Biofuel Brasil Tunjukkan Jalan, Truk Euro 6 Tempuh 4.000 Km Tanpa Solar Fosil

BRASIL membawa satu pesan kuat ke COP30 di Belém bahwa transisi energi tidak selalu menunggu teknologi masa depan. Dalam “COP30 Sustainable Route”, Be8 dan Mercedes-Benz Brasil memamerkan bagaimana biofuel generasi baru bisa langsung bekerja di sektor transportasi berat, sektor yang selama ini dianggap paling sulit didekarbonisasi.

Aksi demonstratif ini bukan sekadar pameran teknologi. Ini adalah uji jalan sejauh 4.000 kilometer, melintasi berbagai kondisi jalan dan iklim, menggunakan truk Euro 6 berbahan bakar BeVant, biofuel terbarukan yang sepenuhnya diproduksi di Brasil.

Hasilnya memicu banyak perdebatan baru di ruang COP30, apakah kita sebenarnya sudah memiliki sebagian solusi transisi, tetapi terlalu lambat mengadopsinya?

Dekarbonisasi Seketika, Tanpa Modifikasi Mesin

Mauá Institute of Technology merilis hasil awal yang mengejutkan. Truk yang menggunakan BeVant menunjukkan:

  • penurunan emisi GRK hingga 99% dibandingkan solar berbasis mineral,
  • penurunan emisi siklus hidup sekitar 65%,
  • tanpa perubahan performa, torsi, atau keandalan kendaraan.

Baca juga: Fosil Masih Perkasa, Tantangan Global dalam Transisi Energi Menuju 2050

Lebih penting lagi, tak ada modifikasi mesin, investasi tambahan, atau penyesuaian teknis. Teknologi yang ada sekarang sudah mampu menerima bahan bakar ini.

Bagi negara seperti Indonesia, yang transportasi jalan raya menyumbang porsi besar emisi energi, hasil ini menyajikan pertanyaan strategis. Mengapa transisi untuk sektor logistik harus selalu menunggu EV berat atau hidrogen, ketika opsi berbasis biofuel generasi baru bisa menjadi jembatan yang langsung bekerja?

Brasil Ingin Menjadi Etalase Transisi Energi

Presiden Be8, Erasmo Carlos Battistella, menegaskan bahwa keberhasilan ini adalah bukti kemampuan Brasil memimpin transisi energi global dengan solusi yang berbasis sumber daya domestik.

“BeVant menunjukkan bahwa transisi bisa dilakukan sekarang, dengan teknologi yang tersedia, ekonomis, dan berasal dari agribisnis berkelanjutan,” ujarnya.

Pesan tersebut selaras dengan narasi yang dibawa Presiden Lula da Silva di panggung internasional. Brasil ingin memposisikan dirinya bukan hanya sebagai pemasok biofuel dunia, tetapi sebagai acuan model transisi energi dari negara berkembang.

Truk logistik di Brasil menampilkan penggunaan biodiesel 100 persen sebagai bagian dari ekspansi bahan bakar rendah karbon di sektor transportasi berat negara tersebut. Foto: SCA Brasil

Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa Brasil kini merupakan produsen biofuel terbesar kedua di dunia, dengan rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Industri Otomotif Siap Berubah, Asal Regulasi Mengikuti

Dari sisi industri kendaraan berat, Mercedes-Benz Brasil melihat kolaborasi ini sebagai langkah krusial.

Menurut Luiz Carlos Moraes, VP Hubungan Institusional, kemitraan ini memperkuat komitmen industri otomotif untuk menyiapkan “transportasi net-zero” yang realistis dan terjangkau.

Dengan kata lain, teknologi siap. Yang belum tentu siap adalah ekosistem kebijakan, insentif, dan visi transisi pada level nasional. Isu yang juga menjadi tantangan negara lain, termasuk Indonesia.

Green Diesel Lokal vs Impor, Pelajaran untuk Negara Berkembang

Be8 menegaskan bahwa biofuel setara HVO (green diesel) memang dapat menggantikan solar sepenuhnya. Namun HVO belum diproduksi di Brasil dan harganya masih mahal.

BeVant berbeda. Diproduksi dalam negeri, biaya lebih kompetitif, dan siap dipakai sekarang. Model ini menarik untuk negara berkembang yang ingin menekan ketergantungan impor energi.

Baca juga: Maskapai Dunia Patungan 150 Juta Dolar untuk Bahan Bakar Penerbangan Hijau

Uji jalan selama COP30 ini menampilkan satu unit Actros Evolution bermesin BeVant di Green Zone, simbol ambisi Brasil menancapkan tonggak baru ekonomi hijau.

Implikasi untuk Indonesia

Indonesia memiliki ambisi biofuel melalui B35–B40 dan rencana green diesel. Namun tantangannya masih sama: skala produksi, keberlanjutan feedstock, dan kesiapan industri otomotif.

Baca juga: PBB Serukan Penghapusan Subsidi Bahan Bakar Fosil

Studi kasus Brasil menunjukkan bahwa keberhasilan transisi cepat mensyaratkan tiga hal:

  1. inovasi bahan bakar berbasis sumber daya domestik,
  2. kemitraan erat antara pemerintah–produsen energi–industri otomotif,
  3. kerangka regulasi yang konsisten dan pro-dekarbonisasi.

COP30 kembali mengingatkan bahwa “masa depan” tidak selalu jauh di depan. Kadang ia sudah ada di jalan raya, kita hanya perlu memutuskan seberapa cepat ingin mengejarnya. ***

  • Foto: Be8 – Pengunjung memenuhi area Green Zone COP30 saat truk Mercedes-Benz Actros berbahan bakar biofuel BeVant dipamerkan sebagai bagian dari inisiatif COP30 Sustainable Route. Kendaraan ini menjadi simbol kesiapan Brasil memasuki era transportasi rendah karbon.
Bagikan