HARI pertama COP30 di Belém, Brasil, ditandai dengan satu pesan kuat, keuangan global harus bekerja lebih cepat untuk iklim. Bank pembangunan multilateral (Multilateral Development Banks/MDBs) kembali menegaskan komitmen mereka mempercepat pendanaan bagi aksi adaptasi dan perlindungan alam.
Dalam laporan bertajuk “From Innovation to Impact: Building Resilience for People and Planet,” MDBs memperkenalkan metrik baru untuk mengukur dan mengalokasikan sumber daya bagi keanekaragaman hayati. Dokumen itu juga menguraikan praktik terbaik dalam penerapan pembiayaan serta hambatan yang harus segera diatasi, mulai dari keterbatasan fiskal hingga minimnya proyek siap investasi.
Arah Baru dari Belém
CEO COP30 Ana Toni menilai langkah MDBs sejalan dengan Baku to Belém Roadmap, peta jalan transisi iklim menuju ekonomi hijau yang berkeadilan. “COP ini harus menjadi ajang implementasi. Kita butuh contoh nyata bahwa multilateralisme bisa menghasilkan dampak positif bagi manusia,” ujarnya di forum High-Level Event on Adaptation.
Baca juga: Surat dari Belém: Seruan Dunia untuk Menutup ‘Triple Gap’ Iklim
Forum itu mempertemukan presiden dan wakil presiden berbagai bank pembangunan dan dana iklim global. Di antara hasil konkret yang diumumkan adalah kontribusi awal sebesar USD 100 juta dari Jerman dan Spanyol untuk program investasi ARISE (Accelerating Investments in Resilience and Innovations for Sustainable Economies). Program ini disebut sebagai model ideal investasi ketahanan ekonomi dan iklim.
Kesiapan Lebih Penting dari Respons
Presiden Inter-American Development Bank (IDB), Ilan Goldfajn, menegaskan bahwa peran MDB bukan hanya menyalurkan dana pascabencana, tetapi memperkuat kesiapsiagaan negara. “Kita harus berinvestasi dalam ketahanan sebelum krisis datang. Itu berarti memperbesar pembiayaan, menyelaraskan sistem, dan menempatkan ketahanan di pusat perencanaan,” katanya.
Baca juga: Dari Lingkaran Janji ke Agenda Transisi Energi Hijau Dunia
Pesan ini mencerminkan perubahan paradigma, dari reaktif menjadi preventif, dari tanggap darurat menuju pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu, Asisten Sekjen PBB untuk Aksi Iklim, Selwin Hart, mengingatkan bahwa negara berkembang menanggung beban paling berat akibat pemanasan global. Ia menuntut percepatan dan peningkatan skala pendanaan. “Kita membutuhkan kepemimpinan MDBs lebih dari sebelumnya untuk memastikan roadmap Baku-Belém benar-benar dijalankan,” tegasnya.
Target Ambisius, Hambatan Nyata
MDBs menyatakan dukungan terhadap target Glasgow untuk menggandakan pendanaan adaptasi sejak 2019. Tahun 2024, mereka telah menyalurkan USD 26 miliar ke negara berpendapatan rendah dan menengah, dengan target naik menjadi USD 42 miliar pada 2030.
Secara keseluruhan, pembiayaan iklim MDBs tahun 2024 mencapai USD 137 miliar untuk adaptasi dan mitigasi, dengan tambahan USD 134 miliar yang berhasil dimobilisasi dari sektor swasta. Dari jumlah tersebut, sekitar USD 85 miliar disalurkan langsung ke ekonomi berkembang.
Baca juga: Membaca Arah Global Taxonomy, Saat Jakarta dan Brasil Bicara Bahasa yang Sama
Namun, laporan tersebut juga menyoroti hambatan lama, ruang fiskal yang sempit, proyek adaptasi yang terbatas, dan lemahnya koordinasi antar-sektor. MDBs mendorong integrasi kebijakan lintas kementerian, insentif yang jelas bagi swasta, serta pemanfaatan dana konsesional yang lebih strategis.
COP30 di Belém menjadi momen uji komitmen, apakah keuangan global benar-benar siap menjembatani ambisi dan implementasi. Dengan sumber daya yang besar dan mandat lintas negara, MDBs berada di garis depan untuk membuktikan bahwa pendanaan iklim bukan sekadar angka di laporan, tetapi investasi nyata bagi masa depan planet ini. ***
- Foto: Rafael Neddemeyer/COP30 – Para perwakilan pemerintah dan lembaga keuangan pembangunan multilateral usai berdiskusi dalam sesi tingkat tinggi tentang pendanaan iklim di COP30, Senin (10/11), di Belém, Brasil.


