Desalinasi Berubah Arah, Krisis Air Jadi Strategi Industri

KRISIS air tidak lagi diposisikan sekadar sebagai persoalan layanan publik. Sebaliknya, mulai dibaca sebagai isu strategis, setara dengan energi dan pangan.

Langkah Korea Selatan membentuk koalisi nasional desalinasi menandai pergeseran itu. Negara tidak hanya membangun infrastruktur air, tetapi juga merancang industri adaptasi iklim yang siap bersaing di pasar global.

Di tengah tekanan perubahan iklim yang memperparah kekeringan dan mengganggu pasokan air tawar, desalinasi naik kelas. Dari solusi teknis menjadi agenda kebijakan dan daya saing.

Dari Infrastruktur ke Industri

Melansir Eco-Business, pemerintah Korea Selatan membentuk koalisi nasional yang melibatkan sekitar 30 aktor dari industri, akademisi, dan lembaga risetKoalisi yang dibentuk pemerintah Korea Selatan menggabungkan sekitar 30 aktor. Mulai dari lembaga pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri. Targetnya jelas, memperkuat teknologi domestik sekaligus memperluas pasar global.

Baca juga: Defisit Air Jawa Menguji Fondasi Ekonomi Indonesia

“Desalinasi air laut adalah alat yang sangat penting untuk memperkuat ketahanan air di era krisis iklim, sekaligus menjadi industri global yang tumbuh sangat cepat,” ujar Direktur Jenderal Kebijakan Pemanfaatan Air, Kim Ji-young, sebagaimana dikutip Eco-Business.

Pernyataan ini menunjukkan satu perubahan mendasar, adaptasi iklim tidak lagi dilihat sebagai biaya, tetapi sebagai peluang industri.

Pabrik desalinasi Daesan yang mampu memproduksi 100.000 ton air tawar per hari menjadi basis pengalaman operasional. Fasilitas ini bukan hanya untuk kebutuhan domestik, tetapi juga sebagai etalase teknologi untuk ekspansi luar negeri.

Pasar Global Sedang Terbentuk

Di saat yang sama, pasar global desalinasi sedang memasuki fase ekspansi.

Nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp368 triliun pada 2024 dan berpotensi menembus Rp985 triliun pada 2033, dengan pertumbuhan dua digit setiap tahun.

Baca juga: Jakarta dan Bayang-bayang Kebangkrutan Air Perkotaan

Permintaan terkonsentrasi di wilayah dengan tekanan air tinggi seperti Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun, tren baru mulai terlihat. Investasi juga meningkat di Amerika Utara, Australia, hingga Asia Selatan, wilayah yang sebelumnya tidak identik dengan krisis air kronis.

Artinya, water stress kini menjadi fenomena lintas kawasan, bukan lagi isu geografis terbatas.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview.

Teknologi Mengubah Ekonomi Air

Salah satu pendorong utama pertumbuhan ini adalah perubahan teknologi.

Model lama berbasis thermal yang boros energi mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, sistem reverse osmosis (RO) mendominasi karena lebih efisien dalam konsumsi energi dan biaya operasional.

Baca juga: Studi Menemukan, Pengonsumsi Air Kemasan Lebih Rentan Terpapar Mikroplastik

Perubahan ini penting. Selama bertahun-tahun, desalinasi dikritik karena mahal dan intensif energi. Dengan efisiensi yang meningkat, teknologi ini menjadi lebih layak secara ekonomi, terutama jika dikombinasikan dengan energi terbarukan.

Di titik ini, desalinasi tidak lagi sekadar solusi darurat, tetapi mulai masuk ke dalam perencanaan sistem air jangka panjang.

Keamanan Air sebagai Frontier Baru

Langkah Korea Selatan juga mencerminkan satu hal yang lebih besar. Keamanan air sedang naik menjadi agenda geopolitik baru.

Seperti energi satu dekade lalu, air kini mulai dilihat sebagai sumber daya strategis yang menentukan stabilitas ekonomi dan sosial.

Baca juga: Air Dunia di Titik Kritis, Ketahanan Pangan dan Energi Terancam Jika Tata Kelola Tidak Berubah

Negara yang mampu menguasai teknologi, membangun rantai pasok, dan mengekspor solusi akan berada di posisi lebih kuat dalam ekonomi global.

Apa Artinya untuk Indonesia

Pertanyaan kuncinya sederhana, apakah Indonesia masih melihat krisis air sebagai isu layanan dasar, atau sudah mulai membacanya sebagai agenda ketahanan dan peluang industri?

Dengan tekanan perubahan iklim, urbanisasi pesisir, dan penurunan kualitas air tanah di berbagai kota besar, kebutuhan terhadap solusi air alternatif akan meningkat.

Namun hingga kini, pendekatan kebijakan masih dominan pada aspek distribusi dan konservasi.

Baca juga: 2030 Kabul Bisa Kehabisan Air Minum, Apa Pelajaran untuk Indonesia?

Kasus Korea Selatan menunjukkan arah lain.
Membangun ekosistem industri air sejak awal, bukan hanya proyek.

Desalinasi kini tidak lagi sekadar tentang air. Ini adalah tentang bagaimana negara membaca krisis, dan mengubahnya menjadi strategi.

Dalam lanskap ini, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi tersedia. Tetapi, siapa yang lebih cepat membangun industrinya. ***

  • Foto: Ilustrasi/ AI-generated/ SustainReview – Fasilitas desalinasi air laut berbasis reverse osmosis di kawasan pesisir, menjadi bagian dari infrastruktur industri air global.
Bagikan