BAGI banyak anak muda, ijazah sarjana tidak lagi terasa sebagai jaminan masa depan. Survei terbaru Indeed Hiring Lab mengungkapkan, hampir separuh Generasi Z menilai kuliah bukan investasi yang sepadan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius, apakah sistem pendidikan tinggi yang ada sekarang masih relevan dan berkelanjutan?
Biaya Tinggi, Akses yang Timpang
Selama puluhan tahun, kuliah identik dengan gaji yang lebih tinggi. Namun kini, kesenjangan upah antara lulusan sarjana dan lulusan sekolah menengah stagnan, sementara biaya kuliah terus meroket.
Hasilnya? Lebih dari separuh dari 772 profesional di Amerika Serikat, hampir separuhnya Gen Z, yang menjadi responden survei Indeed mengaku meninggalkan kampus dengan utang mahasiswa. Beban cicilan ini tidak hanya memengaruhi keuangan pribadi, tetapi juga menghambat mobilitas karier. Inilah yang disebut banyak pengamat sebagai “utang antargenerasi”. Beban yang diwariskan dari masa kuliah ke fase awal kehidupan kerja, dan sering kali berimbas ke kesejahteraan keluarga.
Baca juga: Indonesia Merosot di Peta Daya Saing Dunia, Sinyal Bahaya di Era Bonus Demografi
Jika tren ini berlanjut, pendidikan tinggi justru bisa memperdalam ketidaksetaraan sosial. Hanya mereka yang mampu secara finansial yang benar-benar bisa menikmati akses penuh, sementara yang lain terjebak dalam siklus utang panjang.
Dari Gelar ke Keterampilan
Menariknya, survei yang sama menunjukkan mayoritas Gen Z merasa bisa melakukan pekerjaan mereka saat ini tanpa gelar formal. Sebanyak 68% responden generasi muda lebih percaya pada keterampilan praktis dibanding ijazah.
Perusahaan pun tampaknya mulai sejalan. Data Indeed menunjukkan lebih dari separuh lowongan kerja kini tidak lagi mencantumkan syarat gelar. Dunia kerja perlahan bergerak ke arah skills-based hiring, yang dihargai bukan lagi apa gelar yang dimiliki, melainkan apa yang bisa dilakukan.

Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi lembaga pendidikan. Kampus tidak bisa lagi sekadar mencetak lulusan dengan ijazah, tetapi harus memastikan mereka dibekali keterampilan relevan untuk dunia kerja yang berubah cepat.
Pendidikan di Era AI dan Green Economy
Di tengah pesatnya perkembangan AI dan tuntutan transisi ke ekonomi hijau, kebutuhan akan keterampilan baru makin mendesak. Adaptasi teknologi, solusi ramah lingkungan, hingga kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi lintas bidang menjadi kunci.
Baca juga: Legal Analytics, Sahabat Baru atau Ancaman Profesi Hukum?
Namun, jika perguruan tinggi terus lamban beradaptasi, lulusan berisiko tertinggal. Sistem pendidikan harus mampu menekankan lifelong learning, pembelajaran sepanjang hayat, agar pekerja bisa terus reskilling dan upskilling sesuai kebutuhan zaman.
Keberlanjutan Pendidikan = Keberlanjutan Sosial
Efisiensi sumber daya juga patut dipertanyakan. Jika pendidikan tinggi menguras biaya dan energi besar tanpa sebanding dengan hasilnya, apakah sistem ini masih efisien secara sosial dan ekonomi?
Baca juga: Masa Depan Pekerjaan, Green Jobs dan Keahlian Teknologi Dominasi 2030
Dalam konteks keberlanjutan, pendidikan tidak bisa hanya eksklusif untuk sebagian kalangan. Pendidikan harus menjadi ekosistem pembelajaran yang inklusif, relevan, dan adaptif, membantu generasi baru menghadapi tantangan iklim, ekonomi hijau, hingga dunia kerja berbasis keterampilan.
Pertanyaan untuk Masa Depan
Pendidikan tinggi kini berada di ujung tanda tanya. Bukan hanya tentang nilai ijazah, tapi juga tentang keberlanjutan sosial, relevansi keterampilan, dan akses yang adil bagi semua.
Mungkin, sudah saatnya kita menggeser paradigma dari mengejar gelar menjadi menumbuhkan keterampilan. Dari menguras biaya menjadi menciptakan efisiensi. Dari eksklusif menuju inklusif.
Karena masa depan yang berkelanjutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal generasi yang mampu belajar, beradaptasi, dan bertahan. ***
- Foto: Pixabay/ Pexels – Tradisi melempar toga saat wisuda, simbol pencapaian pendidikan tinggi. Namun di balik euforia ini, generasi muda mulai mempertanyakan apakah gelar sarjana masih sepadan dengan biaya dan beban yang ditanggung.