Belém menandai babak baru. Negara, bank pembangunan, filantropi, dan PBB mulai merapikan ekosistem pendanaan adaptasi.
KETIKA dunia sibuk memperdebatkan fase akhir penurunan emisi, kebutuhan akan aksi adaptasi justru meningkat tajam. Di COP30 Belém, sebuah langkah penting akhirnya muncul berupa peluncuran Alliance for the Implementation of National Adaptation Plans (NAPs). Aliansi ini dibentuk untuk satu tujuan sederhana tetapi sulit dicapai, membuat adaptasi iklim berjalan cepat, sistematis, dan terukur di tingkat nasional.
Digagas oleh Presidensi COP30 bersama pemerintah Jerman, Italia, dan UNDP, aliansi ini bekerja sebagai platform koordinasi lintas aktor. Aliansi mempertemukan pemerintah, bank pembangunan multilateral, filantropi, dan sektor swasta untuk memperlancar implementasi NAP yang selama ini tersendat karena kurangnya pendanaan, kapasitas teknis, dan koordinasi lembaga.
Ketimpangan Pendanaan Adaptasi Terkuak
Dalam sesi tingkat tinggi, UNDP membawa peringatan keras.Kkebutuhan pendanaan adaptasi global kini mencapai delapan hingga empat belas kali lebih besar dari total anggaran pemerintah yang tersedia. Kesenjangan ini bukan sekadar soal angka. Ini menentukan apakah negara–negara rentan dapat bertahan menghadapi banjir, badai ekstrem, kekeringan panjang, hingga gelombang panas yang makin sering terjadi.
Baca juga: MutirĂŁo Global Lawan Gelombang Panas, Kota Jadi Garda Depan Adaptasi Iklim Dunia
Direktur Adaptasi UNFCCC, Youssef Nassef, mengingatkan bahwa investasi adaptasi harus diperlakukan sebagai peluang, bukan beban. Jika adaptasi terus diabaikan, kata Nassef, konsekuensinya adalah “biaya dalam bentuk nyawa manusia”.
Aliansi ini kemudian diposisikan sebagai katalis. Tidak hanya menyatukan sumber daya, tetapi juga merapikan pipeline proyek, menghilangkan bottleneck, dan memastikan proyek adaptasi dapat masuk ke radar investor publik maupun swasta.
Belém Menjadi Titik Balik Politik Adaptasi
COP30 High-Level Champion, Dan Ioschpe, menyebut peluncuran aliansi ini sebagai momen penting yang menggeser fokus global. Selama satu dekade, narasi iklim lebih banyak didominasi isu mitigasi, sementara adaptasi berjalan tertatih. “Belém harus menandai perubahan itu,” ujarnya.

Menariknya, Brasil sendiri belum menyampaikan NAP-nya secara resmi ke UNFCCC. Namun pemerintah menyatakan dokumen sudah rampung, termasuk pemetaan 560 kota paling rentan, serta pelatihan aparatur publik untuk mengintegrasikan adaptasi ke kebijakan lokal. Langkah ini dipandang sebagai contoh bagaimana negara berkembang bisa memulai tanpa harus menunggu proses formal internasional.
Baca juga: Krisis Dana Adaptasi, Dunia Masih Gagal Membayar Utang Iklimnya
Ekosistem Global Mulai Bergerak
Peluncuran aliansi ini dihadiri aktor lintas sektor, dari Jerman, Italia, Kenya, Vanuatu, hingga bank pembangunan seperti ADB, IDB, Adaptation Fund, dan Green Climate Fund (GCF). Kehadiran filantropi, ClimateWorks, ItaĂşsa, serta lembaga riset dan advokasi seperti NRDC, Atlantic Council, dan NAP Global Network memperlihatkan bahwa adaptasi kini memasuki orbit kolaborasi yang lebih luas.
Baca juga: Cuaca Kacau, Pangan Terancam: Indonesia Butuh Adaptasi Iklim
Sementara itu, Adaptation Fund menerima total USD 135 juta pledges selama Presidensi Brasil. Meski angka ini masih jauh dari kebutuhan global, sinyal politiknya kuat. Dunia mulai menyadari bahwa adaptasi tak lagi bisa menjadi urusan pinggiran.
Mengapa NAP Menjadi Dokumen Kunci
NAP merupakan peta jalan negara untuk menghadapi risiko iklim jangka menengah dan panjang. NAP mengarahkan alokasi anggaran, memperkuat infrastruktur, melindungi mata pencaharian, serta membuka akses pendanaan internasional. Tidak seperti NDC, pengajuan NAP bersifat sukarela. Namun bagi 1,2 miliar penduduk dunia yang tinggal di wilayah risiko tinggi, kehadiran NAP menentukan kualitas hidup mereka dalam satu–dua dekade ke depan.
Pada 2025, sebelas negara, termasuk Indonesia, telah mengajukan pembaruan NAP. Total 71 negara kini sudah memiliki dokumen resmi. Aliansi implementasi NAP hadir untuk memastikan dokumen itu tidak berhenti sebagai rencana, tetapi terwujud sebagai aksi nyata. ***
- Foto: Carlos Tavares/COP30 – Para delegasi dari berbagai negara dan lembaga internasional berdiskusi dalam sesi peluncuran Aliansi Implementasi NAP di COP30 BelĂ©m.


