Bagian 3 dari Serial Editorial “Masa Depan Pariwisata Indonesia 2025–2026”
Pengantar Redaksi
Serial ini membedah arah baru pariwisata global dan nasional melalui perspektif ekonomi, geopolitik, iklim, investasi, hingga transformasi teknologi. Seluruh laporan disusun berdasarkan data resmi, termasuk Indonesia Tourism Outlook 2025–2026 — publikasi kolaborasi Bank Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian PPN/Bappenas.
Dan berikut adalah laporan ketiga kami untuk Anda. Salam Sustain.
Industri di Persimpangan
LANGIT industri aviasi tengah berubah warna. Di tengah krisis iklim yang menekan dan tuntutan publik yang kian vokal, sektor penerbangan menghadapi pertanyaan eksistensial, bisakah dunia tetap terbang tanpa memperburuk krisis iklim?
Tidak ada sektor perjalanan lain yang berada di bawah sorotan sekeras ini. Penerbangan masih menjadi penyumbang emisi terbesar dalam rantai nilai pariwisata global, dan di saat yang sama menjadi tulang punggung mobilitas wisata dunia. Masa depan pariwisata bergantung pada kemampuan industri aviasi mempercepat transformasi menuju penerbangan rendah karbon.
Dalam percakapan dengan SustainReview.ID pada TOURISE Global Summit 2025 di Riyadh, Pakar Aviasi Internasional Paul Charles merangkum urgensi perubahan ini hanya dalam satu kalimat tajam:
“The industry must evolve.” —Paul Charles
Pernyataan itu bukan seruan idealis, melainkan realitas keras. Tanpa perubahan struktural, sektor penerbangan akan tertinggal oleh dinamika pasar global, dan pariwisata akan menjadi korban pertama.
SAF, Solusi Terbesar yang Masih Mahal
Mengutip Indonesia Tourism Outlook 2025–2026, Sustainable Aviation Fuel (SAF) akan menentukan hingga 65% keberhasilan menuju target net-zero emisi penerbangan global. Teknologi pesawat hidrogen dan listrik baru menyumbang sekitar 13%, dan masih jauh dari komersialisasi massal.
Namun transformasi hijau ini menghadapi tantangan berat. Harga SAF saat ini tiga hingga empat kali lebih mahal dari avtur konvensional, sementara kapasitas produksi global masih sangat terbatas. Tingkat adopsi maskapai di Asia Tenggara bahkan belum mencapai satu persen.
Baca juga: Di Dunia yang Terbelah, ke Mana Arah Mobilitas Wisatawan Global?
Paul Charles mengingatkan bahwa perubahan besar seperti ini tidak pernah lahir dalam semalam.
“Roma tidak dibangun dalam sehari. Transformasi hijau akan butuh waktu lama untuk benar-benar diterapkan di seluruh sektor.”
Tantangan terbesar bukan pada teknologi, tetapi pada keberanian sistem ekonomi dan kebijakan untuk mempercepat adopsi. Tanpa intervensi negara melalui insentif produksi, regulasi harga, dan blended finance, SAF akan tetap menjadi wacana hijau yang mahal.

Momentum Indonesia
Outlook menempatkan Indonesia pada posisi strategis. Negara dengan salah satu basis bahan baku SAF terbesar di Asia, minyak jelantah, limbah pertanian, algae, hingga biomassa. Semua ada, namun belum tersambung dalam ekosistem industri yang matang.
Jika mampu bergerak cepat, Indonesia dapat:
- Membangun industri bioenergi terintegrasi,
- Menjadikan Bali dan Soekarno-Hatta sebagai Green Aviation Gateways,
- Menarik investasi,
- Dan mengambil posisi sebagai pemimpin SAF kawasan Asia Pasifik.
Namun peluang itu datang dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar, keaslian komitmen.
Baca juga: Krisis Iklim dan Cuaca Ekstrem, Ketika Lingkungan Menentukan Arah Pariwisata Dunia
Sebagaimana ditegaskan Charles:
“Keberlanjutan harus dilakukan dengan benar dan autentik. Anda akan ketahuan jika hanya bicara tanpa benar-benar melakukannya.”
Industri penerbangan masa depan bukan hanya soal efisiensi mesin dan bahan bakar baru, tetapi juga integritas tindakan.
Lebih dari Teknologi
Transformasi ini bukan sekadar isu teknis. Ini adalah pertaruhan politik ekonomi masa depan pariwisata. Negara yang mampu menyediakan penerbangan rendah karbon yang kompetitif akan memimpin pasar perjalanan global dan memperkuat posisinya sebagai destinasi premium.
Baca juga: Overtourism, Alarm Baru Dunia Wisata dan Babak Transformasi Indonesia
Indonesia memiliki peluang itu, tetapi waktu tidak menunggu.
Di pengujung percakapan di Riyadh, Charles menutup dengan kalimat yang merangkum semangat zaman:
“Masa depan perjalanan tak diukur dari jarak yang ditempuh, tapi dari jejak yang kita tinggalkan.”
- Foto: Maria Tyutina/ Pexels – Langit dunia aviasi sedang berubah. Transformasi menuju penerbangan rendah karbon menjadi taruhan besar masa depan industri travel global dan daya saing pariwisata Indonesia.
BESOK — BAGIAN 4
“Ketika AI Menjadi Agen Travel Baru: Siapa Menang, Siapa Tertinggal?”


