TRANSISI energi tak lagi berhenti di ruang kebijakan. Tapi, mulai masuk ke lantai produksi.
Bagi industri barang konsumsi cepat saji (FMCG), energi kini menjadi isu strategis. Bukan sekadar biaya operasional, tetapi bagian dari manajemen risiko dan reputasi keberlanjutan.
Langkah OT Group memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di berbagai fasilitas produksinya menandai pergeseran itu. Berkolaborasi dengan Xurya Daya Indonesia, perusahaan ini kini menghasilkan sekitar 8 juta kWh energi bersih per tahun, sekaligus menekan sekitar 7.000 ton emisi CO₂e. Angka ini relevan bagi sektor manufaktur yang selama ini identik dengan konsumsi energi tinggi.
PLTS Atap sebagai Infrastruktur Bisnis Hijau
Implementasi PLTS atap dilakukan di tujuh unit produksi milik PT Ultra Prima Abadi dan PT CS2 Pola Sehat. Lokasinya tersebar dari Tangerang, Bogor, Pandaan, Daan Mogot, hingga Banyuasin, Maros, dan Jombang. Sebaran lintas pulau ini memberi pesan penting. PLTS atap telah melampaui status proyek percontohan dan mulai berfungsi sebagai infrastruktur energi industri.
“Sebagai perusahaan produk konsumen yang aktif mendorong transformasi menuju operasi hijau, kami berkomitmen menerapkan solusi energi bersih dalam lini produksi,” ujar CEO FMCG OT Group, Donny.
Baca juga: Indonesia Kekurangan Bangunan Hijau, Mengapa Investasi dan Kebijakan Belum Sinkron?
Kolaborasi ini berawal dari tiga lokasi CS2 Pola Sehat, lalu diperluas ke pabrik Ultra Prima Abadi setelah manfaatnya terbukti secara operasional.
Dari Klaim ESG ke Angka yang Terukur
Salah satu contoh konkret datang dari pabrik UPA Jombang. Di lokasi ini, pengurangan emisi hampir 1.700 ton CO₂e, setara dengan lebih dari 20.000 pohon. Bagi praktisi keberlanjutan, angka ini penting karena menunjukkan bahwa PLTS atap bukan sekadar narasi ESG, tetapi instrumen mitigasi emisi yang terukur dan dapat diaudit.
Baca juga: Bank Mandiri Perkuat Ekosistem Energi Terbarukan Indonesia

Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana industri FMCG mulai mengintegrasikan energi bersih ke dalam target efisiensi dan dekarbonisasi. Energi surya atap menjadi bagian dari strategi jangka menengah, bukan proyek simbolik.
Model Bisnis dan Dukungan Kebijakan
Di sisi lain, peran Xurya menyoroti pentingnya inovasi model bisnis. Sebagai pionir skema sewa PLTS tanpa biaya awal, Xurya menurunkan hambatan investasi bagi industri. “Kami berkomitmen membersamai OT Group hingga akhir masa operasional sistem selama puluhan tahun,” kata Managing Director Xurya Daya Indonesia, Eka Himawan.
Langkah ini berjalan seiring dengan arah kebijakan nasional. Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 membuka ruang lebih luas bagi pemanfaatan PLTS atap dengan penghapusan batas kapasitas pemasangan. Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan kembali target net zero emission 2060, dengan energi terbarukan sebagai tulang punggung transisi.
Baca juga: Alfamidi dan Energi Surya, Retails Mulai Masuk Babak Baru Pengelolaan Emisi
Dalam konteks tersebut, adopsi PLTS atap oleh OT Group mencerminkan pertemuan antara kebijakan publik dan kepentingan bisnis. Tantangan berikutnya terletak pada konsistensi implementasi, integrasi ke rantai pasok, dan perluasan skala lintas sektor.
Bagi industri barang konsumsi, energi bersih kini menjadi faktor daya saing.
Bagi pembuat kebijakan, inisiatif ini menjadi bukti bahwa regulasi yang tepat dapat mendorong transformasi industri secara nyata. ***
- Foto: Dok. Xurya – Instalasi PLTS atap di fasilitas produksi OT Group menunjukkan integrasi energi surya ke dalam strategi operasional industri FMCG sebagai bagian dari transisi energi nasional.


