BEBERAPA destinasi dunia kini tidak lagi mampu menampung animo wisatawan yang membeludak. Pantai-pantai yang dulu lengang kini dipadati ribuan orang, jalan sempit dipenuhi antrean kafe dan toko suvenir, udara dan air tertekan oleh konsumsi tak terkendali.
Di satu sisi, pariwisata menyumbang pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Namun di sisi lain, overtourism muncul sebagai ancaman besar terhadap keberlanjutan sosial, budaya, dan lingkungan.
Fenomena ini bukan lagi isu lokal, melainkan gelombang global. Menurut Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, empat dari lima wisatawan kini mengubah pilihan perjalanan karena overtourism, memilih destinasinya berdasarkan tingkat keramaian, kenyamanan, dan risiko tekanan lingkungan.
Pergeseran ini menegaskan bahwa dunia sedang memasuki fase baru, ketika kualitas menjadi nilai utama yang menggantikan kuantitas.
Overtourism memaksa banyak destinasi untuk meninjau ulang model bisnis pariwisata yang selama ini bergantung pada angka kunjungan massal. Di titik inilah pariwisata dunia sedang dituntut melakukan transformasi struktur: dari banyaknya kedatangan menuju nilai kunjungan yang berdampak.
Sisi Gelap Ledakan Wisata, Tekanan terhadap Lingkungan dan Sosial
Di balik euforia pertumbuhan, overtourism memunculkan friksi sosial dan ekologis. Masyarakat lokal mulai merasa terasing di ruang hidupnya sendiri, harga kebutuhan meningkat, keseimbangan lingkungan terganggu, sementara infrastruktur kota terdorong melampaui batas.
Kasus-kasus ini terlihat nyata di banyak destinasi populer dunia. Dari Venesia hingga Phuket, dari Kyoto hingga Barcelona.
Indonesia pun tidak kebal. Bali, Borobudur, Labuan Bajo, Bromo Tengger Semeru, hingga Danau Toba menghadapi tantangan serupa. Tekanan daya dukung, konsumsi air, sampah, dan kemacetan yang semakin nyata. Destinasi yang seharusnya menjadi ruang pulih justru berubah menjadi ruang sesak.
Pada titik ini, pertanyaan kritis muncul, Sejauh mana pariwisata dapat terus tumbuh tanpa menghancurkan fondasi yang menopangnya?

Data Outlook menunjukkan sinyal alarm yang jelas. Empat dari lima wisatawan global kini mempertimbangkan tingkat keramaian destinasi sebelum memilih perjalanan, dan 42% memilih bepergian di luar musim puncak untuk menghindari overtourism.
Wisatawan Baby Boomer mencatat preferensi tertinggi terhadap perjalanan off-season, seiring meningkatnya kebutuhan akan kenyamanan dan pengalaman berkualitas.
Fenomena ini menjadi bukti pergeseran besar dalam cara dunia melihat wisata. Dari “sebanyak mungkin” menuju “lebih baik dan lebih bijaksana.”
Transformasi Menuju Quality Tourism
Dalam peluncuran Outlook, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menegaskan perlunya perubahan paradigma. “Kami berharap Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 dapat menjadi panduan bersama dalam mengusahakan sektor pariwisata ke depannya,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat keyakinan bahwa pariwisata sedang memasuki era baru yang menuntut kolaborasi lintas sektor untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.
Sementara itu, Wamenpar Ni Luh Puspa menegaskan arah transformasi “Saya percaya kita akan go beyond. Dengan segala optimisme ini mudah-mudahan Indonesia bisa leading di sektor pariwisata,” katanya.
Kedua pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Quality Tourism kini menjadi jalan strategis Indonesia. Menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, kapasitas sosial, serta pemerataan manfaat bagi masyarakat lokal.
Babak Baru Pariwisata Indonesia
Perjalanan menuju transformasi ini tidak mudah. Diperlukan penataan ulang destinasi, regulasi yang lebih tegas tentang daya dukung, transparansi data, dan pengelolaan ruang publik yang berpihak pada masyarakat. Namun justru di situlah peluang terbuka. Indonesia memiliki modal kuat. Kekayaan alam, keunikan budaya, kreativitas komunitas lokal, serta momentum investasi yang sedang mengalir.
Overtourism adalah alarm. Tetapi, juga bisa menjadi pintu perubahan jika kita mau mendengarnya. ***
- Foto: Ilustrasi/ Orlie Wayne Faustorilla/ Pexels – Peningkatan kunjungan wisata yang tidak terkendali mempersempit ruang publik dan menekan daya dukung destinasi. Fenomena yang kini memicu alarm overtourism di berbagai belahan dunia.
SustainReview.ID akan menurunkan laporan khusus akhir tahun tentang arah baru pariwisata dunia dan Indonesia, mulai besok, 24 November 2025. Laporan perdana mengangkat tema “Di Dunia yang Terbelah, Ke Mana Arah Mobilitas Wisatawan Global?”. Jangan lewatkan analisis mendalamnya.


