Kekayaan mineral dan portofolio paten membuka peluang. Untuk menangkapnya, Indonesia perlu membuktikan teknologi pada skala produksi, memastikan keamanan, dan membangun pasar.
INDONESIA memiliki modal untuk masuk lebih jauh ke industri baterai. Ada sumber daya mineral, kegiatan manufaktur, serta hasil riset. Namun, bahan baku dan temuan laboratorium baru menjadi keunggulan industri ketika dapat diolah menjadi produk yang aman, konsisten, dan layak dibeli.
Jarak itulah yang mengemuka dalam diskusi BRIN tentang valuasi riset dan inovasi baterai di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, pekan lalu. Persoalannya menjangkau fasilitas produksi, pengujian, pendanaan, hingga kepastian permintaan.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menyebut sekitar 15 persen paten terdaftar di BRIN berkaitan dengan teknologi baterai. Angka ini memperlihatkan adanya portofolio pengetahuan yang bisa dikembangkan.
Namun, proporsi paten belum menunjukkan berapa teknologi yang sudah dilisensikan, diproduksi secara komersial, atau digunakan industri. Publikasi BRIN tersebut tidak merinci capaian itu. Karena itu, angka 15 persen perlu dibaca sebagai modal riset, bukan ukuran keberhasilan komersialisasi.
Nugroho menilai peluang Indonesia terbuka pada pengembangan teknologi, manufaktur, perakitan, dan komponen pendukung. Untuk menangkap peluang tersebut, ia mendorong penguatan kapasitas teknologi dan peningkatan skala produksi melalui kerja sama periset, industri, pemerintah, serta investor.
Dari Laboratorium ke Lantai Produksi
Pendiri National Battery Research Institute sekaligus peneliti BRIN, Evvy Kartini, membawa pembahasan pada kebutuhan nyata industri.
“Kita kaya akan nikel di dunia, tetapi industri memiliki banyak masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan proposal di atas kertas,” kata Evvy, sebagaimana dikutip dalam publikasi BRIN.
Pernyataan ini menyentuh persoalan mendasar hilirisasi riset. Keberhasilan menghasilkan material dalam jumlah kecil perlu diikuti kemampuan membuatnya dalam volume lebih besar dengan mutu yang tetap terjaga.
Evvy mendorong penyediaan fasilitas percontohan atau pilot plant untuk meningkatkan produksi komponen dari skala gram menjadi kilogram. Fasilitas ini memungkinkan hasil riset divalidasi sebelum dipersiapkan menuju komersialisasi.
Baca juga: Kaya Nikel, Indonesia Bisa Kuasai Teknologi Baterai?
Bagi kebijakan industri, tahap tersebut menentukan arah pembiayaan. Dukungan riset perlu menjangkau pekerjaan setelah purwarupa selesai. Memperbaiki proses, menguji konsistensi, dan menunjukkan bahwa teknologi dapat memenuhi kebutuhan pengguna.
Endra Joelianto dari Institut Teknologi Bandung menjelaskan bahwa peningkatan skala juga menghadapi persoalan ekonomi. Bahkan produksi selubung baterai membutuhkan pertimbangan kapasitas mesin, volume produksi, dan kelayakan usaha.
Artinya, keberhasilan teknis perlu bertemu dengan hitungan bisnis. Mesin dan fasilitas yang mampu membuat produk belum otomatis menghasilkan biaya yang kompetitif.
Endra menekankan perlunya konsorsium riset, pembagian spesialisasi, serta permodalan yang memadai dan berkelanjutan. Pembagian pekerjaan menjadi penting karena rantai baterai mencakup material, komponen, sistem kendali, hingga pengujian.

Pasar Bergerak Melampaui Nikel
Kebutuhan memperkuat teknologi semakin relevan ketika komposisi pasar baterai berubah.
International Energy Agency dalam Global EV Outlook 2026 mencatat baterai lithium iron phosphate atau LFP menyumbang lebih dari 55 persen kapasitas baterai kendaraan listrik yang digunakan secara global pada 2025. Setahun sebelumnya, porsinya hampir 50 persen.
LFP menggunakan besi dan fosfat, tanpa nikel. Perkembangannya menunjukkan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik tidak selalu menghasilkan kenaikan kebutuhan nikel dalam proporsi yang sama.
Baca juga: Moratorium Smelter Nikel, Saatnya Menghitung Biaya Hilirisasi
Namun, gambaran global tersebut perlu dibaca bersama perbedaan antarwilayah. Menurut IEA, hampir 80 persen baterai kendaraan listrik yang digunakan di luar China pada 2025 masih memakai kimia yang mengandung nikel.
Peluang nikel tetap ada. Implikasi strategisnya adalah Indonesia perlu membangun kemampuan yang dapat mengikuti kebutuhan beragam pasar, sekaligus mengembangkan keahlian di luar satu jenis material.
Evvy juga menekankan penguasaan teknologi baterai masa depan, termasuk solid-state dan natrium. Arah tersebut membuka ruang diversifikasi riset. Pilihan pengembangannya tetap perlu mempertimbangkan kesiapan teknologi, biaya, dan kebutuhan pengguna.
Aman Dipakai, Jelas Pembelinya
Keamanan menjadi bagian penting dari perjalanan menuju pasar. Evvy menegaskan bahwa baterai yang diproduksi harus menjalani pengujian sesuai standar, termasuk pada battery management system atau BMS.
Sistem ini berperan mengelola operasi baterai. Dalam penjelasan Evvy, pengujiannya diperlukan untuk mencegah risiko akibat kenaikan suhu maupun pengisian daya berlebih.
Ia juga mendorong laboratorium pengujian berstandar internasional. Bagi industri, kemampuan membuktikan keamanan menjadi dasar kepercayaan terhadap produk.
Dari sisi investasi, Bayu Hermawan dari Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery menempatkan kepastian permintaan sebagai pertimbangan penting. Peluang domestik dan ekspor harus didukung kesiapan bahan baku, energi, air, regulasi, insentif, serta pemasok.
“Konsistensi kebijakan diperlukan untuk memberikan kepastian bagi investor dalam menyusun rencana strategis dan menjaga keberlanjutan investasi yang bersifat jangka panjang,” ujarnya dalam publikasi BRIN.
Baca juga: Menuju 100% EBT, Baterai Jadi Pilar Transisi Energi Indonesia
Pandangan tersebut menghubungkan agenda riset dengan keputusan membangun fasilitas. Produksi membutuhkan pembeli yang cukup jelas agar peningkatan kapasitas memiliki dasar ekonomi.
Direktur idBattery, Muhammad Firmansyah, menambahkan tantangan pasar domestik untuk kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Menurutnya, persaingan dengan energi fosil yang masih memperoleh subsidi dapat memengaruhi daya saing biaya dan adopsi penyimpanan energi.
Ia juga mendorong standar nasional mengacu pada standar internasional untuk menyederhanakan pengujian dan perizinan serta mengurangi beban biaya perusahaan rintisan.
Rangkaian pandangan ini memberi ukuran yang lebih konkret bagi hilirisasi baterai. Teknologi tervalidasi, keamanan terbukti, proses produksi layak, dan permintaan tersedia.
Bagi Indonesia, nilai tambah akan semakin kuat ketika kemampuan tersebut tumbuh di dalam negeri. Portofolio paten menyediakan titik berangkat. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan pengetahuan itu berkembang menjadi kemampuan industri yang bertahan ketika teknologi dan pasar berubah. ***
- Foto: Heru Dharma/ Pexels – Penguasaan teknologi dan kemampuan produksi menjadi penentu nilai tambah industri baterai Indonesia.


