PENGAKUAN internasional kini tidak lagi semata soal laba. Tapi, juga soal tata kelola, karbon, dan transparansi. Masuknya PT Astra International Tbk ke daftar 500 perusahaan terbaik Asia Pasifik 2026 versi TIME-Statista membuka satu pertanyaan penting, seberapa kompetitif ESG korporasi Indonesia di level regional?
Astra berada di peringkat 485. Peringkat tertinggi ditempati DBS Bank. Sementara perusahaan Indonesia dengan posisi terbaik adalah Bank Central Asia di peringkat 184.
Angka ini bukan sekadar reputasi. Ini adalah indikator arah investasi dan persepsi risiko.
ESG sebagai Filter Baru Daya Saing
TIME dan Statista menggunakan tiga pilar utama, yakni kepuasan karyawan, kinerja keuangan, serta transparansi dan keberlanjutan. Pilar terakhir menjadi pembeda utama.
Indikatornya konkret. Intensitas emisi karbon (2023 dibandingkan 2021), proporsi perempuan di dewan direksi, kebijakan berbasis HAM, laporan CSR, serta kepatuhan anti-korupsi.
Baca juga: CEO Indonesia Kini Menempatkan ESG sebagai Strategi Inti Bisnis
Dengan kata lain, reputasi perusahaan kini diukur dari kualitas data dan konsistensi tata kelola, bukan sekadar komitmen verbal.
“Semoga pengakuan ini terus menguatkan semangat untuk melangkah maju dan bergerak bersama untuk hari ini dan masa depan Indonesia,” ujar Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo.
Namun, pasar global bergerak lebih cepat dari narasi. Investor institusional semakin mengaitkan skor ESG dengan biaya modal, stabilitas jangka panjang, dan risiko litigasi.
Posisi Indonesia dalam Peta Asia
Masuknya Astra dalam daftar ini penting karena skala bisnisnya sistemik. Portofolionya mencakup otomotif, pertambangan, agribisnis, hingga jasa keuangan. Setiap perubahan standar ESG di dalam grup akan berdampak pada rantai pasok nasional.
Baca juga: Lewat ESG, Indonesia Himpun Rp 305 Triliun untuk Infrastruktur Hijau
Namun posisi 485 menunjukkan satu realitas, bahwa perusahaan Indonesia masih berada pada tahap konvergensi menuju standar regional.

Singapura, Jepang, dan Korea Selatan relatif lebih konsisten dalam disclosure karbon, keberagaman dewan, serta integrasi ESG ke strategi bisnis inti. Mereka tidak hanya menyusun laporan keberlanjutan, tetapi menjadikannya instrumen manajemen risiko.
Baca juga: Bank Mandiri Kuasai ESG di Indonesia, Sejajar Standar Global
Indonesia sebenarnya telah membangun fondasi regulasi. Otoritas Jasa Keuangan mewajibkan laporan keberlanjutan bagi emiten dan memperkenalkan taksonomi hijau. Tetapi benchmarking regional menunjukkan bahwa kualitas implementasi dan konsistensi data masih menjadi pekerjaan rumah.
Emisi dan Tata Kelola sebagai Variabel Risiko
Penilaian Statista terhadap intensitas emisi karbon menempatkan isu iklim sebagai variabel finansial. Dalam konteks global, eksposur terhadap sektor energi dan sumber daya semakin dipetakan sebagai risiko transisi.
Perusahaan dengan intensitas karbon tinggi berpotensi menghadapi tekanan pembiayaan, khususnya dari investor global yang menerapkan kebijakan pembatasan portofolio berbasis karbon.
Baca juga: Putusan Texas Menguji Batas Negara Mengatur Investasi ESG
Di sisi lain, dimensi tata kelola, seperti keberagaman gender di dewan dan kebijakan HAM, menjadi indikator stabilitas kelembagaan. Praktik governance yang kuat terbukti berkorelasi dengan ketahanan jangka panjang.
Momentum 69 tahun Astra pada 2026 dapat dibaca sebagai fase konsolidasi transformasi ESG. Tantangannya bukan sekadar mempertahankan posisi dalam daftar, tetapi meningkatkan kualitas integrasi ESG di seluruh lini bisnis.
Dari Reputasi ke Arsitektur Strategi
Peringkat TIME bukan tujuan akhir. Itu adalah sinyal pasar. Standar Asia Pasifik semakin ketat dan semakin berbasis data.
Ke depan, korporasi Indonesia perlu memastikan bahwa disclosure ESG setara dengan standar global. Data karbon, rantai pasok, dan tata kelola harus terukur, terverifikasi, dan konsisten. ESG juga harus terintegrasi dalam strategi investasi dan alokasi modal, bukan sekadar lampiran laporan tahunan.
Baca juga: ESG Jadi Fondasi Aksesi OECD, Pemerintah Indonesia Perkuat Komitmen Keberlanjutan
Lebih jauh, benchmarking regional harus menjadi praktik rutin. Kompetisi tidak lagi domestik. Reputasi Asia Pasifik akan menentukan akses pembiayaan, kemitraan, dan valuasi jangka panjang.
Astra telah masuk daftar. Pertanyaannya kini, seberapa cepat korporasi Indonesia dapat naik kelas dalam kompetisi ESG regional? ***
- Foto: Dok. Astra – Gedung kantor pusat PT Astra International Tbk. Peringkat dalam daftar TIME–Statista 2026 menjadi indikator posisi ESG korporasi Indonesia di level Asia Pasifik.


