COP17 Menguji Suara Masyarakat Adat dalam Diplomasi Indonesia

Perundingan di Armenia memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai keterlibatan masyarakat adat dalam tata kelola biodiversitas. Sikap delegasi Indonesia menjadi sorotan ketika dunia berupaya memperkuat partisipasi kelompok penjaga alam. PERLINDUNGAN keanekaragaman hayati tidak hanya ditentukan oleh luas kawasan konservasi atau besarnya dana internasional. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang memperoleh tempat dalam proses pengambilan keputusan mengenai…

Baca Selengkapnya...

COP17 Bahas Pembagian Manfaat dari Data Genetik Alam

Pemanfaatan data genetik membuka peluang inovasi. Melalui Cali Fund, COP17 membahas bagaimana manfaatnya kembali kepada negara dan masyarakat penjaga biodiversitas. INFORMASI genetik tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme dapat beredar melintasi negara melalui basis data digital. Perusahaan dapat memanfaatkannya untuk riset dan pengembangan produk. Namun, bagaimana manfaat ekonomi itu kembali kepada pihak yang menjaga sumber kekayaan hayatinya?…

Baca Selengkapnya...

Jelang COP17, Apa yang Dipertaruhkan bagi Indonesia?

Dunia akan meninjau kemajuan perlindungan biodiversitas menuju 2030. Bagi Indonesia, kepentingannya menjangkau pendanaan, arah pembangunan, dan hak masyarakat penjaga alam. SEDIKITNYA US$200 miliar atau setara Rp3.610,4 triliun per tahun ditargetkan mengalir untuk perlindungan keanekaragaman hayati dunia pada 2030. Di balik angka itu terdapat kebutuhan konkret, menjaga habitat, memulihkan ekosistem, membiayai pengawasan, dan mendukung masyarakat yang…

Baca Selengkapnya...

Ancaman Monokultur, Keanekaragaman Pangan Dunia di Ujung Tanduk

KEANEKARAGAMAN sumber daya genetik tanaman pangan dan pertanian dunia menghadapi ancaman serius. Laporan terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), yang dirilis pada 24 Maret 2025, menyoroti ketergantungan berlebihan terhadap sembilan jenis tanaman pangan utama yang menopang 60 persen produksi pangan global. Sembilan tanaman tersebut adalah tebu, jagung, beras, gandum, kentang, kedelai, kelapa…

Baca Selengkapnya...

Manusia Musuh Utama Keanekaragaman Hayati di Bumi

KEANEKARAGAMAN hayati di seluruh planet ini mengalami penurunan drastis. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature mengungkap bahwa aktivitas manusia menjadi faktor utama hilangnya berbagai spesies di darat, air tawar, dan laut. Penelitian ini merupakan salah satu sintesis terbesar tentang dampak manusia terhadap biodiversitas, mencakup hampir 100.000 lokasi di seluruh benua. Studi yang dilakukan oleh…

Baca Selengkapnya...

140 Negara di COP16 Sepakati Dana Iklim 200 Miliar Dolar, Solusi atau Janji?

LEBIH dari 140 negara yang berkumpul dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP16) di Roma mencapai kesepakatan penting: mobilisasi dana sebesar 200 miliar dolar AS per tahun hingga 2030 untuk mendukung pendanaan iklim. Keputusan ini membawa angin segar setelah kegagalan perundingan di Kolombia pada Oktober 2024, yang terhambat oleh ketidaksepakatan mengenai mekanisme kontribusi dan pengelolaan dana….

Baca Selengkapnya...