KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) sedang mengubah wajah industri pusat data di Indonesia.
Perubahannya bukan hanya terlihat dari jumlah proyek yang bertambah. AI juga membuat setiap fasilitas membutuhkan daya listrik dan sistem pendinginan yang jauh lebih besar.
Head of Talent Development & Industry Certification Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia atau IDPRO, Erick Hadi, mengatakan pertumbuhan industri pusat data Indonesia kini melampaui rata-rata global yang berada di kisaran 20–25 persen per tahun.
Pertumbuhan itu didorong oleh meningkatnya penggunaan layanan cloud, kebutuhan penyimpanan data, serta ekspansi komputasi AI.
Indonesia juga mulai menjadi tujuan investasi pusat data di Asia Tenggara. Pasarnya besar. Jumlah pengguna digital terus meningkat. Kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data domestik juga semakin luas.
Namun, pertumbuhan tersebut membawa kebutuhan infrastruktur yang sama sekali berbeda.
Satu Rack Bisa Butuh 200 kW
EVP ASEAN Region Rittal International, Ajay Bhargava, mengatakan pusat data konvensional umumnya membutuhkan kapasitas pendinginan sekitar 10 kW per rack. Pada fasilitas dengan kepadatan lebih tinggi, kebutuhannya dapat mencapai 20–35 kW.
Pusat data AI dapat membutuhkan kapasitas hingga 100–200 kW per rack.
Lonjakan itu terjadi karena server AI menggunakan graphic processing unit atau GPU dalam jumlah besar. GPU dapat memproses banyak operasi secara bersamaan, tetapi juga menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan server konvensional.
Baca juga: AI Tumbuh, Data Center Butuh Aturan Hijau
Artinya, AI tidak hanya membutuhkan lebih banyak mesin. AI juga membutuhkan lebih banyak listrik untuk mengoperasikan server dan menjaga suhunya tetap aman.
Pendinginan udara konvensional pun belum tentu memadai. Pengelola mulai beralih ke teknologi pendinginan cair yang lebih efektif untuk menangani server berdaya tinggi.
Investasi Digital Membawa Beban Fisik
Selama ini, pertumbuhan ekonomi digital sering terlihat seolah hanya berlangsung di ruang virtual.
Padahal, setiap layanan AI ditopang bangunan fisik, jaringan transmisi, sistem kelistrikan, mesin pendingin, dan dalam beberapa model operasional, pasokan air dalam jumlah besar.
Badan Energi Internasional atau IEA memperkirakan konsumsi listrik pusat data dunia akan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 terawatt-hour pada 2030. AI diperkirakan menjadi pendorong terbesar kenaikan tersebut.

Indonesia akan menghadapi tekanan serupa apabila pertumbuhan pusat data tidak diiringi perencanaan energi.
Pemerintah sebelumnya menyebut Indonesia memiliki 185 pusat data dengan kapasitas sekitar 274 megawatt. Kapasitas tersebut ditargetkan melampaui 2.000 megawatt pada 2029.
Pertumbuhan sebesar itu akan menciptakan permintaan listrik baru yang besar, terkonsentrasi, dan harus tersedia selama 24 jam.
Baca juga: AI Merancang AI, Regulasi Harus Mengejar
Karena itu, kesiapan pusat data tidak cukup dinilai dari ketersediaan lahan dan besarnya investasi. Kapasitas jaringan listrik lokal juga harus diperhitungkan.
Pembangunan tanpa perencanaan dapat memunculkan persaingan penggunaan listrik dengan kawasan industri, bisnis, dan permukiman.
Jangan Hanya Menjadi Lokasi Limpahan
Narasi bahwa Indonesia memperoleh limpahan investasi setelah Singapura menghentikan pembangunan pusat data juga perlu dilihat secara lebih utuh.
Singapura memang memberlakukan jeda pembangunan pada 2019. Namun, kebijakan tersebut mulai dilonggarkan secara selektif sejak 2022.
Pada 2026, Singapura kembali membuka alokasi sedikitnya 200 MW kapasitas pusat data baru. Namun, calon pengembang diwajibkan memenuhi standar efisiensi tinggi dan menyediakan sedikitnya 50 persen pasokan listrik dari sumber energi hijau.
Indonesia perlu belajar dari pendekatan tersebut.
Baca juga: Data Center Haus Air, Janji Hijau Google Masuk Ujian Lokal
Investasi pusat data seharusnya tidak hanya dinilai dari nilai proyek, kapasitas server, atau jumlah bangunan yang berdiri. Pemerintah juga perlu menetapkan batas efisiensi energi, standar penggunaan air, target energi terbarukan, serta kewajiban pelaporan emisi.
Tanpa aturan yang kuat, Indonesia berisiko hanya menjadi lokasi bagi infrastruktur digital berdaya besar yang manfaat ekonominya terbatas, tetapi beban energi dan lingkungannya ditanggung dalam jangka panjang.
AI memang membuka peluang baru bagi ekonomi digital Indonesia. Namun, peluang itu harus dibangun bersama sistem energi dan tata kelola yang mampu mengimbanginya.
Sebab, pusat data tidak hanya menyimpan informasi. Di balik setiap proses AI, ada listrik, air, jaringan, dan emisi yang ikut bertambah. ***
- Foto: Brett Sayles/ Pexels – Deretan server di sebuah fasilitas pusat data. Pertumbuhan komputasi AI membuat kebutuhan listrik dan pendinginan pusat data meningkat tajam


