Erupsi Anak Krakatau menghentikan enam bandara dan mengacaukan ratusan penerbangan. Peristiwa ini menguji daya tahan jaringan transportasi Indonesia ketika simpul utamanya lumpuh.
SABTU malam, 5 September 2026, Terminal 3 Bandara Soekarno–Hatta masih dipenuhi penumpang. Pesawat datang dan berangkat. Layar informasi terus berganti.
Beberapa jam kemudian, bandara terbesar Indonesia itu berhenti.
Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terdeteksi di kawasan bandara. Hasil paper test menunjukkan tanda positif. Mulai Minggu pukul 01.30 WIB, operasi penerbangan dihentikan sementara.
Penutupan yang semula direncanakan empat jam terus diperpanjang. Hingga Minggu sore, Soekarno–Hatta dijadwalkan tetap tertutup setidaknya sampai pukul 17.30 WIB.
Gangguannya tidak berhenti di Tangerang. Lima bandara lain ikut ditutup: Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, Budiarto Curug, Pondok Cabe, dan Husein Sastranegara Bandung.
Satu erupsi di Selat Sunda telah menguji jaringan transportasi di wilayah dengan kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi tertinggi di Indonesia.
Ratusan Penerbangan Terdampak
Data Kementerian Perhubungan memperlihatkan dampaknya membesar dalam hitungan jam.
Pada periode penutupan awal Soekarno-Hatta, pukul 01.30–09.30 WIB, sebanyak 209 pergerakan pesawat dan 22.798 penumpang terdampak. Makassar menjadi rute domestik dengan gangguan terbanyak, sedangkan Singapura memimpin rute internasional.
Pembaruan Ditjen Perhubungan Udara pukul 10.35 WIB mencatat 202 penerbangan terdampak langsung di Soekarno-Hatta. Sebanyak 167 di antaranya dibatalkan. Halim Perdanakusuma mencatat 29 pembatalan dan Radin Inten II delapan pembatalan.
Masih ada 277 penerbangan lain di berbagai bandara yang ikut terdampak karena memiliki rute dari atau menuju bandara-bandara yang ditutup. Data tersebut menunjukkan bagaimana gangguan pada beberapa titik dapat menjalar jauh melampaui lokasi abu vulkanik.
Reuters, mengutip operator bandara, melaporkan sedikitnya 301 penerbangan terdampak hingga Minggu, termasuk 58 penerbangan internasional. Singapore Airlines dan Malaysia Airlines membatalkan penerbangan dari dan menuju Jakarta sepanjang hari.
Angka-angka itu bukan sekadar daftar penerbangan yang hilang dari layar keberangkatan. Setiap pembatalan dapat mengganggu rotasi pesawat, jadwal awak, ketersediaan armada, kapasitas terminal, dan penerbangan berikutnya.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meminta maskapai tidak memaksakan operasi. “Tidak memaksakan penerbangan apabila kondisi tidak memungkinkan atau belum memungkinkan,” kata Dudy dalam konferensi pers, Minggu.
Baca juga: Mesin Hidrogen Airbus Melaju, Bandara Masih Tertinggal
Keputusan menutup bandara memang tepat. Abu vulkanik dapat merusak mesin jet, mengikis komponen turbin, mengganggu sistem udara, dan mengurangi kemampuan pandang pilot.
Namun, keputusan yang benar dari sisi keselamatan sekaligus membuka pertanyaan lebih besar: apa yang terjadi ketika simpul penerbangan terpenting Indonesia harus berhenti lebih lama?
Besarnya dampak membuat penanganan erupsi Anak Krakatau mendapat perhatian langsung Presiden Prabowo Subianto. Melalui akun Instagram resmi Presiden, Prabowo menyatakan terus memantau perkembangan situasi dan menerima laporan terbaru dari jajaran terkait.
Presiden menginstruksikan BNPB, BMKG, TNI, Polri, pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, serta lembaga terkait untuk memperkuat kesiapsiagaan dan memastikan perlindungan masyarakat.
“Tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti seluruh arahan pemerintah dan petugas di lapangan,” demikian imbauan Presiden.
Pesan tersebut ditujukan terutama kepada masyarakat di Jakarta, Banten, Lampung, dan kawasan sekitar Selat Sunda. Warga juga diminta tidak mendekati Anak Krakatau serta mematuhi zona bahaya yang ditetapkan pihak berwenang.
Arahan Presiden memperlihatkan bahwa erupsi ini tidak lagi dipandang sebagai persoalan lokal. Abu vulkanik telah memengaruhi kesehatan masyarakat, penerbangan, penyeberangan, kegiatan sekolah, dan mobilitas lintas wilayah.
Mencari Simpul Pengganti
Soekarno–Hatta bukan bandara biasa.
Bandara ini melayani kelompok lalu lintas penumpang terbesar di Indonesia. Pada Januari 2025 saja, Soekarno–Hatta menangani 4,71 juta penumpang, jauh di atas bandara-bandara lain yang dikelola InJourney Airports.
Ketika simpul sebesar ini terganggu, bandara alternatif harus menanggung sebagian bebannya. Pemerintah menyiapkan Kertajati, Ahmad Yani Semarang, dan Juanda Surabaya sebagai opsi pengalihan.
Dua penerbangan Garuda Indonesia dari Jeddah dan Madinah dialihkan ke Kertajati setelah pengujian di bandara tersebut tidak menemukan abu vulkanik. Namun, arah angin dan sebaran abu terus berubah. Bandara alternatif pun harus diuji berulang sebelum dinyatakan aman.
Alternatif udara saja tidak cukup.
KAI Daop 6 Yogyakarta menyiapkan dua perjalanan tambahan menuju Jakarta, yakni KA Tambahan Yogyakarta–Gambir dan Malang–Gambir. KAI Daop 4 Semarang juga menambah perjalanan untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan menuju ibu kota.
“Kami menyiapkan perjalanan kereta api tambahan untuk mengakomodir kebutuhan masyarakat,” kata Manajer Humas KAI Daop 6, Feni Novida Saragih.
Respons KAI menunjukkan pentingnya moda darat sebagai katup pengaman. Ketika udara tertutup, kereta dapat mempertahankan sebagian mobilitas antarkota.
Tetapi kereta tidak bisa menggantikan seluruh fungsi penerbangan. Kapasitasnya terbatas. Jangkauannya juga tidak menyelesaikan perjalanan internasional, distribusi kargo udara, atau kebutuhan menuju wilayah di luar jaringan rel Jawa.
Karena itu, ketahanan transportasi seharusnya tidak diukur dari seberapa cepat satu bandara kembali dibuka. Ukurannya adalah kemampuan seluruh jaringan untuk menyerap gangguan tanpa membuat mobilitas nasional ikut lumpuh.

Belajar Hidup Bersama
Episode erupsi menerus Anak Krakatau berlangsung sekitar 25 jam, sejak Jumat pukul 23.07 WIB hingga Minggu pukul 00.04 WIB. Setelah itu, PVMBG masih mencatat erupsi Strombolian selama sekitar 30 detik pada pukul 03.53 WIB.
Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan energi aktivitas vulkanik mulai menurun. Namun, Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Potensi letusan susulan, lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava masih ada.
“Dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih aktif,” kata Siti Sumilah.
Indonesia tidak dapat memilih untuk menjauh dari gunung api. Negara ini berada di kawasan dengan aktivitas vulkanik paling tinggi di dunia. Yang dapat dipilih adalah bagaimana infrastrukturnya dirancang untuk menghadapi gangguan.
Baca juga: Maskapai Mulai Berebut SAF Sebelum Regulasi 2030 Berlaku
Pelajaran dari Anak Krakatau bukan bahwa bandara tidak boleh ditutup. Justru penutupan memperlihatkan sistem keselamatan bekerja.
Ujian sesungguhnya datang setelah itu.
Apakah informasi pembatalan sampai kepada penumpang sebelum mereka berangkat ke bandara? Apakah bandara alternatif memiliki kapasitas apron, terminal, petugas, dan koneksi darat yang memadai? Apakah kereta dan bus dapat otomatis ditambah ketika penerbangan berhenti? Siapa mengoordinasikan perpindahan penumpang antarmoda?
Erupsi ini menunjukkan ketahanan transportasi tidak dapat dibangun per moda. Bandara, kereta, bus, pelabuhan, maskapai, dan sistem informasi harus dipersiapkan sebagai satu jaringan.
Gunung Anak Krakatau mungkin berada di tengah laut. Namun, abu yang dibawanya telah memperlihatkan sesuatu di daratan. Ketika satu simpul berhenti, ketangguhan seluruh sistem ikut dipertaruhkan. ***
- Foto: Dok. Hubud Kemenhub – Suasana Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sebelum operasional penerbangan dihentikan setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi di kawasan bandara.


