El Nino 2026: Stress Test Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Indonesia

El Nino 2026 menjadi stress test bagi ketahanan pangan, energi, dan air Indonesia, dengan dampak puncak diproyeksikan pada 2027.

PROBABILITAS kemunculan El Nino pada pertengahan 2026 kini mencapai 62%, berdasarkan proyeksi terbaru dari NOAA Climate Prediction Center. Angka ini menunjukkan satu hal sederhana, peluang terjadinya lebih besar daripada tidak terjadi.

Namun dalam kerangka kebijakan, angka tersebut bukan sekadar probabilitas. Itu adalah sinyal dini bahwa sistem iklim global sedang bergerak menuju fase pemanasan tambahan, di atas tren pemanasan jangka panjang yang sudah berlangsung.

“Intensitasnya masih belum pasti, tetapi ada potensi El Nino moderat hingga kuat pada musim gugur hingga musim dingin,” ujar Meteorolog AccuWeather, Paul Pastelok, seperti dikutip Live Science.

Dengan demikian, ketidakpastian kini bergeser. Bukan lagi soal apakah El Nino akan terjadi, melainkan seberapa besar tekanan yang akan dihasilkan.

Dari Curah Hujan ke Harga Pangan

Dalam konteks Indonesia, dampak El Nino hampir selalu bermula dari perubahan curah hujan.

Penurunan intensitas hujan atau pergeseran musim tanam akan langsung memengaruhi produksi pertanian. Pada tahap awal, gangguan masih bersifat teknis, terjadi di lahan, pada tingkat produksi.

Namun, dampaknya bergerak cepat ke level sistem.

Baca juga: Air Dunia di Titik Kritis, Ketahanan Pangan dan Energi Terancam Jika Tata Kelola Tidak Berubah

Ketika produksi menurun, tekanan berpindah ke distribusi. Pasokan menipis, harga mulai naik, dan dalam waktu singkat isu ini berubah menjadi persoalan inflasi.

Di titik ini, El Nino bertransformasi dari fenomena iklim menjadi isu ekonomi.

Dengan baseline suhu global yang sudah lebih tinggi, potensi gangguan tersebut tidak lagi linear. Risiko terhadap produksi pangan meningkat, dan dampaknya terhadap harga menjadi lebih cepat terasa.

El Nino tidak dimulai di sawah, tetapi hampir selalu berakhir di pasar.

Energi dan Air, Risiko yang Kurang Terlihat

Dampak El Nino tidak berhenti di sektor pangan.

Penurunan curah hujan berarti berkurangnya ketersediaan air, yang berimplikasi langsung pada pembangkit listrik tenaga air. Ketika debit air menurun, kapasitas produksi energi ikut tertekan.

Dalam kondisi tersebut, sistem energi harus menutup kekurangan melalui sumber lain, yang dalam praktiknya masih didominasi oleh pembangkit berbasis fosil.

Di titik ini, tekanan muncul secara simultan.

Baca juga: Ketahanan Pangan Indonesia di Bawah Bayang-bayang Krisis Iklim

Biaya energi berpotensi meningkat, sementara jalur transisi energi menjadi lebih berat karena ketergantungan jangka pendek terhadap energi konvensional kembali menguat.

Pada saat yang sama, kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, yang memiliki implikasi langsung terhadap agenda pengendalian emisi dan target FOLU Net Sink 2030.

El Nino, dalam konteks ini, menguji keterhubungan antar sistem, pangan, energi, dan lingkungan, secara bersamaan.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Dampak Tertunda, Mengapa 2027 Lebih Berisiko

Dampak El Nino tidak hanya berhenti pada gangguan sektoral seperti pangan dan energi. Dalam skala global, fenomena ini juga memengaruhi dinamika suhu Bumi secara keseluruhan. Salah satu karakter penting El Nino-Southern Oscillation (ENSO) adalah efek tertunda terhadap suhu global.

Kenaikan suhu yang dipicu oleh El Nino tidak langsung mencapai puncaknya pada tahun yang sama, tetapi cenderung memuncak pada tahun berikutnya.

Baca juga: Jejak Karbon Tertinggi dalam Sejarah, Sinyal Krisis yang Tak Lagi Bisa Ditunda

“El Nino akan datang. Ini akan mendorong kenaikan suhu global pada 2026, dan membuat 2027 sangat mungkin menjadi tahun terpanas dalam sejarah,” tulis ilmuwan iklim Zeke Hausfather, seperti dikutip Live Science.

Artinya, 2026 dapat dipahami sebagai fase awal tekanan, sementara 2027 berpotensi menjadi fase akumulasi dampak.

Dalam kerangka kebijakan, ini menciptakan jendela waktu yang sangat terbatas untuk melakukan mitigasi sebelum dampak mencapai titik maksimum.

Variabilitas Alam dalam Sistem yang Sudah Memanas

El Nino merupakan bagian dari variabilitas alami sistem iklim Bumi yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Namun konteksnya kini berbeda. Pemanasan global telah meningkatkan baseline suhu, sehingga setiap anomali tambahan, termasuk El Nino, bekerja di atas sistem yang sudah lebih panas.

El Nino tidak menyebabkan perubahan iklim.
Namun, El Nino memperbesar dampaknya dalam sistem yang sudah mengalami pemanasan.

Inilah yang membuat setiap siklus terbaru terasa lebih intens dan lebih luas dampaknya dibandingkan sebelumnya.

Adaptasi atau Krisis Berulang

Dengan karakteristik tersebut, El Nino tidak lagi dapat diposisikan sebagai kejadian temporer yang direspons secara reaktif.

El Nino adalah bagian dari pola risiko yang berulang.

Dalam konteks Indonesia, respons kebijakan perlu bergerak dari pendekatan responsif ke pendekatan antisipatif.

Penguatan cadangan pangan menjadi bagian dari strategi ketahanan nasional.
Manajemen air perlu berbasis risiko iklim, bukan sekadar infrastruktur.
Diversifikasi energi menjadi kebutuhan sistemik untuk menjaga stabilitas saat terjadi gangguan.

Baca juga: Hutan sebagai “Pabrik Hujan”, Nilai Ekonomi yang Terlupakan dalam Kebijakan Air dan Pangan

Tanpa perubahan pendekatan, setiap siklus El Nino berpotensi kembali muncul sebagai shock, dengan pola dampak yang berulang.

El Nino 2026 menempatkan Indonesia pada satu titik uji yang nyata. Apakah sistem yang ada cukup tangguh untuk menyerap tekanan, atau justru memperbesar dampaknya menjadi krisis.

Dalam konteks ini, data bukan hanya alat baca. Data adalah fondasi keputusan.

Foto: Dok. sda.pu – Kondisi waduk dengan debit air yang menyusut signifikan saat musim kering. Fenomena El Nino berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air, energi, dan produksi pangan di Indonesia.

SustainReview.ID – Data untuk Kebijakan, Narasi untuk Perubahan.

Bagikan