TRANSISI energi Indonesia memasuki fase baru. Bukan lagi soal menambah pembangkit, tetapi memperluas makna energi bersih itu sendiri. Di titik inilah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menempatkan diri, sebagai penggerak panas bumi yang melampaui listrik.
Mengusung tema Empowering The Green Acceleration, PGE memaknai panas bumi sebagai ekosistem. Bukan hanya sumber energi baseload rendah emisi, tetapi fondasi bagi inovasi teknologi, penguatan industri hijau, dan pemberdayaan sosial. Pendekatan ini menjadi bagian dari persiapan strategis menuju satu abad pengembangan panas bumi Indonesia pada 2026.
Dari Baseload ke Ekosistem Energi Bersih
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzandi, menyebut ambisi perusahaan telah bergerak ke fase Beyond Electricity. Artinya, panas bumi tidak lagi diposisikan semata sebagai pembangkit listrik, tetapi sebagai sumber energi primer untuk berbagai kebutuhan masa depan, termasuk hidrogen hijau.
Baca juga: Panas Bumi Naik Kelas, PGE Bidik 1,7 GW untuk Perkuat Kedaulatan Energi
Peluncuran Groundbreaking Pilot Project Green Hydrogen di Ulubelu pada September 2025 menjadi penanda penting. Proyek ini memperlihatkan bagaimana panas bumi dapat menopang rantai nilai energi bersih yang lebih luas, sejalan dengan agenda dekarbonisasi industri dan transportasi nasional.
Ekspansi Terukur, Target Jangka Panjang
Dari sisi operasional, PGE bergerak agresif namun terukur. Beroperasinya Lumut Balai Unit 2, dimulainya eksplorasi PLTP Gunung Tiga, serta sinergi dengan PLN Indonesia Power untuk mempercepat 19 proyek eksisting dengan total kapasitas 530 MW menunjukkan fokus pada skala dan keandalan. Panas bumi tetap diposisikan sebagai tulang punggung ketahanan energi.
Baca juga: 1 GW 2030, Ambisi PGE Memimpin Geothermal Dunia
Saat ini, PGE mengelola kapasitas terpasang 727 MW di enam wilayah operasi. Di saat bersamaan, proyek baru seperti PLTP Hululais Unit 1 & 2 (110 MW) dan inisiatif co-generation berkapasitas 230 MW tengah disiapkan. Targetnya jelas: 1 GW dalam dua hingga tiga tahun ke depan, dan 1,8 GW pada 2033.

Peta Kapasitas Menuju 1,8 GW
Lebih jauh, PGE telah mengidentifikasi potensi tambahan sekitar 3 GW dari 10 Wilayah Kerja Panas Bumi yang dikelola mandiri. Angka ini menempatkan PGE sebagai aktor kunci dalam peta panas bumi global, bukan hanya nasional.
Bagi Indonesia, strategi ini relevan di tengah kebutuhan energi bersih yang stabil, domestik, dan tidak bergantung pada impor. Panas bumi menawarkan keunggulan struktural yang belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh banyak negara berkembang.
Energi Bersih dan Legitimasi Sosial
Namun, ekspansi teknologi tanpa legitimasi sosial berisiko menimbulkan friksi. Di titik ini, PGE mencoba menjaga keseimbangan. Program PGE Berbagi dijadikan bagian integral dari strategi keberlanjutan, bukan sekadar aktivitas filantropi insidental.
Direktur Operasi PGE, Ahmad Yani, menegaskan bahwa keberlanjutan energi harus berjalan seiring dengan keberlanjutan sosial. Bantuan pendidikan bagi anak yatim dan kelompok rentan menjadi simbol pendekatan tersebut, meski tantangan ke depan adalah memastikan dampak sosial ini terintegrasi lebih dalam ke rantai nilai bisnis hijau.
Baca juga: Green Hydrogen, Ambisi Baru PGE dan Toyota untuk Energi Bersih Indonesia
Bagi pembuat kebijakan dan praktisi, langkah PGE mencerminkan pergeseran penting. Panas bumi tidak lagi diperlakukan sebagai proyek sektoral, melainkan sebagai instrumen strategis transisi energi, industrialisasi hijau, dan pembangunan wilayah.
Menuju 100 tahun panas bumi Indonesia, pertanyaannya bukan lagi apakah panas bumi relevan. Melainkan, sejauh mana mampu menjadi poros utama ekonomi hijau nasional. ***
- Foto: PT PGE – Fasilitas pembangkit panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) beroperasi sebagai bagian dari strategi jangka panjang penguatan energi hijau nasional dan ketahanan pasokan listrik rendah emisi.


