Ledakan Investasi Pariwisata 2025, Peta Baru Menuju 2026

Bagian 5 dari Serial Editorial “Masa Depan Pariwisata Indonesia 2025–2026”

Pengantar Redaksi

Tulisan ini merupakan bagian kelima dari serial laporan khusus SustainReview.ID. Edisi kali ini menyoroti pergeseran besar peta investasi pariwisata Indonesia, momentum yang tidak hanya menggeser arus modal, tetapi juga mengubah arah pengembangan destinasi nasional. Serial ini disusun berdasarkan data resmi, termasuk Indonesia Tourism Outlook 2025–2026. Salam Sustain.


Investasi Melonjak, Sinyal Bangkitnya Ekonomi Pariwisata Nasional

TAHUN 2025 menandai percepatan besar dalam investasi pariwisata Indonesia. Mengutip data yang dipaparkan dalam Indonesia Tourism Outlook 2025–2026, realisasi investasi pariwisata pada semester pertama 2025 mencapai Rp34,02 triliun, atau 59,8% dari target tahunan.

Capaian ini menunjukkan rebound kuat pascapandemi, sekaligus meningkatnya kepercayaan investor terhadap masa depan pariwisata Indonesia.

Yang menarik, 73,9% investasi berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Komposisi ini menandai pergeseran struktural setelah bertahun-tahun dominasi PMA. Investor domestik kini menjadi motor utama pembangunan industri pariwisata. Mulai dari hotel, vila, restoran, atraksi wisata, hingga infrastruktur pendukung seperti marina dan fasilitas sport tourism yang sedang naik daun.

Baca juga: Krisis Iklim dan Cuaca Ekstrem, Ketika Lingkungan Menentukan Arah Pariwisata Dunia

Tidak hanya nilai investasi yang meningkat. Jumlah proyek baru juga meluas, menunjukkan pemulihan yang tidak hanya terjadi pada sisi permintaan wisatawan, tetapi juga pada sisi penawaran. Industri ini tidak lagi sekadar menunggu kedatangan wisatawan. Sebaliknya, sedang bersiap memperluas kapasitas untuk menyambut masa depan.

Perubahan Pusat Gravitasi, Luar Jawa Maju sebagai Magnet Baru

Salah satu temuan terpenting dalam outlook adalah pergeseran geografis investasi. Data menunjukkan bahwa 51,2% investasi pariwisata pada semester I 2025 berada di luar Pulau Jawa. Ini menandakan lahirnya poros baru destinasi Indonesia, yang dampaknya dapat memengaruhi arah pariwisata nasional selama bertahun-tahun ke depan.

Lombok, khususnya kawasan Gili Tramena, mencatat realisasi investasi terbesar, mencapai Rp2,89 triliun, memimpin pergerakan modal yang mulai meninggalkan pola lama yang terpusat di Bali. Pulau Dewata tetap kuat, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya magnet.

Baca juga: Di Dunia yang Terbelah, ke Mana Arah Mobilitas Wisatawan Global?

Destinasi di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, hingga Kalimantan mulai menonjol akibat meningkatnya minat wisata alam dan outdoor, perubahan perilaku wisatawan Asia yang mengutamakan short-haul travel, serta percepatan pembangunan infrastruktur di luar Jawa.

Destinasi prioritas lain seperti Bromo Tengger Semeru (Rp0,78 triliun) dan Borobudur–Jogja–Prambanan (Rp0,37 triliun) juga menunjukkan geliat baru yang memperkuat diversifikasi destinasi nasional.

Desain Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Pergeseran pusat gravitasi ini menandai era baru. Indonesia tidak lagi bertumpu pada satu ikon, tetapi membangun jaringan destinasi yang lebih luas dan adaptif.

Kualitas Investasi dan Keberlanjutan Destinasi

Di balik peluang besar, outlook juga mengingatkan bahwa ledakan investasi bukan tanpa risiko. Pertumbuhan yang terlalu cepat dapat membawa dampak negatif jika tidak selaras dengan daya dukung lingkungan, tata ruang, dan kapasitas sosial.

Risiko itu mencakup degradasi kualitas lingkungan, tekanan terhadap sumber daya air, munculnya overtourism, serta ketimpangan ekonomi lokal. Transformasi menuju Quality Tourism, yang menjadi arah kebijakan nasional, mengharuskan investasi berjalan seiring dengan keberlanjutan, bukan sekadar menambah kapasitas fisik destinasi.

Baca juga: Overtourism, Alarm Baru Dunia Wisata dan Babak Transformasi Indonesia

Dalam konteks ini, Praktisi Pariwisata Berkelanjutan Indonesia, Ade Noerwenda,memberikan pengingat yang tepat waktu.

“Investasi pariwisata hanya akan berumur panjang jika selaras dengan daya dukung lingkungan dan kapasitas sosial destinasi. Tanpa itu, percepatan yang kita banggakan hari ini bisa berubah menjadi beban di masa depan.”
Ade Noerwenda, Praktisi Pariwisata Berkelanjutan Indonesia

Pernyataan ini merangkum esensi dari seluruh dinamika investasi tahun 2025, bahwa nilai investasi besar tidak otomatis menjamin keberlanjutan jangka panjang sebuah destinasi.

Baca juga: AI Ambil Alih Industri Travel, Siapa yang Siap dan Siapa yang Tertinggal?

Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin arah baru pariwisata Asia. Tetapi, hanya jika investasi diarahkan untuk memperkuat ekosistem lokal, menerapkan prinsip regenerative tourism, menggunakan energi bersih, mengoptimalkan efisiensi air, serta memastikan komunitas lokal mendapat peran utama dalam rantai nilai.

Jika investasi bergerak sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut, maka 2026 dapat menjadi tahun ketika Indonesia tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga matang secara kualitas. ***

  • Foto: Rizk Nas/ Pexels Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, salah satu episentrum baru investasi pariwisata 2025 ketika arus modal mulai bergerak dari Bali menuju kawasan timur Indonesia.

BESOK: BAGIAN 6

“Quality Tourism 2026, Transformasi Terakhir Menuju Pariwisata Kelas Dunia.”

Bagikan