Dari dapur rumah hingga sektor komersial, minyak jelantah dikumpulkan untuk diolah jadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) ramah lingkungan.
TRANSISI energi tak lagi sekadar jargon. Pertamina membuka jalur bisnis baru lewat pengolahan minyak jelantah rumah tangga menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Inisiatif ini bukan hanya soal menjaga langit tetap biru, tetapi juga membangun rantai pasok energi bersih yang melibatkan masyarakat, pelaku usaha, hingga industri penerbangan.
Program bernama UCollect ini dirancang untuk menghubungkan dapur rumah tangga dengan ekosistem energi hijau. Warga bisa menukarkan minyak jelantah di titik pengumpulan, seperti UCollect Box di SPBU Pertamina dan rumah sakit IHC. Saat ini, tersedia 35 titik pengumpulan di kota-kota strategis, mulai Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, hingga Palembang. Lokasi lengkap bisa dilihat di aplikasi MyPertamina.
Menyasar Rumah Tangga dan Sektor Komersial
Selain rumah tangga, Pertamina juga menggandeng sektor komersial. Hotel, restoran, dan kafe (HoReCa) diajak masuk ke dalam jaringan pengumpulan minyak jelantah. Langkah ini bukan hanya mencegah limbah berakhir di saluran air, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sampah.
Baca juga: NASA Investasi 11,5 juta dolar AS untuk Penerbangan Nol Emisi
Bagi industri perhotelan dan restoran, partisipasi ini bisa menjadi bagian dari strategi keberlanjutan, sekaligus meningkatkan citra ramah lingkungan di mata konsumen global.
SAF Indonesia Terbang Perdana
Gebrakan Pertamina mencapai puncaknya saat Pelita Air, anak usaha Pertamina, melakukan penerbangan perdana Jakarta–Bali dengan avtur SAF berbasis minyak jelantah pada 20 Agustus lalu.

Produk SAF dari Kilang Pertamina RU IV Cilacap telah memenuhi standar internasional DefStan 91-091 dan tersertifikasi International Sustainability & Carbon Certification (ISCC) sesuai kerangka CORSIA. Bahkan, SAF ini juga sudah mengantongi sertifikat Renewable Energy Directive European Union (RED EU).
Baca juga: Ironi Private Jet, Emisi Besar dari Segelintir Orang Kaya
Prospek Ekspansi dan Peluang Pasar
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan ekspansi produksi SAF akan diperluas ke Kilang RU II Dumai dan RU VI Balongan. Dengan langkah ini, Indonesia berpotensi menjadi pusat produksi SAF berbasis minyak jelantah di Asia Tenggara.
Bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan, inisiatif ini membuka peluang investasi baru di bidang energi bersih, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok aviasi global yang semakin menuntut standar keberlanjutan.
Baca juga: GRP Bawa Baja Indonesia ke Level Dunia dengan ESG dan Inovasi Digital
Inisiatif UCollect memperlihatkan bahwa transisi energi bisa lahir dari dapur rumah, berlanjut ke sektor komersial, hingga akhirnya menopang industri penerbangan. Kontribusi sederhana masyarakat dalam mengumpulkan minyak jelantah ternyata bisa menopang langkah besar menuju energi bersih.
Pertamina mengirim pesan jelas. Bisnis energi masa depan tidak hanya soal eksplorasi minyak atau gas, tetapi juga soal inovasi, kolaborasi, dan keberanian mengubah limbah menjadi sumber daya. ***
- Foto: Dok. Pelita Air.