Vale Indonesia, dari Skor ESG ke Strategi Geopolitik Nikel Hijau

PT Vale Indonesia mencatat lonjakan skor ESG Risk Rating dari 29,8 menjadi 23,7 versi Sustainalytics. Angka ini menempatkan Vale sebagai perusahaan tambang dengan risiko ESG terendah di Indonesia, serta masuk jajaran 15 tambang berisiko ESG terendah di dunia.

Di tengah sorotan geopolitik energi baru, pencapaian ini lebih dari sekadar angka. Skor ini menjadi narasi strategis yang memperlihatkan bahwa industri mineral Indonesia dapat melampaui stereotip “ekstraktif kotor”.

“Pencapaian ini bukan hanya milik Vale, tetapi milik Indonesia,” tegas Presiden Direktur dan CEO Bernardus Irmanto.

Industri Nikel Masuk Era Sertifikasi Integritas

Menurut Vale, pembaruan rating ini berbasis indikator verifikasi di empat area strategis:
– manajemen energi dan emisi,
– keselamatan kerja,
– praktik ketenagakerjaan, dan
– pemberdayaan masyarakat.

Baca juga: CEO Indonesia Kini Menempatkan ESG sebagai Strategi Inti Bisnis

Peningkatan skor dalam waktu kurang dari satu tahun menunjukkan bukan sekadar komitmen, tetapi sistem yang dijalankan secara konsisten. Sebuah kebutuhan mendesak ketika pasar global mensyaratkan pembuktian integritas rantai pasok.

Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia berada di episentrum peralihan energi, terutama baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan daya. Namun, narasi lama bahwa Indonesia hanya pemasok volume, pelan-pelan memudar. Standar global kini mensyaratkan ‘responsibly sourced nickel’, dan Vale berupaya menjadi preseden.

Vale mengeklaim produknya memenuhi standar Amerika Serikat (IRA) dan Uni Eropa (EU Critical Raw Materials Act), yang menjadikan ESG bukan sekadar reputasi, tetapi kunci akses pasar bernilai tinggi.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Dekarbonisasi, Ambisi atau Keniscayaan?

Berbarengan dengan COP30 di Brasil, Vale menyampaikan peta jalan dekarbonisasinya. Targetnya, penurunan emisi absolut operasi di Sorowako sebesar 33 persen dari baseline 2017, menuju 1,5 juta ton CO₂e pada 2030, dengan potensi efisiensi biaya US$50 per ton.

Baca juga: Panas Bumi Naik Kelas, PGE Bidik 1,7 GW untuk Perkuat Kedaulatan Energi

Di sisi lain, intensitas karbon produk nikel dibidik turun 50 persen hingga mencapai 14 tCO₂e/ton. Yang menarik, ambisi ini berjalan seiring rencana ekspansi output empat kali lipat, sebuah model yang menguji kemampuan transformasi industri tanpa menaikkan jejak emisi.

Teknologi, PLTA dan Investasi US$9 Miliar

Dalam peta jalannya, Vale memperlihatkan rekayasa proses teknologi untuk menekan emisi:
– pemanfaatan panas terak (slag heat recovery) yang menghasilkan 165 MWh energi panas dan menurunkan emisi sekitar 293 ton CO₂ per tahun;
– pemanfaatan gas buang kaya CO dan H₂ yang mengurangi biaya kiln hingga US$21 juta dan menurunkan emisi 120 ribu ton CO₂ per tahun.

Ekspansi Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa, dengan investasi kumulatif lebih dari US$9 miliar bersama mitra global, ditargetkan menjadi fondasi hilirisasi berbasis karbon rendah.

Baca juga: PLN Gerakkan Ekosistem PLTSa sebagai Pilar Baru Bisnis Hijau Indonesia

Semua ini berdiri di atas legasi lama. Sejak 1970-an, Vale membangun dan mengoperasikan tiga PLTA berkekuatan 365 MW, menjadikannya salah satu operator pertambangan pertama yang menggunakan energi bersih 100 persen untuk smelting.

Standar Baru untuk Tambang Asia Tenggara

Chief of Sustainability and Corporate Affairs Officer Budiawansyah menegaskan, pertumbuhan hanya bermakna jika melindungi yang esensial.

Bagi pelaku industri dan regulator, narasi Vale memberi tes penting. Apakah standar ESG dapat menjadi mekanisme seleksi pasar, bukan sekadar laporan tahunan?

Jika ya, maka pengalaman Vale memberi sinyal bahwa pertambangan Asia Tenggara bisa naik kelas. Dari pengekstraksi cadangan, menjadi produsen mineral strategis dengan sertifikasi integritas. ***

  • Foto: Dok. Vale Indonesia – Fasilitas pengolahan nikel Vale di Sulawesi, dikelilingi lanskap pegunungan. Transformasi energi bersih dan target dekarbonisasi menempatkan Indonesia pada peta geopolitik mineral hijau.
Bagikan