World Tourism Day 2025, Indonesia di Persimpangan Transformasi Pariwisata Berkelanjutan

HARI ini, 27 September, dunia memperingati World Tourism Day (Hari Pariwisata Sedunia) dengan tema “Tourism and Sustainable Transformation”. Tema ini menegaskan perlunya transformasi sektor pariwisata agar tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan kunjungan, tetapi juga penggerak pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan lingkungan, kualitas pengalaman wisata, dan kesejahteraan komunitas.

Bagi Indonesia, momentum ini datang di saat yang penting. Sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau dan keragaman budaya, Indonesia memiliki modal besar untuk memimpin praktik pariwisata berkelanjutan di Asia Tenggara. Namun, pesatnya pertumbuhan sektor ini juga memunculkan tantangan. Di banyak destinasi, pariwisata yang tidak dikelola dengan prinsip keberlanjutan justru memperburuk degradasi lingkungan dan memperlebar ketimpangan sosial.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan sektor ini menyumbang hampir 4 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 12 juta pekerja. Namun, kontribusi itu tidak datang tanpa harga. Destinasi populer seperti Bali, Labuan Bajo, dan Raja Ampat menghadapi tekanan besar akibat pembangunan yang sering mengabaikan daya dukung lingkungan dan praktik pariwisata massal.

Menata Ulang Arah Pembangunan

Indonesia telah menetapkan lima Destinasi Super Prioritas, yakni Borobudur, Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang, sebagai motor pertumbuhan baru. Namun, percepatan pembangunan di destinasi tersebut memunculkan pertanyaan, sejauh mana pembangunan itu sudah sesuai dengan prinsip ESG (Environmental, Social, Governance)? Masalah pengelolaan sampah, ancaman terhadap terumbu karang, hingga risiko marginalisasi masyarakat adat masih menjadi catatan penting.

Baca juga: 5 Destinasi Andalan Pariwisata Indonesia

World Tourism Day tahun ini menjadi panggilan untuk mengubah arah. Pemerintah mendorong pergeseran dari wisata massal menuju wisata berkualitas dan berkelanjutan. Langkah seperti pengembangan skema carbon offset bagi wisatawan mancanegara, sertifikasi hijau untuk hotel dan resort, serta penguatan ekonomi sirkular di desa wisata mulai diperkenalkan. Namun, implementasinya di lapangan masih sporadis dan memerlukan komitmen lebih serius dari berbagai pihak.

Mentari senja di Sabang, Aceh. Pesona alam bahari Indonesia yang menjadi daya tarik wisata dan pengingat pentingnya menjaga keberlanjutan. Foto: Muhammad Rafli/ Pexels

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai tema “Tourism and Sustainable Transformation” yang diusung United Nations Tourism sejalan dengan arah pembangunan pariwisata Indonesia. “Semoga peringatan tahun ini memberikan kita semangat untuk terus tumbuh, dengan berkualitas dan berkelanjutan,” ujarnya dalam video yang diunggah di akun Instagram pribadinya.

Baca juga: Bayang-bayang Overtourism, Mampukah Bali Temukan Jalan Pariwisata Berkelanjutan?

Pernyataan itu menegaskan arah kebijakan pemerintah, meski tantangan sesungguhnya adalah memastikan komitmen tersebut diwujudkan di lapangan. Menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi pariwisata dengan pelestarian alam, pemberdayaan komunitas lokal, dan ketahanan menghadapi krisis iklim.

Inspirasi dari Komunitas Lokal

Indonesia memiliki pengalaman unik dalam memanfaatkan pariwisata sebagai alat pembangunan sosial. Di Aceh, yang pernah dilanda konflik, pengembangan ekowisata dan desa wisata menjadi bagian dari proses rekonsiliasi pascaperjanjian damai. Di Maluku, wisata bahari membuka ruang perjumpaan antarbudaya yang membantu memulihkan kepercayaan masyarakat.

Baca juga: Ketika Geopark di Indonesia Jadi Lahan Perebutan

Namun, tantangan masa depan tidak ringan. Laporan Bank Dunia (2024) memperkirakan hingga 70 persen destinasi pantai tropis akan terancam kenaikan muka laut dalam dua hingga tiga dekade ke depan. Dengan ribuan pulau yang ekonominya bergantung pada wisata bahari, Indonesia perlu memperkuat strategi adaptasi iklim. Investasi hijau dan perlindungan ekosistem pesisir menjadi keharusan jika ingin memastikan masa depan sektor ini.

Laut biru Kepulauan Gura Ici, Maluku Utara. Salah satu mutiara bahari Indonesia yang potensinya besar untuk wisata berbasis konservasi dan keberlanjutan. Foto: reyginawisataindonesia.

World Tourism Day 2025 menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak boleh hanya dipandang sebagai mesin devisa. Pariwisata harus menjadi sarana untuk merawat bumi, memperkuat inklusi sosial, dan mendorong transformasi menuju pembangunan yang berkelanjutan.

Baca juga: DAS Ayung Kritis, Bagaimana Bali Menjaga Pulau Kecil dari Dampak Iklim Besar?

Indonesia memiliki modal besar untuk memimpin praktik sustainable tourism di kawasan, tetapi keberhasilan itu hanya akan terwujud jika ada sinergi antara kebijakan publik, investasi berorientasi ESG, dan partisipasi komunitas lokal.

Seperti yang ditegaskan Sekretaris Jenderal UNWTO Zurab Pololikashvili, “Investasi dalam pariwisata berkelanjutan adalah investasi pada masa depan planet.”

Bagi Indonesia, pesan ini bukan sekadar seruan, melainkan ajakan untuk benar-benar menata ulang arah pembangunan pariwisata agar selaras dengan kebutuhan bumi dan harapan generasi mendatang.

  • Foto: Teras Dondon/ Pexels Kapal-kapal wisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Destinasi unggulan yang mencerminkan potensi sekaligus tantangan pariwisata berkelanjutan Indonesia di era transformasi hijau.
Bagikan