INDONESIA mulai membuka jalan menuju era energi nuklir. Pemerintah menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama dapat beroperasi sekitar 2032 sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi dan penguatan transisi menuju sistem energi rendah karbon.
Namun di balik rencana tersebut, muncul satu tantangan mendasar yang jarang dibahas secara terbuka, yakni ketersediaan sumber daya manusia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan kebutuhan sekitar 200 peneliti baru di bidang nuklir dalam beberapa tahun ke depan. Angka ini dibutuhkan untuk memperkuat kapasitas riset, pengembangan teknologi, hingga mendukung operasional industri nuklir yang mulai dirancang di Indonesia.
Masalahnya, talenta nuklir di Indonesia masih sangat terbatas.
Tanpa ekosistem SDM yang kuat, ambisi membangun PLTN berisiko menghadapi bottleneck pada tahap paling awal: kapasitas manusia.
Energi Nuklir Dimulai dari SDM
Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BRIN, Edy Giri Rachman Putra, menegaskan bahwa penguatan SDM menjadi fondasi penting bagi pengembangan sektor ketenaganukliran nasional.
“Kami memproyeksikan kebutuhan hampir 200 peneliti baru di bidang kenukliran untuk mendukung pengembangan riset dan teknologi ke depan,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Baca juga: Indonesia Pertimbangkan 29 Lokasi PLTN untuk Energi Bersih
Kebutuhan tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari fisika nuklir, teknik reaktor, keselamatan nuklir, hingga manajemen proyek energi nuklir.
Berbeda dengan proyek energi konvensional, pembangunan PLTN membutuhkan ekosistem pengetahuan yang sangat kompleks. Tidak hanya insinyur dan operator, tetapi juga regulator, analis keselamatan, teknisi radiasi, hingga manajemen risiko nuklir.
Artinya, pembangunan infrastruktur nuklir pada dasarnya dimulai dari investasi pada manusia.
Talenta Nuklir Masih Terbatas
BRIN mengakui bahwa menarik minat talenta muda untuk berkarier di bidang nuklir bukan perkara mudah. Bahkan lulusan pendidikan nuklir pun tidak selalu memilih jalur karier sebagai peneliti atau praktisi di sektor tersebut.
“Tantangannya memang tidak mudah mencari orang yang mau berkarier sebagai peneliti nuklir. Bahkan lulusan dari pendidikan nuklir sendiri belum tentu semuanya masuk ke bidang ini,” kata Edy.
Baca juga: Bank Dunia Buka Lagi Pintu Pendanaan Nuklir untuk Negara Berkembang
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Secara global, sektor nuklir juga menghadapi tantangan regenerasi talenta, terutama setelah beberapa dekade energi nuklir mengalami stagnasi di banyak negara.
Kini ketika energi nuklir kembali dipertimbangkan sebagai solusi transisi energi rendah karbon, banyak negara mulai menghadapi kekurangan tenaga ahli.
Link and Match dengan Industri
Selain jumlah talenta yang terbatas, BRIN juga menilai pentingnya memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri nuklir.
Menurut Edy, sektor ini tidak hanya membutuhkan lulusan akademik, tetapi juga tenaga profesional dengan kompetensi teknis yang tersertifikasi.
“Industri nuklir tidak hanya membutuhkan ijazah, tetapi juga sertifikasi kompetensi. Standar kompetensi kerja menjadi penting agar lulusan pendidikan dapat terserap di dunia industri,” ujarnya.
Karena itu BRIN mendorong penyusunan standar kompetensi kerja nasional di bidang nuklir sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ketenaganukliran nasional.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa lulusan perguruan tinggi memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Dukungan Beasiswa dan Pelatihan
Sebagai bagian dari penguatan talenta nuklir, BRIN juga menyiapkan berbagai program peningkatan kapasitas SDM.
Salah satunya melalui kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menyediakan skema beasiswa khusus bagi pengembangan talenta di bidang nuklir.
Selain itu, BRIN juga merancang berbagai program pelatihan profesional, termasuk Nuclear Energy Management School, yang bertujuan memperkuat kapasitas manajemen proyek energi nuklir.
Baca juga: Masa Depan Energi Nuklir, Rekor Baru di Depan Mata
Program tersebut dirancang untuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, perguruan tinggi, hingga industri.
Pendekatan kolaboratif ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan ekosistem SDM nuklir nasional.
Reformasi Manajemen Talenta ASN
Penguatan SDM iptek juga berkaitan dengan reformasi sistem kepegawaian aparatur sipil negara.
Deputi Bidang SDM Aparatur Kementerian PANRB, Aba Subagja, menyebut bahwa jabatan fungsional memiliki peran penting dalam penguatan ekosistem riset dan inovasi di lembaga pemerintah.
Saat ini jumlah ASN di Indonesia mencapai sekitar 6,5 juta orang, dengan sebagian besar berada pada jabatan fungsional.
“Artinya peluang karier ASN sebenarnya lebih terbuka luas di jabatan fungsional, termasuk jabatan fungsional di bidang iptek seperti peneliti dan perekayasa,” kata Aba.
Di BRIN, misalnya, keberadaan peneliti dan perekayasa menjadi tulang punggung organisasi dalam menghasilkan riset dan inovasi.
Baca juga: Pelajaran Perlindungan Ekosistem Laut dari PLTN Hinkley Point C
Pemerintah juga tengah menyusun postur kebutuhan SDM ASN secara lebih sistematis, termasuk untuk bidang-bidang strategis seperti teknologi nuklir.
“Postur ini nanti akan menentukan berapa kebutuhan SDM, misalnya tenaga nuklir. Kalau kebutuhannya seribu, maka akan dikunci dalam grand design pemenuhan SDM selama lima tahun,” ujar Aba.
Selain rekrutmen baru, kebutuhan SDM juga dapat dipenuhi melalui skema mobilitas talenta ASN, yaitu memanfaatkan pegawai dengan kompetensi relevan untuk berpindah ke bidang yang dibutuhkan.
Fondasi bagi Transisi Energi
Bagi Indonesia, pengembangan energi nuklir bukan sekadar proyek teknologi. Tapi, juga merupakan proyek pembangunan kapasitas negara.
Keberhasilan program nuklir tidak hanya ditentukan oleh teknologi reaktor atau investasi infrastruktur, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia yang mampu merancang, mengoperasikan, dan mengawasi sistem tersebut secara aman.
Baca juga: Indonesia Kunci Transisi Energi Asia Tenggara dengan Potensi Terbarukan Melimpah
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tekanan untuk menurunkan emisi karbon, nuklir kembali dipandang sebagai salah satu opsi strategis dalam bauran energi nasional.
Namun tanpa investasi serius pada talenta riset dan teknologi, ambisi menuju PLTN pertama Indonesia pada 2032 berisiko menghadapi hambatan sejak tahap paling awal, ketersediaan manusia yang mampu menjalankannya. ***
- Foto: Ilustrasi/ Pavel Danilyuk/ Pexels – Peneliti bekerja di laboratorium riset teknologi. Penguatan talenta ilmuwan menjadi fondasi penting bagi pengembangan teknologi nuklir dan energi masa depan di Indonesia.


