Dunia hampir pasti memasuki era climate overshoot. Persoalannya kini bukan hanya apakah suhu menembus 1,5°C, tetapi seberapa tinggi dan berapa lama bumi berada di atas batas tersebut.
BATAS yang selama satu dekade menjadi kompas kebijakan iklim dunia hampir pasti terlewati.
Laporan terbaru United Nations Environment Programme (UNEP), Limiting Overshoot: Navigating Exceedance of 1.5°C and Pathways Towards Return, menyimpulkan kenaikan suhu global akan menembus 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun mendatang.
Angka tersebut diukur terhadap suhu rata-rata pada periode praindustri 1850–1900. Dalam Perjanjian Paris 2015, negara-negara sepakat menahan pemanasan global jauh di bawah 2°C dan berupaya membatasinya pada 1,5°C.
Kini, UNEP menilai dunia akan memasuki fase baru yang disebut overshoot. Suhu rata-rata jangka panjang melampaui 1,5°C sebelum mencapai puncak, lalu, jika mitigasi berjalan, diturunkan kembali.
Bahkan dalam skenario paling optimistis yang dipelajari UNEP, kenaikan suhu diperkirakan memuncak pada sekitar 1,8°C. Sebagian besar skenario lainnya menghasilkan puncak di atas 2°C. Dengan kebijakan yang berlaku saat ini, pemanasan median diproyeksikan mencapai sekitar 2,6°C pada 2100.
“Musim panas yang menyengat, kebakaran besar, dan banjir mematikan merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi,” kata Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres dalam peluncuran laporan tersebut.
Menurut Guterres, dunia harus membuat kenaikan di atas 1,5°C serendah dan sesingkat mungkin. Artinya, terlewatinya ambang itu bukan alasan untuk menghentikan tindakan, melainkan alasan untuk meningkatkannya.
Bukan Sekadar Setahun
Menembus 1,5°C bukan berarti suhu di seluruh tempat naik dengan besaran yang sama. Angka tersebut merupakan rata-rata global yang dihitung terhadap kondisi sebelum penggunaan bahan bakar fosil meluas.
Perlu dibedakan pula antara suhu tahunan yang sesekali berada di atas 1,5°C dan pemanasan global jangka panjang.
Variasi alami seperti El Niño dapat mendorong suhu pada satu tahun tertentu melampaui ambang tersebut. Namun, batas Perjanjian Paris merujuk pada tren pemanasan selama periode yang lebih panjang. Laporan UNEP kali ini memperingatkan bahwa tren jangka panjang itulah yang akan segera melewati 1,5°C.
Perbedaannya penting agar satu tahun yang lebih dingin tidak disalahartikan sebagai berakhirnya pemanasan global. Sebaliknya, satu tahun yang sangat panas juga tidak otomatis berarti batas Paris telah dilampaui secara permanen.
Masalahnya, semakin lama bumi berada di atas 1,5°C, semakin besar pula kerusakan yang terakumulasi.
Baca juga: Krisis Hutan Tropis Bisa Picu Pemanasan Global Abadi
UNEP memperingatkan peningkatan cuaca ekstrem, kehilangan ekosistem, gangguan kesehatan, tekanan terhadap pangan dan air, kerusakan infrastruktur, serta ancaman terhadap negara kepulauan dan kota pesisir rendah. Risiko melewati titik balik yang tidak dapat dipulihkan juga meningkat.
Titik balik itu mencakup ketidakstabilan lapisan es utama, degradasi Hutan Amazon, dan gangguan pada sistem arus laut Atlantik. Setelah proses tertentu berjalan terlalu jauh, menurunkan suhu kembali belum tentu dapat mengembalikan kondisi sebelumnya.
Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen menegaskan tidak ada hasil yang baik jika dunia bertahan di atas 1,5°C.
“Dampak iklim akan datang lebih cepat, menghantam lebih keras, dan bertahan lebih lama,” kata Andersen. Konsekuensinya bukan hanya kerusakan lingkungan, melainkan juga lebih banyak korban jiwa dan gangguan ekonomi yang semakin dalam.

Setiap Pecahan Derajat
Laporan tersebut mengubah cara melihat target iklim. Kegagalan menahan suhu tepat di bawah 1,5°C tidak membuat perbedaan antara 1,6°C, 1,8°C, dan 2°C menjadi tidak penting.
Justru setiap tambahan sepersepuluh derajat menentukan luas wilayah yang terpapar panas ekstrem, besarnya kehilangan ekosistem, tekanan terhadap produksi pangan, serta kemampuan masyarakat untuk beradaptasi.
Begitu pula dengan durasinya. Overshoot selama beberapa tahun tidak membawa risiko yang sama dengan pemanasan yang bertahan di atas 1,5°C selama beberapa dekade.
Karena itu, UNEP menawarkan lintasan overshoot, peak, and decline. Emisi harus turun cepat untuk membatasi puncak pemanasan. Dunia kemudian perlu mencapai emisi nol bersih dan beralih menuju emisi negatif agar suhu perlahan turun kembali.
Caranya tidak hanya melalui teknologi.
Baca juga: Pemanasan Global 2°C Tak Terbendung, Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Pengurangan penggunaan batu bara, minyak, dan gas tetap menjadi fondasi. Penurunan emisi metana juga penting karena gas tersebut memiliki daya pemanasan tinggi, meskipun bertahan lebih singkat di atmosfer dibandingkan karbon dioksida.
Hutan dan ekosistem alami perlu dilindungi dan dipulihkan. Teknologi penghilangan karbon atau carbon dioxide removal (CDR) akan dibutuhkan untuk menyerap sebagian karbon yang sudah terlepas ke atmosfer.
Namun, UNEP memberikan batas yang tegas. Penghilangan karbon harus menjadi tambahan, bukan pengganti pemangkasan emisi.
CDR hanya dapat berperan secara kredibel apabila puncak pemanasan tetap jauh di bawah 2°C dan emisi sisa sudah ditekan serendah mungkin. Penggunaannya juga membutuhkan tata kelola yang ketat karena menyangkut integritas lingkungan, kebutuhan lahan, keadilan, dan kemampuan penyimpanan karbon bertahan dalam jangka panjang.
Peringatan ini relevan bagi negara-negara yang sedang mengembangkan penangkapan dan penyimpanan karbon, termasuk Indonesia. Kapasitas geologi yang besar tidak boleh berubah menjadi alasan untuk mempertahankan emisi fosil atau menunda transisi energi.
Indonesia di Garis Risiko
Bagi Indonesia, overshoot bukan persoalan abstrak yang hanya terlihat dalam model iklim global.
BMKG mencatat suhu rata-rata Indonesia pada Juli 2026 mencapai 27°C, atau 0,8°C lebih tinggi daripada normal klimatologis periode 1991–2020. Pada saat yang sama, El Niño kuat memperbesar risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
Data tersebut tidak berarti semua kejadian ekstrem disebabkan oleh perubahan iklim. Namun, pemanasan global memperbesar kondisi dasar yang memungkinkan panas, kekeringan, hujan ekstrem, serta gangguan pesisir menjadi lebih berat.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga menghadapi dua tekanan sekaligus. Di daratan, perubahan suhu dan pola hujan mengganggu pangan, air, kesehatan, dan ekosistem. Di pesisir, kenaikan muka laut menambah risiko banjir rob, abrasi, intrusi air asin, dan hilangnya ruang hidup.
Baca juga: Panas Ekstrem Bukan Lagi Cuaca Biasa
Adaptasi karena itu tidak bisa menunggu hingga suhu benar-benar dinyatakan melewati 1,5°C. Perlindungan pesisir, sistem peringatan dini, tata ruang tahan bencana, ketahanan pangan, pengelolaan air, dan perlindungan kelompok rentan harus dibangun bersamaan dengan pengurangan emisi.
Presiden Negosiasi COP31 Murat Kurum mengingatkan bahwa 1,5°C yang terlampaui tidak boleh diperlakukan sebagai tujuan baru. Yang menentukan adalah pilihan hari ini, seberapa tinggi suhu memuncak, berapa lama overshoot berlangsung, dan seberapa aman dunia dapat menurunkannya kembali.
Batas 1,5°C mungkin akan terlewati. Namun, dunia belum kehilangan seluruh pilihan.
Yang tidak lagi tersedia adalah kemewahan untuk menunda. ***
- Foto: Wal/ Pexels – Ilustrasi warga beraktivitas di tengah cuaca panas perkotaan. UNEP memperingatkan kenaikan suhu global jangka panjang akan menembus batas 1,5°C dalam beberapa tahun mendatang.


