PRESIDEN Brasil Luiz Inacio Lula da Silva membuka hari penting di COP30 Belém dengan pesan keras, dunia harus mulai mengurangi bahan bakar fosil sekarang, bukan nanti. Di ruang konferensi yang penuh delegasi, suara Lula memotong keramaian diplomasi, menandai babak penentuan bagi arah transisi energi global.
Konferensi yang berlangsung di jantung Amazon itu memasuki ujung setelah melalui fase negosiasi paling intens. Brasil membawa satu tawaran yang langsung menyedot perhatian para negosiator. Tawarannya roadmap, kerangka transisi yang mendorong negara-negara mengurangi penggunaan bahan bakar fosil tanpa memaksakan tenggat seragam.
Roadmap ini dirancang sebagai instrumen yang menuntut keseriusan tanpa mencabut kedaulatan, mendorong setiap negara menetapkan jalur transisi yang realistis, terukur, dan selaras dengan target emisi global.
Pada salah satu agenda plenary yang memaparkan overview perkembangan negosiasi, Lula, dalam pidato yang ia sampaikan pada 19 November, menguraikan diskusi penting antara ketua kelompok kerja, Presiden Konferensi André Corrêa do Lago, dan berbagai kelompok negosiasi dari lintas benua.
Baca juga: 80 Negara Desak Peta Jalan Penghapusan Fosil, COP30 Masuk Babak Penentu
Forum itu membahas tiga isu paling pelik, transisi energi, adaptasi, dan pendanaan iklim. Bagi Brasil, overview ini bukan sekadar laporan harian, tetapi penegasan bahwa COP30 bergerak dari diplomasi simbolik menuju keputusan yang berimplikasi ekonomi.
Belém, Kota dengan Pesan Politik
Menghadirkan COP30 di Amazon adalah strategi yang disusun rapi. Lula ingin dunia melihat realitas hutan tropis terbesar di bumi, bukan melalui narasi luar, tapi melalui kehadiran langsung. Belém menjadi panggung yang memperlihatkan dinamika masyarakat lokal, kekuatan budaya, dan urgensi menjaga ekosistem yang menopang stabilitas iklim global.

Tak heran banyak peserta menyebutnya sebagai People’s COP, karena ribuan warga, komunitas adat, akademisi, dan aktivis memenuhi ruang dialog.
Ekonomi Baru Berbasis Hutan
Salah satu perkembangan paling menonjol datang dari Tropical Forests Forever Fund (TFFF). Menteri Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Brasil, Marina Silva, mengumumkan dukungan besar dari Jerman sebesar €1 miliar. Dana ini dirancang sebagai model pembiayaan inovatif: negara yang menjaga hutan tropis akan menerima kompensasi melalui mekanisme investasi global yang memberikan imbal hasil setara tingkat pasar.
Baca juga: COP30: Waktu Menjadi Musuh Terbesar Aksi Iklim
TFFF pada dasarnya menciptakan ekonomi konservasi, mengubah hutan berdiri menjadi aset pembangunan yang menghasilkan manfaat sosial, ekonomi, dan iklim. Desain ini dianggap menjanjikan karena memberi insentif jangka panjang, bukan pendanaan proyek jangka pendek.
Partisipasi Publik dan Peran Perempuan
COP30 mencatat kehadiran lebih dari 3.500 perwakilan masyarakat adat, angka tertinggi dalam sejarah konferensi iklim. Lula menegaskan bahwa perempuan tidak boleh lagi menjadi “catatan pinggir” dalam perundingan global. Perspektif perempuan, menurutnya, menentukan kualitas kebijakan iklim dan masa depan keamanan ekologis.
Baca juga: Kesenjangan Lahan Global, COP30 Menguak Rumus Net Zero yang Salah Hitung
Dengan 87% listrik bersumber dari energi bersih dan bauran biofuel tertinggi di dunia, Brasil memposisikan diri sebagai contoh bahwa negara penghasil minyak pun dapat memimpin transisi. Namun Lula menegaskan bahwa negara-negara berkembang tidak dapat menanggung beban sendiri. Transfer teknologi, investasi energi bersih, dan dukungan finansial dari negara maju menjadi kunci agar Afrika, Asia, dan Amerika Latin dapat melakukan lompatan kualitas.
Lula menutup overview dengan penegasan bahwa tidak ada keputusan di COP yang dipaksakan. Konsensus adalah satu-satunya jalan. “Masa depan tanpa fosil itu mungkin,” ujarnya. “Dan jika itu mungkin, mari kita bangun bersama.” ***
- Foto: Ricardo Stuckert/Secom-PR – Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyampaikan overview perkembangan negosiasi COP30 di Belém, didampingi jajaran pimpinan konferensi dan tokoh masyarakat sipil.


