DI TENGAH dunia yang bergerak makin digital, muncul fenomena yang justru berlawanan arah. Para tokoh teknologi yang selama ini membentuk masa depan melalui platform, algoritma, dan kecerdasan buatan kini melirik sektor yang paling kuno dalam sejarah peradaban, pertanian.
Perubahan ini bukan sekadar gaya hidup baru para miliarder, melainkan sinyal penting tentang ke mana arah ekonomi global bergerak.
Gates dan Zuckerberg Turun ke Lahan
Bill Gates adalah contoh paling mencolok. Mengutip The Land Report, ia kini menjadi pemilik lahan pertanian terbesar di Amerika Serikat, dengan kepemilikan mencapai sekitar 242.000 acre atau hampir 100.000 hektar.
Dalam berbagai wawancara, Gates menyebut motivasinya sederhana. Meningkatkan produktivitas dan ketahanan sistem pangan melalui inovasi benih, riset biofuel, dan pertanian tahan iklim. Teknologi mungkin mendominasi abad ini, tetapi pangan, menurutnya, tetap fondasi peradaban.
Baca juga: Masa Depan Bertani Ada di Tangan AI dan Robot
Mark Zuckerberg juga mengikuti lintasan serupa. Dilansir WIRED dan SFGate, ia bersama istrinya Priscilla Chan telah mengakumulasi lebih dari 2.300 acre lahan di Kauai, Hawaii. Sebagian digunakan untuk pertanian jahe, kacang macadamia, peternakan, dan konservasi ekosistem.
Langkah ini mencerminkan perpaduan antara regenerasi alam dan pembangunan masa depan berbasis ketahanan ekologis. Meski menuai kritik terkait kepemilikan lahan besar, arah investasinya memperlihatkan bagaimana pangan dan alam kini kembali menjadi aset strategis.

Agritech, Prioritas Baru Para Inovator
Di Asia, Jack Ma mengambil pendekatan berbeda. Setelah melepaskan perannya di Alibaba, Ma terlihat menekuni agrikultur dan perikanan modern, termasuk berinvestasi pada startup agritech di Hangzhou.
Ia melihat pertanian sebagai industri masa depan yang akan dibentuk oleh sensor, data, genetika tanaman, dan otomasi. Pertanian hari ini bukan lagi sekadar soal menanam, tetapi soal teknologi dan inovasi rantai pasok yang lebih cerdas.
Baca juga: Standar Pertanian Regeneratif, Jalan Baru Kopi Dunia Hadapi Krisis Iklim
Fenomena ini menunjukkan satu hal. Para pelaku teknologi membaca risiko dan peluang global dengan cara yang sangat jernih. Dunia memasuki era kerentanan pangan akibat perubahan iklim, geopolitik, dan tekanan pada rantai pasok. Ketika pasar digital makin volatil, lahan pertanian menjadi aset riil yang stabil, produktif, dan strategis. Pangan tidak bisa digantikan algoritma, dan tanah tidak bisa diunduh.
Sinyal Penting untuk Indonesia
Bagi Indonesia, tren ini ibarat alarm sekaligus peluang. Kita adalah negara agraris, tetapi regenerasi petani terhambat, lahan produktif tergerus, dan teknologi pertanian belum menjadi arus utama. Padahal, jika para raksasa digital global saja berbondong-bondong masuk ke sektor ini, Indonesia seharusnya mampu bergerak lebih cepat.
Baca juga: Ketahanan Pangan Terancam, 17% Sawah Dunia Tercemar Logam Berat
Ini momentum bagi generasi muda untuk melihat pertanian bukan sebagai warisan masa lalu, tetapi arena masa depan. Tempat inovasi, keberlanjutan, dan nilai ekonomi bertemu.
Pertanian sedang kembali “molek”, bukan karena nostalgia, tetapi karena dunia menyadari bahwa apa pun bentuk masa depan, manusia tetap membutuhkan pangan. Dan di situlah masa depan sedang dijahit ulang. ***


