DI TENGAH gelombang global yang semakin lantang mendorong energi bersih, Indonesia masih berdiri di persimpangan sulit. Ini memunculkan dilema besar, bagaimana berlari menuju target iklim tanpa meruntuhkan fondasi ekonomi yang selama puluhan tahun ditopang energi fosil?
Penasihat Presiden untuk Urusan Energi, Purnomo Yusgiantoro, menyampaikan pesan itu dengan tegas dalam Indonesia Energy Transition Outlook (IETO). Ia mengingatkan bahwa transisi energi tidak dapat dilakukan dengan mematikan keran fosil begitu saja. Ada struktur ekonomi yang terlanjur bertumpu pada minyak, gas, dan mineral. Ada jutaan pekerjaan. Ada ketergantungan fiskal. Ada ekspor yang menopang stabilitas makro.
“Eksplorasi dan produksi fosil masih harus berjalan. Mau tidak mau,” ujarnya. Pernyataan itu mencerminkan satu hal, transisi Indonesia tidak bisa sekadar idealis. Tapi, juga harus realistis, gradual, dan berbasis data.
Ketergantungan Fiskal yang Membelenggu
Data terbaru memperlihatkan skala ketergantungan itu. Pada 2024, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor energi dan sumber daya mineral mencapai Rp269,6 triliun, atau 46,5% dari total PNBP nasional. Migas menyumbang Rp110,9 triliun, minerba Rp138 triliun, dan EBTKE hanya Rp2,8 triliun.
Baca juga: COP30 Belém: Lula Tagih Janji Dunia Kurangi Fosil Sekarang, Bukan Nanti
Dengan porsi besar seperti itu, penghentian tiba-tiba pada sumber fosil akan mengguncang APBN. Belum lagi kontribusinya terhadap ekspor, investasi, dan konsumsi publik. Tiga mesin yang menopang ambisi pertumbuhan ekonomi 8%.
Investasi di sektor hilirisasi juga menunjukkan arah yang sama. Dari total investasi 2024 senilai Rp407,8 triliun, sebagian besar tetap mengalir ke smelter nikel, tembaga, dan bauksit, serta petrokimia berbasis minyak dan gas. Transisi energi belum cukup kuat untuk menggeser pusat gravitasi ekonomi ini.

Cadangan Fosil Masih Menumpuk
Purnomo mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki cadangan besar shale oil, shale gas, dan coal bed methane. Di masa transisi, cadangan ini dianggap sebagai “penyangga stabilitas”. Narasi ini menegaskan bahwa pemerintah belum siap berpisah dari fosil, justru memandangnya sebagai modal bertahan. Setidaknya hingga pembangkit, jaringan listrik, dan industri siap menyerap EBT dalam skala besar.
Baca juga: 80 Negara Desak Peta Jalan Penghapusan Fosil, COP30 Masuk Babak Penentu
Namun ada catatan keras. Seluruh aktivitas hulu-hilir fosil harus menerapkan teknologi ramah lingkungan. Mulai dari efisiensi energi, perangkat penangkap karbon, pengendalian metana, hingga standar emisi yang diperketat.
EBT Harus Menang di Lapangan Ekonomi
Di sisi lain, pemerintah tetap mengakui bahwa masa depan yang diinginkan ada pada energi bersih. Hidro, surya, angin, panas bumi, bioenergi, hidrogen, hingga nuklir disebut memiliki multiplier effect besar. Investasi di sektor ini akan menciptakan pekerjaan baru, menumbuhkan industri peralatan, membuka ruang inovasi, dan mengurangi risiko geopolitik energi.
Baca juga: Raksasa Tertidur Panas Bumi, Bisakah Indonesia Bangun di 2030?
Kuncinya adalah memastikan energi bersih tidak berhenti pada komitmen. Energi bersih harus menang dalam perhitungan ekonomi. Tarif listrik kompetitif. Insentif stabil. Infrastruktur siap. Regulasi jelas. Dan yang terpenting, kepercayaan investor tidak goyah.
Masa Gelap-Terang Transisi Energi
Pernyataan Purnomo hadir di saat Indonesia tengah membentuk posisi di COP30 di Belém, Brasil. Dunia menunggu bagaimana negara dengan salah satu cadangan fosil terbesar dan potensi EBT terbesar ini mengelola dua kutub yang saling tarik-menarik.
Realitasnya, Indonesia sedang mencoba menavigasi masa gelap-terang transisi energi. Tidak secepat harapan aktivis, tetapi tidak selambat bayangan industri lama. Negara berada dalam fase mencari keseimbangan baru, di mana fosil tetap berjalan sambil mengakselerasi energi terbarukan yang masih tertatih.
Dan di tahun-tahun kritis menuju 2030, keseimbangan ini akan menentukan apakah Indonesia benar-benar siap menjadi pemain besar dalam ekonomi hijau global. ***
- Foto: Ilustrasi/ AI-generated/ SustainReview – Kontras dua lanskap energi: PLTU batu bara yang masih menjadi penopang ekonomi, berdampingan dengan ladang surya dan turbin angin yang melambangkan masa depan energi bersih Indonesia.


