TRANSFORMASI pariwisata berkelanjutan tidak lagi bisa berhenti pada slogan. Skala operasi yang besar menuntut tanggung jawab yang setara. Di titik inilah PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) menempatkan diri, sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata yang mulai mengukur, menghitung, dan menekan jejak karbonnya secara sistematis.
InJourney menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO₂. Angka ini bukan sekadar simbolik. Itu mencerminkan kesadaran bahwa industri pariwisata dan aviasi adalah kontributor emisi yang signifikan, sekaligus sektor strategis yang menentukan arah ekonomi hijau Indonesia.
“Karbon footprint kami besar, tetapi tanggung jawab kami juga besar,” ujar Direktur Utama InJourney, Maya Watono. Pernyataan ini menegaskan satu hal penting, keberlanjutan di sektor BUMN tidak lagi ditempatkan sebagai program tambahan, melainkan sebagai bagian dari manajemen risiko dan reputasi jangka panjang.
Skala Operasi, Skala Tanggung Jawab
Skala operasi InJourney memberi konteks yang jelas. Perusahaan ini mengelola 37 bandara, sejumlah destinasi wisata nasional, serta jaringan hotel. Sepanjang 2024, destinasi di bawah InJourney mencatat sekitar 98 juta kunjungan, sementara bandara yang dikelola melayani 157 juta penumpang.
Baca juga: Paul Charles: Industri Perjalanan Harus Berevolusi Menuju Langit yang Lebih Hijau
Angka-angka ini memperlihatkan besarnya intensitas energi, mobilitas, dan konsumsi sumber daya. Di sisi lain, skala ini juga membuka ruang intervensi yang besar jika strategi pengurangan emisi dijalankan secara konsisten dan terukur.
Empat Pilar Pengurangan Emisi
Target penurunan 4.000 ton CO₂ dijalankan melalui empat pilar utama. Pilar pertama adalah pemanfaatan energi surya di bandara. Panel surya yang telah terpasang di Bandara Soekarno-Hatta dan I Gusti Ngurah Rai berkontribusi menurunkan sekitar 2.000 ton CO₂. Ke depan, ekspansi energi surya ke seluruh bandara InJourney menjadi langkah krusial.
Baca juga: Maskapai Dunia Patungan 150 Juta Dolar untuk Bahan Bakar Penerbangan Hijau

Pilar kedua adalah manajemen limbah di hotel dan destinasi wisata. Isu ini sering dipandang teknis, padahal menyumbang emisi tidak langsung yang besar. Pilar ketiga menyasar transportasi internal melalui penggunaan kendaraan listrik di kawasan destinasi. Pilar keempat adalah penanaman pohon dan rehabilitasi mangrove, termasuk di Mandalika, sebagai solusi berbasis alam untuk penyerapan karbon.
Keberlanjutan yang Diukur, Bukan Simbolik
Yang membedakan pendekatan InJourney adalah penekanan pada pengukuran. Seluruh inisiatif dipantau melalui dashboard emisi di setiap aset. “Ini bukan sekadar program kosmetik, tetapi pelestarian yang dilakukan secara fundamental,” kata Maya.
Baca juga: Aviasi di Titik Balik, Taruhan Besar Menuju Penerbangan Rendah Karbon
Pendekatan berbasis data menjadi kunci penting, terutama bagi pembuat kebijakan dan investor yang semakin menuntut transparansi ESG. Tanpa pengukuran yang konsisten, klaim keberlanjutan mudah terjebak pada narasi tanpa dampak nyata.
Pariwisata Berkualitas sebagai Strategi Bisnis
Dalam konteks bisnis hijau, langkah InJourney mencerminkan pergeseran paradigma. Pariwisata tidak lagi hanya dinilai dari jumlah kunjungan dan devisa, tetapi dari kualitas dampak ekonomi, sosial, dan lingkungannya.
Baca juga: AI Ambil Alih Industri Travel, Siapa yang Siap dan Siapa yang Tertinggal?
“Yang ingin kami lakukan adalah membangun pariwisata berkualitas. Dampak ekonominya besar, tetapi dampaknya terhadap lingkungan bisa kami minimalkan,” ujar Maya. Tantangan ke depan terletak pada konsistensi dan kolaborasi lintas sektor, dengan komunitas, sektor swasta, dan media.
Jika dijalankan disiplin, pendekatan ini berpotensi menjadi rujukan nasional. Bahwa bisnis hijau bukan beban biaya, melainkan fondasi daya saing jangka panjang industri pariwisata Indonesia. ***
- Foto: Dok. InJourney – Arus penumpang di terminal bandara mencerminkan tingginya intensitas mobilitas dan konsumsi energi di sektor aviasi.


