yang bisa menguji kredibilitas kepemimpinan iklim Eropa.

UNI Eropa akhirnya mencapai kata sepakat. Setelah perundingan panjang dan alot, para menteri iklim dari 27 negara anggota menyetujui target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 90 persen pada 2040 dibandingkan tingkat 1990. Kesepakatan yang diumumkan jelang KTT Iklim PBB COP30 di Brasil itu menjadi sinyal politik penting, meski dibarengi sejumlah kompromi yang mengundang perdebatan.

Kompromi dalam Angka

Di atas kertas, target 90 persen tampak ambisius. Namun, Uni Eropa membuka ruang kelonggaran. Negara anggota boleh menggunakan kredit karbon internasional hingga 5 persen dari total pengurangan, artinya pengurangan emisi riil di dalam Eropa hanya sekitar 85 persen. Bahkan, terdapat opsi tambahan untuk menggunakan kredit 5 persen lagi di masa depan, yang akan menurunkan pengurangan domestik menjadi sekitar 80 persen.

Baca juga: Uni Eropa Longgarkan Target Iklim 2040, Negara Berkembang Masuk Radar Kredit Karbon

Selain itu, ditetapkan target antara 2035 dengan kisaran 66,25–72,5 persen. PBB menekankan agar seluruh negara menyerahkan rencana iklim 2035 mereka sebelum COP30 dibuka pada 6 November 2025.

Politik, Bukan Sekadar Sains

“Menetapkan target iklim bukan sekadar memilih angka, tetapi keputusan politik dengan konsekuensi besar bagi seluruh benua,” ujar Menteri Iklim Denmark, Lars Aagaard.

Pernyataan itu mencerminkan dilema klasik, bagaimana menyeimbangkan ambisi iklim dengan realitas ekonomi dan sosial. Sejumlah negara seperti Polandia, Slovakia, dan Hungaria menolak target 2040 karena khawatir kehilangan daya saing industri. Namun, penolakan itu tak cukup besar untuk menggagalkan kesepakatan, yang hanya memerlukan dukungan minimal 15 negara dari 27 anggota.

Baca juga: Target Emisi Uni Eropa 2040, Keberlanjutan atau Kompromi?

Untuk meredam resistensi, Uni Eropa juga sepakat menunda peluncuran pasar karbon baru dari rencana semula 2027 menjadi 2028. Langkah ini memberi waktu tambahan bagi sektor industri untuk beradaptasi.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Sains vs Politik

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dijadwalkan mempresentasikan hasil kesepakatan ini kepada para pemimpin dunia.

Komisi Eropa sebelumnya mengusulkan pengurangan 90 persen dengan maksimal 3 persen kredit karbon, sesuai rekomendasi Dewan Penasihat Ilmiah Uni Eropa. Kelompok ilmuwan menilai pembelian kredit asing dapat “mengalihkan investasi dari industri hijau domestik”, memperlambat transisi energi bersih di kawasan.

Baca juga: Uni Eropa di Persimpangan, Menjaga Regulasi Hijau atau Menyederhanakan Aturan?

Namun, tekanan politik dari negara-negara besar seperti Prancis, Portugal, dan Italia mengubah peta negosiasi. Prancis dan Portugal meminta batas 5 persen, sementara Italia dan Polandia mendorong hingga 10 persen. Di sisi lain, negara seperti Spanyol, Belanda, dan Swedia tetap mendesak agar target tinggi dipertahankan, melihat dampak nyata cuaca ekstrem dan potensi teknologi hijau sebagai mesin ekonomi baru.

Dua Eropa dalam Satu Meja

Konflik kepentingan ini menandakan adanya dua wajah Eropa. Satu yang siap mempercepat transisi menuju ekonomi hijau, dan satu lagi yang masih tersandera biaya energi serta ketergantungan pada bahan bakar fosil. “Kami tidak ingin menghancurkan ekonomi. Kami juga tidak ingin menghancurkan iklim. Kami ingin menyelamatkan keduanya,” ujar Wakil Menteri Iklim Polandia, Krzysztof Bolesta, seperti dikutip Reuters.

Baca juga: EU Desk, Babak Baru Investasi Berkelanjutan Uni Eropa di Indonesia

Kutipan itu mencerminkan tantangan utama Uni Eropa di era pasca-Green Deal. Menjaga momentum transisi tanpa menciptakan kesenjangan baru antarnegara anggota.

Jelang COP30 di Brasil, kesepakatan ini menunjukkan Eropa masih ingin memimpin panggung iklim global, namun dengan kompromi yang semakin realistis, bahkan pragmatis. Pertanyaannya kini, apakah dunia akan melihat langkah ini sebagai kemajuan, atau justru kemunduran berselubung hijau? ***

  • Foto: Dušan Cvetanović/ PexelsBendera Uni Eropa berkibar di bawah langit mendung. Kesepakatan baru target emisi 2040 menandai ambisi Eropa memimpin aksi iklim global, meski diwarnai kompromi politik.
Bagikan