Krisis Iklim Global Menekan Arus Laut Selatan Jawa

INDONESIA mulai memahami lebih dalam bagaimana perubahan iklim global mempengaruhi “mesin laut” yang selama ini ikut mengatur cuaca, perikanan, hingga stabilitas pesisir di selatan Nusantara.

Riset terbaru kolaborasi BRIN dan Universitas Padjadjaran (UNPAD) berhasil merekonstruksi dinamika South Java Coastal Current (SJCC) atau Arus Pantai Selatan Jawa menggunakan data panjang selama 30 tahun, dari 1993 hingga 2023.

SJCC adalah arus laut permukaan yang mengalir dominan ke arah timur di sepanjang pantai barat Sumatra hingga selatan Jawa dan Pulau Sumba. Arus ini membawa massa air hangat dari Samudra Hindia tropis dan berperan penting dalam memengaruhi curah hujan, suhu laut, hingga produktivitas perikanan Indonesia.

Baca juga: Lima Teknologi untuk Lindungi Pantura, Cukupkah Menahan Krisis Pesisir?

Temuan ini menjadi penting karena Indonesia selama ini berada di salah satu kawasan laut paling sensitif terhadap perubahan iklim global.

Perubahan iklim global ternyata dapat melemahkan arus laut penting Indonesia, dan dampaknya bisa menjalar ke cuaca regional, perikanan tangkap, hingga risiko pesisir.

Membaca Mesin Laut

Tim peneliti menemukan bahwa SJCC tidak bergerak secara stabil sepanjang tahun. Arus ini berubah mengikuti interaksi kompleks antara monsun, Indian Ocean Dipole (IOD), dan El Niño-Southern Oscillation (ENSO).

Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, menjelaskan bahwa pada kondisi normal saat monsun tenggara berlangsung pada Juni hingga September, arus ke timur biasanya hanya dominan di selatan Jawa.

Namun, situasinya berubah drastis ketika fenomena iklim global muncul.

Baca juga: Pantura Jawa Kehilangan Daya Dukung, Koridor Ekonomi Nasional di Ujung Risiko

Pada periode IOD Negatif seperti 2016 dan La Niña seperti 2010, arus SJCC justru menguat besar-besaran di sepanjang selatan Jawa. Sebaliknya, saat IOD Positif dan El Niño muncul, arus tersebut melemah signifikan.

Riset ini juga mencatat kondisi ekstrem pada 2023 ketika El Niño dan IOD Positif terjadi bersamaan.

Akibatnya, arus SJCC mengalami supresi kuat dari September hingga Desember 2023. Pada periode yang sama, tinggi muka laut di selatan Jawa turun hingga sekitar minus 16 hingga 17 sentimeter.

Angka tersebut menjadi salah satu sinyal kuat bagaimana fenomena iklim global dapat memengaruhi dinamika laut Indonesia secara langsung.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Dampak ke Perikanan

Dinamika SJCC tidak hanya penting bagi ilmuwan iklim.

Arus ini berkaitan erat dengan fenomena upwelling, yaitu pengangkatan massa air kaya nutrien dari dasar laut ke permukaan. Proses tersebut menjadi fondasi penting bagi produktivitas perikanan tangkap di selatan Jawa.

Artinya, perubahan kekuatan arus laut berpotensi memengaruhi lokasi ikan, pola tangkapan nelayan, hingga stabilitas ekonomi pesisir.

Baca juga: Stok Ikan Laut Jawa Menyusut Drastis, Alarm Degradasi Lingkungan

Dalam konteks perubahan iklim, pemahaman terhadap arus laut menjadi instrumen penting untuk memperkuat sistem prediksi cuaca dan adaptasi maritim Indonesia.

Data oseanografi jangka panjang juga semakin penting karena perubahan iklim global membuat pola laut dan atmosfer menjadi semakin tidak stabil.

Data untuk Adaptasi

Riset ini menunjukkan bahwa Indonesia mulai bergerak menuju pendekatan iklim berbasis data jangka panjang, bukan sekadar respons musiman.

Pendekatan tersebut penting karena krisis iklim modern tidak lagi hanya berbicara soal suhu udara, tetapi juga perubahan sistem laut yang bekerja di bawah permukaan.

BRIN menyebut pengaruh IOD terhadap variabilitas SJCC bahkan lebih kuat dibanding ENSO dalam memengaruhi arus laut selatan Jawa.

Baca juga: Garis Pantai Masa Depan, 0,6 Meter yang Bisa Diselamatkan

Temuan ini dapat menjadi dasar penguatan pemodelan iklim nasional, sistem peringatan dini maritim, hingga strategi pengelolaan perikanan berbasis perubahan iklim.

Di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem dan tekanan terhadap wilayah pesisir, kemampuan membaca dinamika laut kini menjadi bagian penting dari ketahanan iklim Indonesia. ***

Garis pantai selatan Jawa menjadi salah satu wilayah yang paling dipengaruhi dinamika arus laut dan perubahan iklim global.

  • Foto: Al Fariz/ Pexels Garis pantai selatan Jawa menjadi salah satu wilayah yang paling dipengaruhi dinamika arus laut dan perubahan iklim global.
Bagikan