Satelit Bisa Melihat Api, Mengapa Karhutla Tetap Meluas?

Indonesia dapat memprediksi kekeringan, mendeteksi hotspot hampir secara real-time, dan memetakan lahan terbakar dari angkasa. Namun, data tidak akan memadamkan api jika terlambat berubah menjadi tindakan.

LANGIT Indonesia tidak pernah benar-benar berhenti mengawasi daratan.

Satelit membaca suhu permukaan, memantau kekeringan, menemukan anomali panas, mengikuti pergerakan asap, hingga memetakan lahan yang telah terbakar. Informasinya datang semakin cepat. Sebagian bahkan mendekati kondisi aktual.

Namun, api tetap muncul di banyak tempat.

Pada 25–27 Agustus 2026, sedikitnya 15 kejadian kebakaran hutan dan lahan dilaporkan di delapan provinsi. Lokasinya tersebar dari Aceh Besar, Subang, sejumlah kabupaten di Jawa Tengah, Belitung Timur, Kutai Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, hingga Kota Sorong.

Data terbaru BMKG itu menghadirkan satu pertanyaan penting. Jika ancaman sudah dapat terlihat dari angkasa, mengapa kebakaran masih terus meluas di darat?

Jawabannya tidak terletak pada kemampuan satelit semata. Ada rantai panjang yang harus dilalui setelah sebuah sinyal muncul. Data diterima, diverifikasi, diteruskan kepada pihak berwenang, diperiksa di lapangan, lalu ditangani sebelum api membesar.

Di sepanjang rantai itulah waktu dapat hilang.

Mata di Langit

Kepala Pusat Riset Geoinformatika Badan Riset dan Inovasi Nasional, M. Rokhis Khomarudin, mengatakan teknologi satelit Indonesia sudah mampu memprediksi potensi kekeringan sebagai peringatan dini risiko karhutla.

Teknologi itu juga digunakan untuk mengidentifikasi lokasi hotspot. Hasil pemantauannya tersedia hampir secara real-time melalui laman hotspot.brin.go.id. Model yang dikembangkan BRIN bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tersebut dioperasikan oleh BMKG.

“Teknologi satelit kita mampu memprediksi potensi kekeringan sebagai peringatan dini risiko kebakaran hutan dan lahan serta mengidentifikasi lokasi titik panas,” kata Rokhis dalam webinar BRIGHTS Seri #4, Rabu, 26 Agustus 2026.

Kemampuan itu tidak berhenti pada deteksi anomali panas.

Baca juga: Tepung Singkong Bisa Memadamkan Karhutla?

Citra Landsat dan Sentinel digunakan untuk memetakan serta menghitung luas area terdampak kebakaran. Analisis dilakukan setiap bulan dan disampaikan kepada Kementerian Kehutanan untuk mendukung penyediaan informasi publik.

Satelit juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi deforestasi, menginventarisasi sumber daya hutan, dan menganalisis biodiversitas kawasan.

Artinya, teknologi penginderaan jauh dapat membaca rangkaian persoalan hutan dalam berbagai tahap: kondisi yang membuat lahan rentan terbakar, indikasi munculnya panas, sebaran asap, hingga bekas kerusakan setelah api padam.

Namun, masing-masing data menjawab pertanyaan yang berbeda.

Hotspot Bukan Kebakaran

Hotspot atau titik panas bukan nama lain dari titik api.

Hotspot menunjukkan anomali suhu permukaan yang terdeteksi sensor satelit. Semakin tinggi tingkat kepercayaannya, semakin kuat indikasi bahwa anomali tersebut berkaitan dengan sumber panas. Namun, keberadaannya tetap harus diperiksa di lapangan.

Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot. Sebaliknya, satu hotspot belum otomatis membuktikan adanya kebakaran hutan atau lahan.

Pembedaan ini penting karena angka hotspot dapat bergerak sangat cepat.

Pada 25 Agustus 2026, pemantauan citra satelit Himawari-9 menunjukkan hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah meningkat dari 113 menjadi 352 titik. Kalimantan Barat naik dari 92 menjadi 140 titik, sedangkan Kalimantan Timur meningkat dari 30 menjadi 63 titik.

Baca juga: Mengapa Karhutla Sulit Benar-benar Padam?

Pada waktu yang hampir bersamaan, jumlahnya justru turun di beberapa wilayah Sumatra. Riau turun dari sembilan menjadi nol, Jambi dari 15 menjadi satu, dan Sumatera Selatan dari 298 menjadi 63 titik.

Perubahan tersebut menunjukkan betapa dinamisnya kondisi di lapangan. Hotspot dapat meningkat di satu wilayah dan berkurang di wilayah lain dalam waktu singkat. Arah angin, kelembapan, curah hujan, jenis lahan, dan aktivitas manusia dapat mengubah risikonya.

Karena itu, Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa data hotspot harus segera diikuti pemeriksaan lapangan.

“Setiap titik panas yang teridentifikasi di dalam areal kerja perlu segera diverifikasi. Informasi hotspot merupakan bagian dari sistem peringatan dini agar potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sejak tahap awal,” kata Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari Wilayah XI Banjarbaru, Wahyu Nurhidayat, dalam keterangan resmi Kemenhut, 14 Agustus 2026.

Pesannya lugas. Jangan menunggu api membesar.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Data Semakin Melimpah

Persoalan kehutanan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar kekurangan data.

Kepala Bagian Pelayanan dan Penyajian Informasi Publik Kementerian Kehutanan, Agus Yasin, mengatakan perkembangan teknologi penginderaan jauh telah membuat data semakin berlimpah. Selain Landsat dan Sentinel, tersedia data hotspot, prediksi cuaca, survei lapangan, inventarisasi, laporan masyarakat, dan informasi dari media sosial.

Jika dahulu pembaruan informasi kehutanan dapat membutuhkan waktu empat hingga enam tahun, teknologi sekarang memungkinkan pemantauan dilakukan dalam interval jauh lebih singkat.

Namun, kelimpahan itu melahirkan pekerjaan baru. Menentukan data mana yang relevan, akurat, kredibel, dan sesuai dengan persoalan yang sedang dihadapi.

“Tidak ada satu jenis data yang dapat menjawab seluruh kebutuhan pengelolaan kehutanan,” kata Agus dalam webinar yang sama.

Baca juga: FireSat dan AI, Revolusi Baru dalam Pencegahan Kebakaran Hutan

Hotspot harus dibaca bersama prakiraan cuaca, kondisi gambut, arah angin, citra sebaran asap, batas konsesi atau kawasan, laporan masyarakat, dan hasil pengecekan lapangan.

Tanpa penggabungan itu, satu angka dapat menyesatkan. Banyaknya hotspot tidak otomatis sama dengan banyaknya kejadian kebakaran. Penurunan hotspot juga belum tentu berarti seluruh api telah padam. Bara dapat tetap hidup di bawah permukaan gambut dan kembali menyala ketika kondisi mengering.

Ketika Waktu Menentukan

Kecepatan respons menjadi semakin penting karena kemarau sedang meluas.

BMKG melaporkan sekitar 80 persen wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau pada akhir Agustus 2026. Suhu maksimum pada 23–26 Agustus bahkan melampaui 36 derajat Celsius di sejumlah wilayah Kalimantan, Lampung, Aceh, dan Medan.

Ancaman itu bukan sekadar terbaca dalam model.

Di Nabire, Papua Tengah, karhutla yang berlangsung sejak 18 Juli hingga 23 Agustus dilaporkan melanda sekitar 396,13 hektare di tujuh distrik. Sebagian lokasi tidak dapat dijangkau armada pemadam sehingga pemerintah daerah membutuhkan dukungan water bombing dan tambahan peralatan.

Kasus tersebut memperlihatkan batas teknologi secara jelas. Satelit dapat menunjukkan lokasi dan luas ancaman, tetapi tidak dapat membuka jalan menuju area yang sulit dijangkau, membawa air, memadamkan bara, atau menentukan siapa yang bertanggung jawab.

Baca juga: OMC Rutin Digelar, Solusi Karhutla atau Tanda Ketergantungan?

Pemerintah telah menggabungkan informasi cuaca dan satelit untuk menjalankan operasi modifikasi cuaca. Hingga akhir Juli 2026, BMKG menyebut telah melaksanakan 17 operasi khusus mitigasi karhutla di sejumlah wilayah rawan.

Tetapi operasi itu juga bergantung pada keberadaan awan yang dapat disemai.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan operasi modifikasi cuaca, pemadaman langsung di darat kembali menjadi tumpuan utama.

Dengan kata lain, teknologi tidak menggantikan kesiapan manusia. Teknologi hanya memperbesar kesempatan untuk bergerak lebih awal.

Dari Informasi ke Keputusan

Indonesia sebenarnya telah memiliki banyak bagian dari sistem peringatan dini. Satelit, prakiraan iklim, peta hotspot, data tinggi muka air gambut, pemantauan asap, laporan masyarakat, dan tim lapangan.

Tantangan berikutnya adalah menyambungkan seluruh bagian itu.

Setiap peringatan perlu memiliki jalur tindak lanjut yang jelas. Siapa yang menerima data? Siapa yang memeriksa lokasi? Berapa lama verifikasi dilakukan? Siapa yang mengirim personel dan peralatan? Apa yang terjadi jika lokasi berada di kawasan sulit dijangkau atau di dalam areal perusahaan?

Baca juga: Api Tak Terlihat, Gambut Kalimantan Masih Berasap

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan apakah informasi satelit menjadi alat pencegahan atau hanya catatan digital mengenai api yang telanjur membesar.

Langit kini dapat memberi peringatan lebih cepat. Namun, keberhasilan pengendalian karhutla tetap ditentukan di darat, pada jarak antara data diterima dan tindakan pertama dilakukan.

Sebab, yang dibutuhkan Indonesia bukan hanya mata yang mampu melihat api dari angkasa, tetapi sistem yang mampu bergerak sebelum asap memenuhi udara. ***

  • Tangkapan layar BRIN Fire Hotspot – Sebaran 7.025 hotspot yang terdeteksi satelit VIIRS di Indonesia dalam 24 jam terakhir hingga Sabtu, 29 Agustus 2026. Setiap hotspot masih memerlukan verifikasi lapangan untuk memastikan kejadian kebakaran.
Bagikan