CHINA kembali mengirim sinyal penting bagi arah transisi energi global. Draft Rencana Lima Tahun ke-15 yang baru dirilis Beijing menggambarkan strategi ekonomi dan energi negara itu untuk periode 2026–2030. Dokumen tersebut menegaskan ekspansi besar energi terbarukan, pembangunan jaringan listrik modern, serta investasi pada teknologi masa depan seperti hidrogen dan fusi nuklir.
Namun ada satu catatan penting. China tidak menetapkan batas tegas penurunan emisi karbon. Batu bara masih diberi ruang dalam sistem energi nasional.
Kombinasi ini menciptakan paradoks. Di satu sisi, China mempercepat pembangunan sistem energi bersih terbesar di dunia. Di sisi lain, negara dengan emisi karbon terbesar global itu tetap mempertahankan fleksibilitas penggunaan bahan bakar fosil.
Situasi ini menjadi sorotan banyak analis energi internasional.
Target Intensitas Karbon yang Lebih Lunak
Salah satu indikator utama dalam rencana baru tersebut adalah target penurunan intensitas karbon sebesar 17 persen antara 2026–2030. Intensitas karbon mengukur jumlah emisi CO₂ per unit produk domestik bruto.
Target ini lebih rendah dibandingkan rencana lima tahun sebelumnya yang menetapkan penurunan 18 persen.
Padahal pada 2021, Presiden Xi Jinping telah berjanji China akan memangkas intensitas karbon 65 persen dari level 2005 pada 2030. Dengan target terbaru ini, sebagian analis menilai jalur menuju komitmen tersebut menjadi semakin menantang.
Baca juga: China Kuasai 50% Energi Terbarukan Dunia pada 2030
Data resmi menunjukkan intensitas karbon China turun 17,7 persen dalam lima tahun terakhir. Namun sebelumnya angka yang dipublikasikan hanya sekitar 12,4 persen, memunculkan pertanyaan mengenai perubahan metode penghitungan statistik.
Dalam definisi baru, pemerintah memasukkan emisi industri selain emisi energi. Perubahan ini bertepatan dengan perlambatan industri semen akibat krisis properti di China, sehingga secara statistik penurunan emisi terlihat lebih besar.
Secara matematis, target baru itu masih memungkinkan total emisi China naik antara 3–6 persen hingga 2030 jika pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4,5–5 persen per tahun.
Batu Bara Masih Menjadi Pilar Energi
Dokumen rencana juga menunjukkan perubahan bahasa kebijakan yang signifikan terkait batu bara.
Alih-alih menyebut pengurangan konsumsi batu bara secara bertahap, pemerintah kini menggunakan frasa “mendorong puncak konsumsi batu bara dan minyak.”
Artinya, konsumsi energi fosil masih bisa meningkat sebelum mencapai titik puncak.
Batu bara tetap sangat dominan dalam sistem energi China. Pada 2025 negara ini mengonsumsi sekitar 3,17 miliar ton batu bara. Rencana baru hanya menargetkan penggantian sekitar 30 juta ton per tahun dengan energi yang lebih bersih.
Baca jjuga: Fosil Masih Perkasa, Tantangan Global dalam Transisi Energi Menuju 2050
Dokumen tersebut juga menekankan konsep “pemanfaatan fosil yang bersih dan efisien.” Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan pengembangan industri coal-to-chemicals, yaitu konversi batu bara menjadi bahan bakar sintetis atau petrokimia—sektor yang justru memicu kenaikan emisi dalam beberapa tahun terakhir.
Yang paling krusial, rencana tersebut tidak menetapkan batas konsumsi batu bara di sektor listrik maupun jadwal puncak emisi sektor pembangkit.

Energi Bersih Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Meski demikian, energi bersih tetap menjadi pilar utama strategi ekonomi China.
Pemerintah menargetkan pembangunan 100 gigawatt kapasitas pumped hydro storage, mempercepat penyimpanan energi baterai, serta memperluas jaringan transmisi listrik jarak jauh.
Kapasitas angin lepas pantai diperkirakan melampaui 100 GW pada akhir dekade, naik dua kali lipat dari sekitar 48 GW pada 2025.
Sementara itu, kapasitas nuklir diproyeksikan mencapai 110 GW pada 2030, dibandingkan sekitar 62 GW saat ini.
Baca juga: China Luncurkan FPSO Pertama dengan Teknologi Penangkapan Karbon
Beijing juga mendorong pembangunan “new type power system” yang mengintegrasikan energi surya dan angin dengan jaringan pintar, penyimpanan energi, serta perdagangan listrik antarprovinsi.
Selain sektor listrik, pemerintah mulai mendorong taman industri nol karbon yang menggabungkan listrik terbarukan dengan hidrogen hijau untuk industri intensif energi.
Koridor transportasi nol karbon juga disiapkan untuk mempercepat elektrifikasi angkutan logistik melalui jaringan pengisian cepat dan sistem pertukaran baterai.
Menurut sejumlah laporan analisis energi global yang juga disorot media ESG internasional, arah kebijakan ini memperlihatkan strategi transisi yang sangat pragmatis: mempercepat teknologi bersih sambil menjaga stabilitas pasokan energi.
Pertaruhan Besar bagi Iklim Global
Rencana lima tahun terbaru China memperlihatkan dilema yang kini membentuk politik energi global.
China sedang membangun sistem energi bersih terbesar di dunia. Namun negara tersebut juga mempertahankan ruang bagi bahan bakar fosil selama masa transisi.
Baca juga: China Bangun Ladang Surya Lepas Pantai 1 GW, Terbesar di Dunia
Bagi investor, pelaku industri, dan pembuat kebijakan, pesan yang muncul cukup jelas. Sektor energi bersih, mulai dari jaringan listrik, penyimpanan energi, hidrogen, hingga transportasi listrik, akan terus menjadi prioritas industri.
Namun tanpa batas emisi yang tegas, arah total emisi karbon China hingga akhir dekade ini masih belum sepenuhnya pasti.
Dan karena China menyumbang sekitar sepertiga emisi global, keputusan energi negara ini akan terus menjadi faktor penentu masa depan kebijakan iklim dunia. ***
- Foto: Ilustrasi/ Kindel Media/SMCP – Instalasi energi surya skala besar (atas) dan kompleks pembangkit listrik berbasis batu bara di China (bawah). Dalam rencana lima tahun terbaru, Beijing mempercepat energi bersih namun masih mempertahankan peran batu bara dalam sistem energinya.


