Surat dari Belém: Seruan Dunia untuk Menutup ‘Triple Gap’ Iklim

DI TENGAH menajamnya krisis iklim dan meningkatnya disinformasi global, tujuh utusan khusus untuk kawasan strategis dunia menyerukan langkah konkret dan solidaritas lintas negara. Dalam surat bersama yang dirilis pada Belém Climate Summit, mereka menegaskan dukungan bagi Presidensi COP30 Brasil dan menyerukan agar dunia tidak lagi terjebak dalam “lingkaran janji”, tetapi menempuh aksi nyata untuk menutup tiga jurang besar, yakni mitigasi, adaptasi, dan pembiayaan iklim.

Dari Paris hingga Dubai, Menuju Belém

Surat ini menandai babak penting menuju Conference of the Parties (COP30) yang akan digelar di Belém, 2025. Para penandatangan, di antaranya Adnan Z. Amin, Jacinda Ardern, dan Laurence Tubiana, menilai kemajuan sejak Paris Agreement 2015 patut diapresiasi, namun masih jauh dari memadai.

Menurut mereka, dunia memang telah “membengkokkan kurva emisi” dari proyeksi pemanasan 4°C menjadi di bawah 2,5°C. Tapi itu belum cukup untuk menjaga ambang 1,5°C. Setiap tambahan sepersepuluh derajat, tulis mereka, berarti kerusakan lebih berat bagi manusia, ekonomi, dan ekosistem.

Jalan Panjang Menutup Tiga Jurang

Para utusan menyoroti bahwa menutup “triple gap” tidak bisa hanya dilakukan dengan memperbarui komitmen nasional (Nationally Determined Contributions/NDCs). Diperlukan kebijakan nyata yang mampu menggerakkan investasi berskala besar dan menurunkan biaya pendanaan, terutama bagi negara berkembang.

Baca juga: Dari Lingkaran Janji ke Agenda Transisi Energi Hijau Dunia

Salah satu peta jalan yang diangkat adalah “Baku to Belém Roadmap”, yang menargetkan mobilisasi dana sebesar USD 1,3 triliun per tahun bagi negara-negara berkembang. Dokumen ini mendorong keterlibatan aktif menteri keuangan, lembaga keuangan internasional, dan sektor swasta untuk menciptakan ruang fiskal dan mengurangi beban utang dalam pembiayaan iklim.

Gedung utama penyelenggaraan COP30 Brasil Amazônia di Belém, Brasil. Konferensi ini akan menjadi tonggak penting bagi implementasi Paris Agreement dan UAE Consensus, dengan fokus pada percepatan aksi iklim global. Foto: Kantor Kepresidenan Brasil.

Menyatukan Kebijakan dan Keadilan

Surat itu juga menekankan perlunya kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada target iklim, tetapi juga memperkuat keamanan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan sosial. Transisi energi yang adil, pengakhiran deforestasi, dan pemulihan ekosistem dinilai harus berjalan serentak sebagai bagian dari strategi jangka panjang setiap negara.

Baca juga: COP30 Dibuka di Jantung Amazon, Diplomasi Hijau Dunia Masuki Fase Baru

Tripling renewable energy capacity is within reach,” tulis mereka, sembari menegaskan bahwa teknologi dan sumber daya sudah tersedia, yang kurang hanyalah investasi yang berpihak pada Global South.

Perang Baru, Disinformasi Iklim

Menariknya, surat ini untuk pertama kalinya menempatkan disinformasi iklim sebagai ancaman serius. Para utusan mengingatkan bahwa banjir informasi menyesatkan telah mengikis kepercayaan publik terhadap sains dan kebijakan iklim. Mereka menyerukan kerja sama global dalam membangun regulasi, strategi komunikasi, dan transparansi lintas negara untuk menangkis serangan narasi palsu tersebut.

Baca juga: Target 1,5°C Hampir Mustahil, Jun Arima Serukan Transisi Energi yang Lebih Realistis

Surat itu menutup dengan ajakan memperluas ruang partisipasi. COP30, tulis mereka, harus menjadi titik balik untuk melibatkan pemimpin daerah, wali kota, komunitas lokal, dan masyarakat sipil dalam penyusunan dan pelaksanaan National Adaptation Plans (NAPs).

“Ini saatnya mengingat kembali solidaritas, dan menyadari bahwa kita memiliki kuasa untuk mengubah masa depan,” demikian pesan penutup dari para utusan yang mewakili Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, Oseania, Amerika Utara, Eropa, serta Amerika Latin dan Karibia. ***

  • Foto: COP30 – Para Special Envoy dari berbagai kawasan strategis dunia di Belém, Brasil. Mereka akan berperan menjembatani dialog dan memperluas kolaborasi lintas sektor di COP30.
Bagikan