COP30 Belém: Triliunan Dolar, Pertarungan Fosil, dan Masa Depan 1,5°C

TIRAI COP30 resmi turun akhir pekan ini. Namun denyut perdebatan seputar masa depan iklim global masih menggema. Setelah dua minggu negosiasi yang melelahkan dan beberapa kali terhenti oleh aksi massa dan insiden teknis, Sidang Pleno COP30 akhirnya mengadopsi paket kesepakatan yang dinilai sebagai salah satu yang paling ambisius dalam sejarah perundingan iklim.

Keputusan final menyerukan mobilisasi sedikitnya US$ 1,3 triliun per tahun pada 2035 untuk aksi iklim. Angka raksasa ini menandai perubahan paradigma: pembiayaan bukan lagi topik pendukung, tetapi fondasi utama implementasi Perjanjian Paris.

Selain itu, COP30 melipatgandakan pendanaan adaptasi pada 2025 dan tiga kali lipat pada 2035. Dana loss and damage (kerugian dan kerusakan) yang disepakati pada COP28 kini mulai beroperasi penuh, membuka jalur kompensasi permanen bagi negara paling rentan.

Bagi Sekretaris Eksekutif UNFCCC Simon Stiell, keputusan di Belem mencerminkan pergeseran kekuatan ekonomi global.

“Ekonomi baru sedang bangkit, sementara ekonomi lama yang berpolusi semakin menipis,” ujarnya dalam sesi penutupan.

Baca juga: COP30 Panas di Ujung, Blok Arab dan Eropa Bertarung Soal Fosil

Untuk pertama kalinya dalam sejarah COP, keputusan final mengakui bahaya disinformasi iklim, berkomitmen melawan narasi palsu yang melemahkan aksi berbasis sains. Langkah ini dipandang strategis ketika polarisasi politik dan kampanye digital terorganisir meningkat tajam.

Pertarungan Bahan Bakar Fosil, Kemenangan Setengah Jalan

Meski paket pendanaan ambisius diapresiasi banyak pihak, keputusan final gagal memuat frasa eksplisit tentang penghapusan bahan bakar fosil. Tekanan besar muncul dari lebih dari 80 negara, termasuk blok Amerika Selatan dan Uni Eropa, yang mendorong ‘peta jalan penghapusan energi fosil’. Namun hasil final hanya mengutip “transisi dari bahan bakar fosil” sesuai Konsensus UEA di COP28.

Baca juga: COP30 Belém: Lula Tagih Janji Dunia Kurangi Fosil Sekarang, Bukan Nanti

Ilmuwan iklim Brasil Carlos Nobre memperingatkan konsekuensinya. “Penggunaan bahan bakar fosil harus turun sampai nol pada 2040–2045 untuk menghindari lonjakan suhu ke 2,5°C,” ingatnya.

Menurutnya, kegagalan tersebut berpotensi mempercepat keruntuhan ekosistem, mulai dari terumbu karang hingga hutan hujan Amazon.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Dua Peta Jalan Baru

Presiden COP30 Andre Correa do Lago mengakui celah dalam kesepakatan dan meluncurkan dua inisiatif strategis:

  • Peta jalan penghentian dan pembalikan deforestasi
  • Peta jalan transisi energi fosil yang adil dan berkeadilan

Baca juga: 80 Negara Desak Peta Jalan Penghapusan Fosil, COP30 Masuk Babak Penentu

Keduanya akan mengatur mobilisasi dana, diplomasi politik, dan kerangka implementasi pasca-COP30.

Multilateralisme yang Masih Bertahan

Dari Johannesburg, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres memuji capaian COP30 sebagai bukti bahwa kerja sama global belum mati. Namun ia realistis. “Saya tidak dapat berpura-pura bahwa COP30 telah memberikan semua yang dibutuhkan,” sebutnya.

Guterres menegaskan dunia menuju titik kritis. Target 1,5°C hanya mungkin tercapai dengan pengurangan emisi drastis dan lonjakan pendanaan.

Baca juga: Mutirão Global Lawan Gelombang Panas, Kota Jadi Garda Depan Adaptasi Iklim Dunia

Sementara itu, Stiell menyoroti tren kunci. Investasi energi terbarukan kini telah melampaui bahan bakar fosil dengan rasio 2:1. Ia menyebutnya sinyal politik dan pasar yang harus diterjemahkan menjadi aksi cepat dan terukur.

COP30 mencatat kemajuan historis dalam pendanaan, adaptasi, dan tata kelola narasi iklim. Namun ketiadaan keputusan tegas soal penghentian fosil memperlihatkan jurang ambisi yang masih harus dijembatani.

“COP30 sudah berakhir, tapi pekerjaan baru dimulai,” tegas Guterres. ***

Foto: COP30 Brasil AmazoniaDelegasi negara dan perwakilan masyarakat sipil berfoto bersama dalam sesi penutupan COP30 di Belém, Brasil, menandai komitmen baru untuk memperkuat aksi iklim global.

Bagikan