Citarum: Sungai Kotor yang Tak Kunjung Bersih, Apa Solusinya?

SUNGAI Citarum kembali menjadi sorotan. Sampah menumpuk di beberapa titik, termasuk di Oxbow Cicukang, Mekarrahayu, Kabupaten Bandung. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun turun tangan. Ia memerintahkan empat kapal ponton dikerahkan untuk membersihkan sungai yang dinobatkan sebagai salah satu yang paling tercemar di dunia.

Namun, ini bukan pertama kalinya Citarum dibersihkan. Awal tahun 2025, sungai ini sudah mengalami pembersihan besar-besaran. Hasilnya? Hanya dalam hitungan minggu, sampah kembali menumpuk. Kondisi ini menandakan bahwa persoalan Citarum lebih dari sekadar tumpukan sampah di permukaan.

Mengapa Citarum Selalu Kotor?

Sungai sepanjang 270 km ini mengalir melewati kawasan padat penduduk, industri, dan pertanian. Setidaknya 27 juta orang bergantung pada Citarum sebagai sumber air minum dan irigasi. Sayangnya, limbah rumah tangga, plastik, sisa makanan, hingga buangan industri terus mengalir tanpa kendali.

Baca juga: Peringatan Global, Perubahan Iklim Percepat Pengeringan Sungai

Badan Pembangunan PBB (UNDP) bahkan mencatat Citarum sebagai salah satu dari 10 sungai paling tercemar di dunia. Airnya tidak hanya berbau, tetapi juga mengandung logam berat berbahaya seperti merkuri dan timbal.

“Kita sering kali hanya membersihkan permukaan tanpa menyelesaikan akar masalahnya,” ujar Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, Mochammad Dian Al Ma’ruf.

Program Demi Program, Hasilnya?

Upaya menyelamatkan Citarum bukan barang baru. Sejak 2018, program Citarum Harum diluncurkan dengan target menjadikan sungai ini bersih dalam tujuh tahun. Pemerintah pusat, provinsi, hingga daerah berkolaborasi dalam pengendalian pencemaran dan revitalisasi ekosistem sungai.

Foto 9 Mei 2013 ini memperlihatkan Kilometer Nol Sungai Citarum yang bersih. Sebuah pengingat akan potensi yang pernah ada—dan pertanyaan besar: bisakah Citarum kembali seperti ini? Foto: Nafan Nafonez/ Pexels.

Namun, 2025 sudah tiba. Alih-alih membaik, masalah sampah justru masih terjadi. Sebelumnya, pada 2014, Pemprov Jabar juga pernah menargetkan Citarum bersih melalui gerakan Citarum Bestari. Targetnya? Air sungai bisa langsung diminum pada 2018. Sayangnya, hingga kini, harapan itu masih jauh dari kenyataan.

Baca juga: Indonesia Dapat Dana 4,5 Juta Dolar, Mampukah Atasi Krisis Sampah Plastik?

Mengapa berbagai program ini tidak membuahkan hasil maksimal? Pakar lingkungan menyoroti tiga hal utama: kesadaran masyarakat yang rendah, penegakan regulasi yang lemah, serta kurangnya infrastruktur pengolahan limbah.

Harapan untuk Citarum

Menyelesaikan krisis Citarum butuh pendekatan lebih komprehensif. Sekadar membersihkan sampah tanpa mengatasi sumber pencemar tidak akan cukup. Beberapa langkah yang bisa menjadi solusi jangka panjang:

  1. Peningkatan Pengelolaan SampahPerlu kebijakan ketat untuk memastikan sampah domestik dan industri tidak langsung dibuang ke sungai. Sistem pengolahan limbah terpadu harus diperkuat, terutama bagi sektor industri.
  2. Sanksi Tegas bagi Pelaku PencemaranTanpa hukuman tegas, pelanggaran akan terus terjadi. Pemerintah harus lebih serius dalam menindak industri dan individu yang mencemari Citarum.
  3. Edukasi dan Perubahan PerilakuKesadaran masyarakat adalah kunci. Kampanye pengurangan sampah plastik, pengelolaan limbah rumah tangga, hingga pemanfaatan ekonomi sirkular harus digalakkan.
  4. Teknologi Pengolahan Air yang Lebih EfektifInvestasi dalam teknologi pemurnian air dan sistem daur ulang limbah bisa menjadi solusi jangka panjang.

Baca juga: Mengurai Masalah Sampah di Indonesia, dari Hulu hingga Hilir

Tanpa langkah-langkah konkret ini, Sungai Citarum akan terus mengulang siklus yang sama: dibersihkan, lalu kembali kotor. Dan jika itu terjadi, harapan menjadikan Citarum sebagai sumber kehidupan yang sehat akan semakin jauh dari kenyataan.

  • Foto: Screenshot video/ Dokumen Sektor 6 Satgas Citarum – Kondisi Citafrum 20 Februari 2025.
Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *