Paul Charles: Industri Perjalanan Harus Berevolusi Menuju Langit yang Lebih Hijau

LANGIT masa depan pariwisata dunia tengah bergeser warna. Dari abu-abu emisi menuju biru kehijauan keberlanjutan. Dalam forum TOURISE Global Summit 2025, Riyadh (11–13 November 2025), pakar aviasi internasional Paul Charles menegaskan, “The industry must evolve.”

Pesan itu ia sampaikan dalam wawancara eksklusif dengan SustainReview.ID, menandai momentum baru ketika dunia penerbangan dan perjalanan global mulai berpacu menuju ekonomi hijau yang lebih realistis dan bertanggung jawab.

Transformasi Hijau yang Tak Bisa Instan

Charles, mantan eksekutif Virgin Atlantic dan pendiri The PC Agency, menilai bahwa transformasi hijau bukan sekadar kampanye komunikasi, melainkan perubahan sistemik.

“Semua orang berusaha melakukan bagiannya untuk mengurangi limbah,” ujarnya. “Tapi ini tantangan besar. Roma tidak dibangun dalam sehari,” tambah Charles.

Baca juga: World Tourism Day 2025, Indonesia di Persimpangan Transformasi Pariwisata Berkelanjutan

Dari bandara hingga hotel, perubahan memang mulai terasa. Kendaraan listrik menggantikan armada berbahan bakar diesel; maskapai beralih ke bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF); hotel-hotel meniadakan plastik sekali pakai dan mulai mengandalkan energi bersih.

Namun, Charles mengingatkan, keberlanjutan bukan lomba cepat, melainkan maraton panjang. “Akan butuh waktu lama untuk benar-benar menerapkannya di seluruh sektor,” katanya.

Membuat Keberlanjutan Menarik bagi Konsumen

Agar keberlanjutan menjadi nyata, komunikasi kepada publik juga harus berevolusi. Menurutnya, istilah sustainability sering terdengar membosankan di telinga wisatawan. “Kita harus menjadikannya menarik, menggugah emosi,” kata Charles kepada SustainReview.ID.

Ia menekankan pentingnya membangun koneksi emosional antara pesan keberlanjutan dan pengalaman berlibur.
“Buat konsumen merasa bahwa memilih opsi hijau bukan pengorbanan, melainkan bagian dari pengalaman liburan yang lebih bermakna,” sarannya.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Pandangan itu selaras dengan perubahan perilaku pascapandemi. COVID-19, katanya, membuat banyak orang menilai ulang cara mereka membelanjakan uang. “Kita ingin lebih sering bepergian, bertemu keluarga, menikmati hal-hal yang dulu tidak bisa kita lakukan,” ujarnya.

Kini generasi muda menjadi motor baru pariwisata global. Mereka mencari pengalaman otentik, bukan sekadar destinasi.

Baca juga: Bayang-bayang Overtourism, Mampukah Bali Temukan Jalan Pariwisata Berkelanjutan?

Contoh keberhasilan mulai terlihat. Six Senses menjadi pelopor hotel ramah lingkungan, sementara Virgin Atlantic sudah melakukan penerbangan berbahan bakar bio sejak 2009.

Kini, semakin banyak maskapai dan operator kereta menerapkan efisiensi energi serta kebijakan bebas plastik. “Prosesnya mungkin tak cukup cepat,” ujar Charles, “tapi arah perubahannya sudah jelas.”

Dari Langit hingga Komunitas

Bagi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, arah itu membuka peluang besar. Dengan ribuan desa wisata dan potensi pariwisata alam, kawasan ini bisa menjadi contoh community-based tourism yang selaras dengan prinsip hijau.
Tantangannya terletak pada konsistensi dan narasi, bagaimana meyakinkan publik bahwa pariwisata berkelanjutan bukan tren, melainkan masa depan.

“Keberlanjutan harus dilakukan dengan benar dan autentik,” tegas Charles. “Anda akan ketahuan jika hanya bicara tanpa benar-benar melakukannya.”

Baca juga: Thailand Dorong ESG Tourism Jadi Mesin Pertumbuhan Berkelanjutan

Ia menutup percakapan dengan nada reflektif, bahwa keberlanjutan bukan sekadar janji, melainkan perjalanan panjang yang menuntut ketulusan dan tindakan nyata.

Dalam satu kalimat penutupnya yang kuat, Paul Charles, merangkum semangat zaman.
“Masa depan perjalanan tak diukur dari jarak yang ditempuh, tapi dari jejak yang kita tinggalkan.” ***

  • Foto: Dok – Paul Charles menekankan pentingnya transformasi hijau dalam dunia perjalanan dan penerbangan, di sela TOURISE Global Summit 2025, Riyadh.
Bagikan