BELÉM kembali mencuri perhatian dunia. Pada 14 November, di tengah dinamika perundingan COP30, 35 negara bersama organisasi internasional resmi meluncurkan Belém Declaration for Green Industrialization. Dokumen politik ini menandai babak baru industrialisasi global lebih hijau, lebih inklusif, dan lebih berpihak pada pembangunan negara berkembang.
Deklarasi ini mengikat komitmen para negara untuk memodernisasi industri, mempercepat transisi energi, dan membuka peluang baru dalam ekonomi hijau. Bagi banyak pihak, inilah sinyal bahwa agenda industrialisasi tak lagi dipisahkan dari target iklim. Keduanya kini saling menguatkan.
Ikhtiar Menyatukan Iklim dan Ekonomi
Wakil Presiden Brasil, Geraldo Alckmin, menyebut langkah ini sebagai “transformasi ekonomi nyata yang harus berjalan seiring ambisi iklim.” Ia menekankan urgensi menciptakan pekerjaan masa depan. Bukan hanya untuk negara maju, tetapi bagi negara-negara Global South yang selama ini tertinggal dalam akses teknologi dan modal.
Pernyataan Alckmin terasa relevan. Transisi energi membutuhkan mineral kritis, teknologi canggih, dan rantai pasok baru. Tanpa strategi industrialisasi hijau, negara berkembang hanya akan menjadi pemasok bahan mentah, bukan pemain yang menikmati nilai tambah.
Baca juga: Biofuel Brasil Tunjukkan Jalan, Truk Euro 6 Tempuh 4.000 Km Tanpa Solar Fosil
CEO COP30, Ana Toni, menegaskan bahwa industrialisasi hijau bukan lagi wacana. “Agenda ini tak bisa dibalikkan. Kita harus memastikan semua negara bergerak maju dengan cara terbaik,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas negara dan lintas sektor menjadi kunci untuk memperluas partisipasi industri dan mengharmonisasi kebijakan.
Pernyataan Toni mencerminkan perubahan penting di COP30. Isu industri tidak lagi hanya dibahas dalam ruang negosiasi, tetapi sudah masuk ke fase aksi. Dorongan untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah, parlemen, dan sektor swasta semakin terlihat.

Industri Mesin Solusi, Bukan Sumber Masalah
Direktur Jenderal UNIDO, Gerd Muller, menyebut momen ini sebagai “langkah historis.” Ia menilai deklarasi Belém berhasil menghubungkan tujuan iklim dengan tindakan konkret di sektor industri, termasuk mobilisasi investasi, teknologi, dan inklusi sosial.
Baca juga: Paviliun Indonesia, Wajah Baru Diplomasi Iklim di Era Karbon
Menurut Muller, industrialisasi hijau bukan hanya soal menurunkan emisi. Tapi, tentang menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, lapangan kerja, dan inovasi, persis kebutuhan negara berkembang yang ingin naik kelas.
Dimensi Sosial, Transisi Tanpa Korban
Di Brasil, isu industrialisasi hijau juga dikaitkan dengan keadilan sosial. Sekretaris Ekonomi Hijau, Dekarbonisasi, dan Bioindustri Kementerian Pembangunan Brasil, Julia Cruz, mengingatkan bahwa transisi hanya akan berhasil jika masyarakat yang bergantung pada industri konvensional ikut di dalamnya.
Ia tak ragu menyebut risiko besar bila komunitas lokal tak mendapat manfaat langsung. “Jika tidak ada strategi pembangunan bagi mereka, mereka akan mencari cara bertahan hidup. Bahkan masuk ke pasar kriminal seperti penebangan atau penambangan ilegal,” ujarnya.
Baca juga: Mutirão Global Lawan Gelombang Panas, Kota Jadi Garda Depan Adaptasi Iklim Dunia
Pernyataan Cruz menegaskan bahwa transisi energi bukan hanya soal karbon. Ini adalah soal pekerjaan, kepastian hidup, dan menghindari jebakan ketimpangan baru.
Menjahit Ragam Inisiatif Iklim dalam Satu Arah
Deklarasi Belém menciptakan payung koordinasi untuk beragam inisiatif transformasi industri yang sudah ada di COP. Tujuannya sederhana namun strategis: menghindari tumpang tindih, menggabungkan sumber daya, dan mempercepat pencapaian target.
Dokumen ini juga membuka ruang bagi negara lain, lembaga keuangan, dan organisasi internasional untuk bergabung. Dalam konteks geopolitik iklim, fleksibilitas ini penting karena memperluas koalisi tanpa batasan geografis maupun blok politik.
Apa maknanya bagi Indonesia? Deklarasi Belém menghadirkan peluang besar. Dari investasi industri hijau, transfer teknologi, hingga kerja sama South–South. Namun, peluang hanya akan menjadi kenyataan jika strategi nasional mampu menjembatani kebutuhan industri dengan agenda iklim dan inklusi sosial.
Dunia mulai bergerak menuju industrialisasi hijau. Pertanyaannya: apakah Indonesia siap berada di barisan depan?
- Foto: Rafa Neddermeyer/COP30 – Para otoritas dan perwakilan internasional menghadiri pengumuman Deklarasi Belém dalam rangkaian COP30.


