PLTA Kukusan 2 Beroperasi, Validasi Model Hidro Run of River di Era Transisi Energi

TRANSISI energi Indonesia bergerak lewat proyek-proyek yang tak selalu berkapasitas raksasa. Di Tanggamus, Lampung, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kukusan 2 resmi memasuki tahap commercial operation date pada 6 Februari 2026. Kapasitasnya 5,4 MW. Skemanya run of river. Tanpa bendungan besar. Tanpa genangan luas. Proyek ini dikembangkan oleh PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) sebagai…

Baca Selengkapnya...

Transisi Energi Global Melambat, Target Tiga Kali Lipat 2030 di Persimpangan

PROYEK energi surya dan angin global menunjukkan tanda perlambatan kapasitas pada 2025. Sinyal ini mengusik optimisme dunia untuk mencapai target peningkatan kapasitas energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030. Analisis terbaru dari Global Energy Monitor (GEM) mencatat, pengumuman dan dimulainya pembangunan proyek surya dan angin baru turun 11 persen pada 2025. Padahal, setahun sebelumnya…

Baca Selengkapnya...

Alfamidi dan Energi Surya, Retails Mulai Masuk Babak Baru Pengelolaan Emisi

DI TENGAH eskalasi tuntutan ESG, sektor ritel Indonesia mulai melangkah dari sekadar kampanye hijau ke langkah investasi nyata. Alfamidi menjadi salah satu nama yang bergerak cepat. Sampai Oktober 2025, jaringan minimarket itu sudah mengoperasikan 30 pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di delapan kantor cabang serta 21 gerai beratap panel. Skalanya memang belum masif dibandingkan kebutuhan…

Baca Selengkapnya...

2050 Energi Bersih, Saatnya Indonesia Punya Strategi Transisi yang Terpadu

INDONESIA memiliki peluang besar untuk mempercepat transisi menuju bauran energi terbarukan penuh pada 2050, melampaui target 31 persen dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN). Namun, peluang ini hanya bisa diwujudkan dengan perencanaan yang matang, strategi lintas-sektor, dan kepemimpinan yang konsisten di tingkat nasional. Laporan terbaru Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Indonesia Clean Energy Forum…

Baca Selengkapnya...

Dari UEA ke Nusantara, Bisakah Model BlueSun Mempercepat Transisi Energi Indonesia?

BLUESUN International, konsorsium cleantech berbasis Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat, baru saja mencetak rekor biaya listrik terbarukan, yakni 1,9 sen per kWh untuk pembangkitan dan 1,4 sen per kWh untuk penyimpanan baterai. Angka ini bukan hanya mematahkan argumen lama bahwa energi hijau mahal, tapi juga menantang dominasi energi fosil. Jika klaim ini terverifikasi, dunia…

Baca Selengkapnya...

80 Ribu Desa Jadi Target PLTS, Akhir dari Ketergantungan Energi Fosil?

BAYANGKAN jika seluruh desa di Indonesia bisa menghasilkan listrik sendiri dari tenaga surya. Itulah visi besar yang kini sedang digodok pemerintah. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 80.000 desa masuk dalam rencana besar pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut proyek ini membutuhkan investasi sebesar 100 miliar dollar AS atau setara…

Baca Selengkapnya...

Pohon Angin Pertama Hadir di Tol Indonesia, Simbol Baru Energi Hijau

DI TENGAH lanskap beton dan aspal Probolinggo-Banyuwangi, sebuah pohon futuristik berdiri mencuri perhatian. Bukan pohon biasa, melainkan Hybrid Wind Tree, instalasi pembangkit listrik ramah lingkungan pertama yang dipasang di Indonesia oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI). Proyek ini merupakan bagian dari upaya ADHI dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam infrastruktur publik. Berlokasi di Kantor…

Baca Selengkapnya...

Potensi Energi Surya Melimpah, Timur Indonesia Bisa Mandiri Listrik

PULAU Sulawesi, Sumbawa, dan Timor menyimpan potensi besar untuk menjadi pelopor transisi energi bersih di Indonesia. Bukan sekadar mimpi, studi terbaru dari Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan bahwa ketiga pulau ini secara teknis bisa memenuhi 100 persen kebutuhan listrik mereka dari energi terbarukan. Temuan ini tidak datang secara kebetulan. Indonesia sebagai negara kepulauan…

Baca Selengkapnya...

Investasi Hijau Asia Tenggara Melesat, tapi Jalan Menuju 2030 Masih Terjal

ASIA Tenggara mencatat pertumbuhan investasi hijau yang signifikan pada 2024. Nilainya melonjak lebih dari 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebuah sinyal positif, tapi bukan akhir dari cerita. Laporan Southeast Asia’s Green Economy 2025, hasil kolaborasi antara Bain & Company, Temasek, Google, GenZero, dan Standard Chartered, menyoroti lonjakan tersebut, terutama pada sektor pembangkit listrik tenaga surya…

Baca Selengkapnya...