Kebakaran melanda kawasan pengembangan IKN dan sekitarnya. Api belum mengancam zona inti, tetapi menguji ketahanan kota hutan menghadapi iklim yang makin kering.
API belum mencapai pusat pemerintahan Ibu Kota Nusantara. Namun, jaraknya sudah cukup dekat untuk membuat Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian khusus.
Dalam rapat penanganan kebakaran hutan dan lahan, Senin, 7 September 2026, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto melaporkan sekitar 458 hektare kawasan pengembangan IKN dan sekitarnya terdampak kebakaran.
Luasan terbesar berada di Taman Hutan Raya Bukit Soeharto. Titik lain muncul di sekitar Sepaku dan wilayah perbatasan IKN.
Prabowo meminta aset penanganan ditambah. Pesannya jelas, api jangan sampai bergerak menuju zona inti.
Peristiwa ini belum berarti IKN sedang terbakar seluruhnya. Kawasan inti pemerintahan dan kegiatan pembangunan belum dilaporkan terancam langsung.
Namun, kebakaran itu menempatkan satu pertanyaan penting di depan pintu ibu kota baru. Seberapa siap kota hutan menghadapi musim kering, krisis air, dan kebakaran yang datang bersamaan?
Api Mendekati Ibu Kota
Kebakaran di sekitar IKN bukan peristiwa tunggal.
BNPB sebelumnya mendeteksi 61 titik panas di wilayah IKN dan Kalimantan Timur pada 3 September 2026. Sekitar 400 hektare dilaporkan terbakar saat itu. Angkanya kemudian berkembang menjadi 458 hektare.
Titik panas tidak selalu berarti kebakaran. Namun, lonjakan jumlahnya menjadi indikator penting ketika vegetasi mengering dan hujan semakin jarang.
BMKG mencatat 13.273 titik panas di Kalimantan Timur sepanjang 1–23 Agustus 2026. Jumlah itu meningkat 35,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015, ketika El Niño juga memperkuat musim kemarau.
Baca juga: Sepekan Terbakar, 17,1 Juta Ton Karbon Terlepas
Kondisinya belum segera berakhir. BMKG memperkirakan awal September masih didominasi cuaca panas dan kering. Pengaruh El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole positif menekan pembentukan awan hujan di banyak wilayah Indonesia.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemerintah tidak boleh menunggu api mendekati kawasan inti. Karena IKN merupakan kawasan strategis, pencegahan dan pengendalian harus dilakukan sejak dini.
Patroli darat dan udara diperkuat. Drone digunakan untuk memantau titik panas. Helikopter water bombing disiapkan untuk lokasi yang sulit dijangkau.
Operasi modifikasi cuaca juga dijalankan bersama BMKG, Otorita IKN, TNI Angkatan Udara, BNPB, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Namun, teknologi itu tetap bergantung pada ketersediaan awan yang dapat disemai.
Artinya, ketika atmosfer terlalu kering, pilihan intervensi ikut menyempit.
Air Ikut Menyusut
Persoalan di IKN tidak berhenti pada api.
Otorita IKN melaporkan cadangan air di Waduk Sepaku terus menurun sejak Juli akibat El Niño. Waduk itu menjadi salah satu sumber air baku bagi kawasan Nusantara.
Di sinilah kebakaran dan krisis air bertemu.
Air yang berkurang meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan penduduk, konstruksi, dan pemadaman. Vegetasi yang kehilangan kelembapan juga lebih mudah terbakar. Ketika tutupan lahan rusak, kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air dapat ikut melemah.
Baca juga: Satelit Bisa Melihat Api, Mengapa Karhutla Tetap Meluas?
Pemerintah memang telah membangun Bendungan Sepaku Semoi untuk memperkuat pasokan air IKN dan kawasan sekitarnya. Tetapi keberadaan infrastruktur air tidak membuat bentang alam otomatis kebal terhadap musim kering panjang.
Wisnubroto Sarosa, pakar perencanaan kota, mengingatkan bahwa Nusantara dikelilingi kawasan hutan dan memiliki keterbatasan sumber air. Menurut dia, risiko kebakaran di Kalimantan Timur memang lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah lain di Kalimantan, tetapi bukan berarti tidak ada.
Kebakaran kali ini memperlihatkan bahwa risiko tersebut sudah nyata.

Janji Kota Hutan
Otorita IKN menargetkan 65 persen wilayah Nusantara tetap menjadi kawasan lindung. Sebagian area yang sekarang didominasi hutan tanaman industri akan dipulihkan menjadi hutan tropis.
Konsep itu menempatkan alam bukan sebagai dekorasi kota, melainkan sebagai infrastrukturnya.
Hutan menjaga air, menurunkan suhu, menyimpan karbon, mengurangi erosi, dan menyediakan ruang hidup bagi keanekaragaman hayati. Karena itu, keberhasilan IKN tidak cukup dinilai dari jumlah gedung rendah emisi atau kendaraan listrik yang beroperasi di dalamnya.
Ketahanan bentang alam penyangga juga harus dihitung.
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN Myrna Asnawati Safitri menyebut pendekatan kota hutan sebagai solusi berbasis alam. Pembangunan diarahkan untuk memulihkan ekosistem sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati.
Baca juga: Api Tak Terlihat, Gambut Kalimantan Masih Berasap
Kebakaran di Bukit Soeharto membuat komitmen itu semakin mendesak.
Tahura tersebut memiliki sejarah kebakaran panjang, termasuk kebakaran besar pada 1997. Otorita IKN mengakui El Niño yang kuat dan kondisi tanah yang belum sepenuhnya pulih membuat kawasan itu semakin rentan.
Karena itu, menanam kembali pohon saja tidak cukup.
Restorasi perlu diikuti perlindungan koridor ekologis, pengawasan perubahan tutupan lahan, pengelolaan bahan bakar kering, kesiapan sumber air pemadaman, serta sistem deteksi dan respons cepat yang bekerja sebelum api membesar.
Penyebab setiap kebakaran juga harus ditelusuri. El Niño menciptakan kondisi yang sangat kering, tetapi tidak selalu menyalakan api. Faktor manusia, penggunaan lahan, dan aktivitas di sekitar kawasan tetap perlu diperiksa secara transparan.
Bukan Sekadar Pemadaman
Water bombing dan modifikasi cuaca diperlukan untuk menghentikan keadaan darurat. Namun, keduanya merupakan respons setelah risiko terbentuk.
Tantangan yang lebih besar adalah membuat kawasan IKN tidak terus bergantung pada operasi darurat setiap kali kemarau menguat.
Pemerintah perlu membuka data mengenai lokasi kebakaran, penyebab, jenis tutupan lahan yang terdampak, pemilik atau pengelola areal, serta dampaknya terhadap target restorasi hutan IKN.
Tanpa data tersebut, publik hanya melihat luas lahan terbakar. Padahal, setiap hektare dapat memiliki fungsi ekologis yang berbeda.
Baca juga: Tepung Singkong Bisa Memadamkan Karhutla?
Kebakaran 458 hektare memang kecil dibandingkan keseluruhan wilayah Nusantara. Namun, signifikansinya bukan semata pada luas.
Api itu muncul di sekitar kota yang dibangun dengan janji menjadi model pembangunan rendah karbon, tangguh iklim, dan selaras dengan alam.
Kota hutan tidak hanya diuji ketika pepohonan ditanam dan hujan turun. Ia diuji ketika air menyusut, udara mengering, dan api mulai bergerak mendekati pusat kota.
Jika IKN hendak menjadi contoh kota masa depan, jawabannya harus terlihat bukan hanya pada kecepatan memadamkan api, tetapi juga pada kemampuan mencegah bentang alamnya kembali terbakar. ***
Foto: @ikn_id – Petugas gabungan memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan IKN, Kalimantan Timur.


