Investasi Keberlanjutan Naik, Alam Menghadapi Ujian Laba

Investasi keberlanjutan meningkat, tetapi perusahaan makin selektif memilih program. Ujiannya, memastikan manfaat finansial berjalan bersama perlindungan alam yang terukur.

DANA keberlanjutan bertambah, tetapi perusahaan semakin selektif menentukan program. Pergeseran ini membawa pertanyaan penting, apakah uang yang lebih banyak akan menghasilkan perlindungan lingkungan yang lebih baik?

Survei Deloitte Global 2026 menemukan 78% responden meningkatkan investasi keberlanjutan dalam setahun terakhir. Namun, rata-rata inisiatif yang dijalankan turun dari 5 menjadi 3,4, dari 12 pilihan tindakan dalam survei. Sebanyak 51% menempatkan manfaat finansial sebagai pertimbangan utama dalam keputusan investasi tersebut.

Angka itu memperlihatkan agenda yang semakin terfokus. Tantangannya adalah memastikan seleksi program tetap memperhitungkan manfaat lingkungan yang membutuhkan waktu panjang untuk terlihat.

Keberlanjutan Memasuki Perhitungan Bisnis

Deloitte Global Sustainability Business Leader, Jennifer Steinmann, menilai fase berikutnya membutuhkan ketepatan dalam menunjukkan kontribusi keberlanjutan terhadap pertumbuhan, ketahanan, dan keunggulan kompetitif. Kemampuan tersebut, menurutnya, membantu eksekutif mengambil keputusan investasi yang menciptakan nilai bisnis jangka panjang.

Pendekatan ini dapat memperkuat posisi keberlanjutan dalam perusahaan. Program dengan tujuan jelas, penanggung jawab, dan ukuran keberhasilan lebih mudah dipertanggungjawabkan kepada direksi.

Baca juga: Putusan Texas Menguji Batas Negara Mengatur Investasi ESG

Namun, ukuran finansial memunculkan persoalan lain. Bagaimana perusahaan menilai perlindungan yang manfaatnya berupa kerugian yang berhasil dicegah? Bagaimana menghitung nilai ekosistem ketika dampak kerusakannya melampaui lokasi dan periode operasi perusahaan?

Pertanyaan tersebut menentukan apakah disiplin investasi memperdalam perubahan atau sekadar mempersempit pilihan.

Keuntungan Belum Membuktikan Pemulihan

Sebanyak 77% responden menilai investasi keberlanjutan memberikan imbal hasil finansial lebih tinggi daripada investasi bisnis lainnya. Angka ini merupakan penilaian eksekutif, bukan hasil audit keuntungan maupun pengukuran dampak ekologis independen.

Perspektif pembanding datang dari Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB atau UNEP, Inger Andersen.

Dalam pidato pada 17 September 2023, Andersen mengingatkan bahwa perusahaan dapat menunjukkan keuntungan ketika modal alam terus terkikis. Ia menyerukan perubahan menuju ekonomi yang memahami perbedaan antara harga dan nilai, serta memperhitungkan kerusakan terhadap alam. Pernyataan tersebut merupakan pandangan umum tentang ekonomi dan lingkungan, bukan tanggapan terhadap survei Deloitte.

Grafis: Daffa Attarikh/ SustainReview

Pandangan Andersen memberi ukuran pembanding. Keberhasilan perusahaan perlu dibaca bersama kondisi lingkungan yang menopang kegiatan ekonominya.

Penghematan biaya merupakan hasil bisnis yang penting. Untuk menilainya sebagai keberhasilan ekologis, dibutuhkan bukti tambahan: apakah emisi absolut turun, pengambilan air berkurang, atau kondisi ekosistem membaik?

Membaca Pergeseran Secara Hati-hati

Survei juga mencatat 18% responden menggambarkan pendekatan keberlanjutannya sebagai transformasi model bisnis, dibandingkan 40% tahun sebelumnya. Perbedaan antarsurvei ini belum membuktikan bahwa perusahaan yang sama membatalkan transformasinya.

Baca juga: Ketika Politik Menabrak ESG, Putusan Texas dan Pelajaran untuk Indonesia

Berkurangnya jumlah program pun tidak otomatis berarti kemunduran. Beberapa inisiatif besar dapat memberikan hasil lebih berarti daripada banyak kegiatan kecil. Penilaian akhirnya membutuhkan informasi tentang skala, sasaran, pelaksanaan, dan dampak.

Di sinilah transparansi menjadi penting. Perusahaan perlu menjelaskan alasan program dipilih, ukuran keberhasilannya, serta konsekuensi lingkungan dari kegiatan yang dihentikan atau ditunda.

Menagih Bukti di Lapangan

Bagi pembaca di Indonesia, laporan ini menawarkan kerangka untuk menguji klaim keberlanjutan perusahaan. Kenaikan anggaran menjadi pintu masuk; pertanyaan berikutnya adalah perubahan apa yang terjadi setelah dana dibelanjakan.

Pengujian dapat diarahkan pada penggunaan energi dan air, emisi, kondisi wilayah pemasok, serta dampak terhadap masyarakat sekitar. Ukurannya perlu memiliki tahun dasar dan batas pengukuran yang jelas agar kemajuan dapat dibandingkan.

Baca juga: Negara Mengubah Rumus, Merusak Alam Kini Berbiaya Tinggi

Survei Deloitte melibatkan 2.156 eksekutif di 29 negara, dilaksanakan KS&R pada Mei-Juni 2026. Temuannya menggambarkan jawaban kelompok responden tersebut, bukan seluruh perusahaan dunia.

Investasi yang meningkat membuka peluang. Nilai akhirnya perlu dibuktikan melalui hasil bisnis yang bertahan dan tekanan terhadap alam yang benar-benar berkurang. ***

  • Foto: Trinh Trần/ Pexels – Aktivitas industri berdampingan dengan lingkungan alam. Kenaikan investasi keberlanjutan perlu diikuti bukti berkurangnya tekanan terhadap lingkungan.
Bagikan