Kualitas Udara Global Memburuk, 91% Negara Gagal Penuhi Standar WHO

Hanya segelintir wilayah memenuhi ambang aman. Data menunjukkan krisis polusi semakin struktural, bukan sekadar musiman.

KUALITAS udara global menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Hanya 14 persen negara dan kota di dunia yang memenuhi pedoman partikel halus PM2.5 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Angka ini turun dari 17 persen pada tahun sebelumnya.

Sebagian besar negara di dunia masih gagal menjaga kualitas udara sesuai standar WHO, dengan 91 persen wilayah melampaui ambang aman PM2.5.

Data ini berasal dari laporan World Air Quality Report 2025 oleh IQAir, yang menganalisis lebih dari 9.400 kota di 143 negara. Ambang batas WHO sendiri ditetapkan pada 5 µg/m³, level yang dianggap aman bagi kesehatan manusia.

Ketimpangan Regional Makin Tajam

Distribusi polusi tidak merata. Namun pola globalnya konsisten. Kawasan Asia Selatan tetap menjadi pusat konsentrasi polusi tertinggi. Seluruh 25 kota paling tercemar berada di India, Pakistan, dan China.

India menjadi episentrum. Tiga dari empat kota paling tercemar di dunia berada di negara ini. Di sisi lain, tidak ada satu pun kota di Asia Timur yang memenuhi standar WHO selama dua tahun berturut-turut.

Baca juga: Polusi dan Depresi, Bahaya Tak Kasat Mata di Udara Perkotaan

Sebaliknya, wilayah seperti Oseania relatif lebih bersih. Sekitar 61 persen kota di kawasan ini memenuhi pedoman WHO. Beberapa negara kecil dan wilayah Eropa seperti Islandia, Estonia, dan Andorra juga berhasil mempertahankan kualitas udara dalam batas aman.

Namun, tren di Eropa tidak sepenuhnya stabil. Sebanyak 23 negara mengalami peningkatan polusi, sementara 18 negara mencatat perbaikan. Faktor musiman seperti pembakaran kayu, asap lintas batas, dan debu Sahara menjadi variabel penting.

Peran Kebakaran Hutan dan Iklim

Salah satu temuan kunci laporan ini adalah meningkatnya kontribusi kebakaran hutan terhadap polusi udara global. Emisi biomassa dari kebakaran di Kanada dan Eropa mencapai sekitar 1.380 megaton karbon pada 2025.

Ini bukan anomali. Ini adalah sinyal sistemik.

Perubahan iklim memperburuk kualitas udara melalui peningkatan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan.

Baca juga: Polusi Udara Menyurutkan Sinar Matahari, Energi Surya Terhambat

Kanada, misalnya, mengalami musim kebakaran hutan terburuk kedua dalam sejarah. Dampaknya meluas lintas negara, memengaruhi kualitas udara hingga Amerika Serikat dan sebagian Eropa.

Di Amerika Serikat sendiri, rata-rata PM2.5 meningkat menjadi 7,3 µg/m³. Kenaikan ini mempertegas bahwa negara maju pun tidak imun terhadap tekanan kualitas udara.

Emisi industri dan kabut polusi menyelimuti kawasan perkotaan, kadar PM2.5 global masih jauh dari ambang aman WHO. Foto: Matej/ Pexels.

Data sebagai Instrumen Kebijakan

Laporan ini menegaskan satu hal, kualitas udara tidak akan membaik tanpa intervensi berbasis data.

Pemantauan menjadi kunci. Tanpa data real-time, paparan polusi sulit dipetakan, apalagi dikendalikan. Karena itu, perluasan jaringan sensor, termasuk teknologi berbiaya rendah, menjadi agenda strategis.

Akses terhadap data kualitas udara yang terbuka dan real-time memungkinkan kebijakan yang lebih presisi dan akuntabel.

Baca juga: Polusi Udara Indonesia, Mengapa Masih yang Terburuk di Asia Tenggara?

Pendekatan ini juga membuka ruang partisipasi publik. Masyarakat dapat mengakses data, memahami risiko, dan menuntut akuntabilitas dari sumber pencemar.

Dari perspektif kebijakan, ini menggeser paradigma: dari respons reaktif menjadi pengelolaan berbasis bukti (evidence-based governance).

Implikasi untuk Indonesia

Bagi Indonesia, temuan ini relevan. Sumber polusi domestik, mulai dari transportasi, pembangkit listrik berbasis fosil, hingga pembakaran lahan, berpotensi memperburuk posisi dalam lanskap global.

Kualitas udara bukan hanya isu lingkungan. Ini adalah isu kesehatan publik, produktivitas ekonomi, dan stabilitas sosial.

Baca juga: Polusi Udara Jabodetabek Meningkat, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Partikel PM2.5 diketahui dapat menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah. Dampaknya luas: dari gangguan pernapasan hingga penyakit kardiovaskular dan kanker.

Dengan tekanan perubahan iklim yang meningkat, strategi pengendalian polusi tidak bisa lagi parsial. Diperlukan integrasi kebijakan lintas sektor, energi, transportasi, tata ruang, hingga kehutanan.

Tanpa itu, krisis kualitas udara akan menjadi risiko sistemik jangka panjang.

  • Foto: Juan J. Morales-Trejo/ Pexels Emisi industri dan kabut polusi menyelimuti kawasan perkotaan, kadar PM2.5 global masih jauh dari ambang aman WHO.
Bagikan