Operasi militer modern menghasilkan emisi karbon besar, sementara rekonstruksi pascaperang berpotensi memperbesar tekanan terhadap target iklim global.
PERDEBATAN global tentang perubahan iklim selama ini lebih banyak menyoroti energi fosil, industri, dan transportasi. Namun satu sumber emisi besar sering luput dari perhatian kebijakan, konflik bersenjata.
Perang modern tidak hanya meninggalkan kerusakan kemanusiaan dan infrastruktur. Tapi juga menghasilkan jejak karbon yang signifikan. Aktivitas militer, logistik tempur, hingga rekonstruksi pascakonflik dapat memicu lonjakan emisi gas rumah kaca dalam skala besar.
Penelitian terbaru tentang konflik Israel–Palestina di Gaza membuka dimensi baru dalam diskursus iklim global. Studi tersebut menunjukkan bahwa operasi militer intensif dalam waktu relatif singkat dapat menghasilkan emisi karbon yang setara dengan emisi tahunan sejumlah negara.
Baca juga: Jejak Karbon Orang Kaya, 10% Picu 65% Pemanasan Global
Riset ini dilakukan oleh kolaborasi peneliti dari University of Energy and Natural Resources (Ghana), Lancaster University, Queen Mary University of London, Climate and Community Project, serta The Conflict and Environment Observatory. Mereka mencoba menghitung jejak karbon dari konflik Gaza pada fase awal perang.
Fokus penelitian berada pada 120 hari pertama konflik, yakni Oktober 2023 hingga Februari 2024. Dalam periode tersebut, aktivitas militer diperkirakan menghasilkan emisi langsung antara 420.265 hingga 652.552 ton CO₂ ekuivalen.
Nilai tengah dari kisaran ini bahkan lebih tinggi dibandingkan emisi tahunan di 36 negara. Temuan ini memperlihatkan bahwa konflik bersenjata modern dapat menjadi sumber emisi yang tidak kecil dalam sistem iklim global.
“Ini menunjukkan jejak karbon signifikan dari konflik bersenjata dan kebutuhan mendesak untuk memperhitungkan emisi karbon selama perang,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut.
Logistik Militer dan Infrastruktur Perang
Sebagian besar emisi berasal dari operasi militer yang intensif energi. Penerbangan kargo militer, pesawat pengintaian, pengeboman udara, hingga pergerakan tank dan kendaraan tempur menjadi kontributor utama.
Selain itu, peluncuran roket, penggunaan generator listrik di wilayah konflik, serta distribusi bantuan kemanusiaan yang bergantung pada logistik berbahan bakar fosil juga memperbesar jejak karbon perang.
Baca juga: Militerisasi AI Global, Apakah Indonesia Siap?
Dimensi lain muncul dari pembangunan infrastruktur militer. Dalam konflik Gaza, pembangunan jaringan terowongan oleh Hamas serta penguatan sistem pertahanan Israel yang dikenal sebagai “Iron Wall” atau Tembok Besi diperkirakan menghasilkan tambahan sekitar 620.010 ton CO₂ ekuivalen.
Temuan ini menunjukkan bahwa emisi konflik tidak hanya berasal dari pertempuran langsung. Infrastruktur militer dan sistem pertahanan juga memiliki dampak karbon yang tidak kecil.

Rekonstruksi, Lonjakan Emisi Pascaperang
Lonjakan emisi terbesar justru diperkirakan terjadi setelah perang berakhir.
Tahap rekonstruksi Gaza diproyeksikan menghasilkan sekitar 53,4 juta ton CO₂ ekuivalen. Angka ini lebih besar dibandingkan emisi tahunan lebih dari 135 negara di dunia.
Sebagai perbandingan, skala emisi tersebut setara dengan emisi tahunan negara seperti Swedia atau Portugal.
Baca juga: AI dalam Rantai Keputusan Militer, Risiko “Kompresi Keputusan” bagi Stabilitas Global
Jika dikonversikan ke konsumsi energi, total emisi dari konflik ini diperkirakan setara dengan pembakaran sekitar 31.000 kiloton batu bara. Jumlah tersebut kira-kira sama dengan pengoperasian 16 pembangkit listrik tenaga batu bara selama satu tahun.
Emisi yang Sulit Tercatat
Para peneliti mengakui bahwa estimasi ini masih memiliki keterbatasan. Sebagian besar perhitungan dilakukan menggunakan data terbuka dari laporan media dan sumber publik.
Data resmi militer hampir tidak tersedia selama konflik berlangsung. Kondisi ini membuat kemungkinan bahwa emisi aktual dapat jauh lebih besar dari estimasi yang ada.
Baca juga: Ironi Private Jet, Emisi Besar dari Segelintir Orang Kaya
Situasi tersebut juga memperlihatkan satu persoalan struktural dalam tata kelola iklim global. Emisi dari aktivitas militer sering tidak tercatat secara sistematis dalam inventaris gas rumah kaca nasional.
Implikasi bagi Kebijakan Iklim
Temuan ini memperluas diskusi tentang hubungan antara keamanan global dan perubahan iklim.
Selama ini, banyak negara tidak memasukkan emisi militer secara rinci dalam pelaporan kebijakan iklim mereka. Padahal konflik bersenjata dapat menghasilkan emisi dalam skala negara.
Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan, potensi lonjakan emisi akibat perang menjadi tantangan tambahan bagi target pengendalian iklim global.
Baca juga: Jejak Karbon AI, Tantangan Baru dalam Keberlanjutan Teknologi
Bagi negara seperti Indonesia yang mendorong agenda transisi energi dan diplomasi iklim, temuan ini menunjukkan bahwa stabilitas geopolitik global juga memiliki implikasi terhadap efektivitas strategi mitigasi emisi.
Tanpa memasukkan dimensi konflik dalam perhitungan emisi, agenda pengendalian perubahan iklim berisiko mengabaikan salah satu sumber emisi yang semakin relevan di era geopolitik yang tidak stabil. ***
- Foto: MizarVision – Citra satelit resolusi tinggi memperlihatkan kerusakan bangunan militer setelah serangan udara di Timur Tengah. Operasi militer modern dan kerusakan infrastruktur menjadi bagian dari jejak karbon konflik bersenjata.
SustainReview.ID – Data untuk Kebijakan, Narasi untuk Perubahan.


